Jumat, 17 Januari 2020

Akan Aku Pastikan Ia Adalah Orang yang Beruntung

Jodoh.

Tulisan lama di up kembali.

Tidak dipungkiri, usia 20an adalah usia yang mendekati usia ideal seorang perempuan untuk menikah. Karena umur itu adalah umur produktif.

Setiap orang pasti ingin menikah. Hingga menikah dijadikan sebagai target hidup. Ada yang bersiap, ada yang memantapkan hati, ada yang mencari-cari.

Tapi sekarang, adalah saatnya fokus. Fokus pada satu tugas, kemudian beralih ke tugas selanjutnya. Allah Yang mengaturkan untuk kita. Ketika kita telah percaya bahwa Allah yang mengaturkan jodoh untuk kita, maka akan mantap dalam hati kita bahwa yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan kedatangannya.

Akan aku pastikan ia adalah orang yang beruntung, dengan memilikiku nanti.

Laki-laki itu, yang kelak akan menjadi suamiku, akan kupastikan ia adalah orang yang beruntung dengan menjadikanku sebagai istrinya. Spirit memberi. Bukan spirit menuntut. Aku tak punya posisi tawar yang kuat di hadapan Allah untuk menuntut bahwa suamiku harus soleh, suamiku harus lelaki terbaik, karena aku bukanlah siapa-siapa.

Karena spirit menuntut adalah hal yang tak selayaknya, maka sebaliknya, spirit memberi yang harus ditumbuhkan. Aku akan menjadi wanita terbaik bagi suamiku kelak. Aku akan menjadi wanita solihah yang pandai menjaga diri. Aku akan menjadi wanita cerdas. Akan aku pastikan ia adalah lelaki yang beruntung.

Tidak mudah membuat komitmen semacam itu. Berat. Karena itu artinya, kita harus memberanikan diri untuk menjamin setiap detik yang kita lakukan adalah detik terbaik. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Waktu kita senantiasa diisi dengan amalan-amalan terbaik. Waktu kita selalu digunakan untuk menuntaskan amanah dengan detail terbaik, Waktu kita selalu kita isi dengan tilawah dan dzikir mendekatkan diri pada Allah. Tak ada waktu yang tercecer untuk tidur bermalas-malasan, dan mengerjakan sesuatu yang sia-sia. Tak ada waktu yang digunakan untuk membanggakan diri, melainkan digunakan untuk terus menginstropeksi diri.

Karena jika itu tidak dilakukan, maka kita belum bisa menjamin bahwa ia yang akan menjadi suami kita kelak adalah orang yang beruntung.

Cinta itu bukan syarat pernikahan. Maka membesar-besarkan cinta sebelum menikah bukan alasan logis untuk mempersiapkan diri. Justru berkonsentrasi pada perbaikan diri lah yang harus dilakukan. Karena kita belum tentu menikah dengan orang yang kita cintai. Namun yang pasti kelak, bahwa kita harus mencintai orang yang kita nikahi.

Inilah spirit memberi. Menjadikan diri kita sebagai subyek pemberi, bukan sebagai obyek penerima. Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk menjadi soleh, karena hal itu sama halnya dengan menuntut orang tersebut memberikan yang terbaik kepada kita. Alangkah indahnya ketika kita menuntut diri kita sendiri untuk menjadi solih, agar kelak orang yang menjadi jodoh kita menjadi orang yang beruntung karena kesolihan kita.

Yakini saja bahwa Allah memiliki banyak stok orang solih untuk kita, tinggal bagaimana kita bisa menjamin bahwa kita akan menjadikan orang itu beruntung.

Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Jangan ada yang tercecer sia-sia!
Spirit memberi. 

Waktu yang Berkah

Bismillahirrahmanirrahim...


Tulisan lama di up kembali.

Setelah lama tertunda, akhirnya saya berhasil mengumpulkan tekad untuk menulis topik ini, tentang waktu yang berkah.

Topik ini berputar putar di kepala saya semenjak saya mendengar penuturan salah satu teman saya, ketika kami sedang makan malam di salah satu taman kuliner di Jogjakarta.

Saya merasa menemukan hikmah yang besar dari apa yang dia katakan. "Hikmah adalah barang milik seorang beriman yang hilang, dimana saja ia menemukannya, maka pungutlah." Al Hadits. Dia bilang, "Aku takut kalau-kalau waktu yang selama ini aku lewati gag berkah." Lalu ia melanjutkan kalimatnya dengan panjang lebar, namun saya masih terpaku dengan satu kalimat di atas. Saya memutar-mutar sendok di gelas es oyen saya, berpikir keras tentang perkataannya.

Salah satu lanjutan kalimatnya, "Di waktu-waktu yang lalu, aku menghabiskan waktu ku untuk nonton film, dan aku sangat takut waktu-waktu ku itu tidak berkah." Saya bereaksi seolah saya sedang benar-benar mendengarkannya, namun sesungguhnya tangan yang mengaduk isi gelas dengan malas menunjukkan saya sedang berpikir keras.

Sejauh ini saya cenderung acuh tak acuh dengan waktu yang saya lewati. Asalkan saya lewati waktu-waktu saya dengan pekerjaan yang selesai sempurna, bagi saya itu sudah luar biasa. Yang membuat saya khawatir selama ini bukan tentang keberkahan waktu, tapi tentang tidak selesainya pekerjaan saya dengan sempurna. Tapi ternyata, ada hal lain yang jauh lebih besar dibandingkan sempurna atau tidaknya pekerjaan, yaitu masalah keberkahan...

...iya, itu menurutnya.

Teman saya satu ini sudah selesai mengerjakan skripsi, dan dia bilang dia sangat takut waktunya tidak berkah. Padahal saya rasa waktu-waktu nya sudah sangat sempurna ia gunakan untuk menyelesaikan skripsi. Skripsinya selesai artinya dia telah melakukan pekerjaan dengan sempurna, meskipun dia selingi dengan menonton film, tapi nyatanya pekerjaannya selesai, lalu apalagi yang dia khawatirkan? Waktu yang tidak berkah? Bagi saya itu tidak masuk akal...

...mulanya.

Itu mengapa saya berpikir keras. Mengapa dia masih mengkhawatirkan persoal keberkahan? Apa yang dimaksud dengan keberkahan waktu? Mengapa sebegitu penting baginya?

Lalu hari-hari berikutnya, ustad Abdullah Sunono  (salah satu asatidz pondok pesantren mahasiswi Asma Amanina) menyampaikan arti kata berkah. Ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasab Allah atur untuk saya ambil pelajaran. Ustadz bilang, secara bahasa berkah artinya ziyadatul khoir atau bertambahnya kebaikan. Jadi waktu yang berkah adalah waktu dimana di dalam waktu-waktu tersebut, kita bisa menambah kebaikan kebaikan ke dalam diri kita.

Penuturan ustad tersebut sekaligus menjawab pertanyaan saya, kenapa ada banyak orang yang pekerjaannya selesai sempurna, namun hasil akhirnya tidak sama sempurnanya. Misal seorang sarjana yang memiliki nilai cumlaude namun kesulitan mencari kerja. Atau seorang santri yang hafal alqur'an namun masih juga pacaran. Dua kasus yang selama ini menjadi tanda tanya di kepala akhirnya terjawab. Oh ya... jawabannya adalah tentang waktu yang berkah.

Dan akhirnya saya mengerti mengapa teman saya satu ini sangat mengkhawatirkan waktu nya tidak berkah. Kekhawatiran itu ada karena dalam proses pengerjaan skirpsi nya, dia tidak sepenuhnya menggunakan waktu-waktu nya untuk hal-hal yang bermanfaat, hal-hal yang dapat menambah kebaikan, dia masih menggunakan beberapa waktunya untuk menonton film. Sebegitu khawatirnya kah dia? 

Tentang sarjana yang kesulitan mencari kerja, dan santri yang masih pacaran, barangkali penyebabnya sama, adalah tidak berkahnya waktu selama menjadi mahasiswa dan selama menjadi santri. Barangkali dalam waktu-waktu menjadi mahasiswa dan menjadi santri, ada hal-hal yang terlupa. Misal, santri hafal alquran namun masih pacaran, barangkali  dalam waktu waktu yang digunakan dalam menghafalkan alquran kurang memenuhi adab. Artinya, selama ia menghafal alquran mungkin hafalannya bertambah, namun tidak diikuti bertambahnya kebaikan dalam dirinya, karena adab-adab dalam menghafalnya tidak dipenuhi. Seperti tergesa-gesa (tidak tenang) dalam membaca alquran, tidak menundukkan pandangan (melakukan maksiat mata) di keseharian, tidak menyertakan Allah dalam setiap aktivitasnya, atau mengenai adab-adab yang lainnya.

Bertambahnya kebaikan.....



Allah menyukai pemuda yang tidak tergesa-gesa (urusannya tertata). "Sesungguhnya ada du hal dalam dirimu yang Allah cintai, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa.Hadits riwayat Bukhari.

Saya mencoba mereview waktu-waktu saya yang sudah berlalu. Merinding mengingatnya. Banyak waktu yang saya kira sudah saya lewati dengan efektif dan efisien, namun sekarang saya berpikir, apakah itu berkah? Apakah bertambah kebaikan dalam waktu-waktu itu? Pantas saja saya merasakan ada yang kering selama ini. Pekerjaan saya selesai, namun kering, mungkin karena tidak berkah, tidak bertambah kebaikan.

Dalam forum yang berbeda, ustad Deden Anjar (pengasuh pondok pesantren mahasiswi Asma Amanina) menyampaikan lagi, bahwa salah satu usaha agar waktu kita berkah adalah menyertakan Allah dalam setiap aktivitas kita kapan saja, dan menyerahkan segala urusan kita kepada Nya. Bagaimana caranya? Ustad menyampaikan, caranya adalah dengan berdo'a dalam setiap akan memulai sebuah pekerjaan. Dan berdzikir (mengingat Allah) selama pekerjaan itu berlangsung. Sederhana.

Hal yang beliau contohkan adalah ketika kita akan masuk ke kamar mandi, sebelum masuk kita membaca do'a yang kurang lebih bermakna agar dihindarkan dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan. Jika kita sering mendapatkan ide-ide atau gagasan ketika di kamar mandi, dan kita lupa membaca doa sebelum masuk, bisa jadi yang membisikkan ide-ide tersebut adalah syaitan, itu karena kita tidak memasrahkan diri kepada Allah ketika hendak masuk ke kamar mandi, padahal yang mampu melindungi kita dari gangguan syaitan hanyalah Allah.Gagasan dan ide selesai ketika di kamar mandi, namun apakah gagasan itu berkah? Belum tentu.

Ketika hendak tidur berdoa
ketika akan makan berdoa
ketika akan bercermin berdoa,
dengan berdoa artinya kita selalu mengingat Allah dalam setiap aktivitas kita. Jika kita tidak berdoa barangkali itu adalah bentuk lupa kita pada Allah, kita melupakan Allah dalam aktivitas kita, itu adalah hal yang mengerikan. Maka pantas saja jika waktu-waktu yang kita lewati tidak menambah kebaikan dalam diri kita, karena yang mampu menambahkan kebaikan ke dalam diri kita hanya Allah, dan saat itu kita lupa pada Allah.

Sekarang saya mulai paham dengan konsep waktu yang berkah. Hingga sampai pada titik pemahaman, bahwa menata waktu dan aktivitas agar tidak tergesa-gesa (agar teratur) adalah hal yang sangat penting. Dalam ketergesaan kita, kita berpotensi lebih sering lupa pada Allah. Dan ketika kita melakukan sesuatu dengan cekatan namun serampangan (baca: tergesa) lalu hasil yang kita dapat bagus, wajar jika kita menjadi sombong, kita menganggap jika hasil yang bagus itu adalah hasil jerih payah kita, padahal semua itu terjadi atas izin Allah. Wajar jika kita mudah sombong, karena dalam ketergesaan kita, kita lupa berdoa, kita lupa menyertakan Allah dalam aktivitas kita, kita lupa pada Allah.

Jika kita telah berhasil untuk tidak tergesa, maka yang selanjutnya harus dipikirkan adalah bagaimana caranya waktu kita tidak terbuang sia-sia. Yaitu dengan mengingat Allah sebanyak-banyaknya, berdzikir. Dan berdzikir tidak bisa dilakukan oleh orang yang tergesa.

Maka inti berdoa adalah mengingat Allah. Dari mengingat Allah kapan saja, waktu kita akan menjadi waktu yang berkah. Karena tidak ada orang yang sedang teringat dengan Allah ia menonton film terlebih film yang tidak mengandung faedah, karena ketika ia ingat dengan Allah, dan ia di depan sebuah film, ia akan lebih memilih menghentikan menonton film lalu mengalihkan ke aktivitas lain yang lebih bermanfaat.

Maka inti berdoa adalah mengingat Allah. Dari mengingat Allah kapan saja, waktu kita akan menjadi waktu yang berkah, waktu dimana kita bisa memaksimalkan kebaikan datang kepada kita.

"Demi Masa sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal shaleh." Q.S. Al 'asr. Maka waktu-waktu kita ke depan harus menjadi waktu-waktu yang produktif lagi berkah. Kita harus mengatur segala urusan dan aktivitas kita dengan sedemikian rupa. Kita harus semangat menjemput kebaikan, kita harus bersemangat menyertakan Allah dalam setiap kegiatan.

Terimakasih Uka,
best regards,

Your friend, Ihtisyamah.

Selasa, 05 November 2019

Hai Senja

Hai, senja. Perkenalkan, namaku Diana.

Maaf jarang menyapamu, karena kukira selama ini sudah terlalu banyak perempuan yang menyapamu, terlebih lewat tulisan. Mereka terlalu melankolis ketika menyebut namamu. Mereka selalu membawa perasaan mereka menjadi sewarna dengan warnamu, senja. Tapi ternyata, sampai pada titik ini, aku menyerah dan mengakui, ternyata aku juga perempuan.

Kenapa aku memilihmu?

Aku dengar kabar bahwa terdapat pergantian shift malaikat di dua waktu dalam satu hari, salah satunya adalah setelah adzan asar berkumandang. Para malaikat yang telah mencatat amal manusia-manusia sepertiku selama seharian akan membawa catatan tersebut ke langit. Melaporkan kepada Tuhannya.

Itu mengapa pesan kedua orangtuaku agar aku tak tidur setelah waktu asar, karena kau akan tiba, senja.Pasti orang tuaku menginginkan agar aku melakukan amalan-amalan terbaik di waktumu. Mengiring kepergian para Malaikat ke hadapan Tuhannya. Malaikat mungkin sedang bergegas mengepak barang-barang, terutama catatan-catatan amalku saat kau tiba. Mereka pasti mengepak nya menjadi pak yang rapi, karena mereka akan menyodorkan pak tersebut kepada Rabb.

Tunggu dulu senja.

Senja, aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Betapa sedihnya ketika kau datang dan amalan sudah dicatat. Tak bisakah kau menahan warnamu agar para malaikat tak tergesa pergi kepada Tuhannya? Aku ingin memperbaiki sedikit (ah tidak, itu terlalu banyak) catatan hari ini. Beri aku waktu, untuk memperbaikinya, tolong, jangan berubah warna dulu senja, pinta langit pertahankan birunya, jangan tergesa memerah. Tolong pinta matahari tak tergesa turun. Apa jadinya jika kalian tergesa. Mari duduk senja, duduk di sampingku, jangan tergesa. Ajak pula matahari, langit, dan para malaikat itu duduk di sampingmu. Kubuatkan teh hangat di meja bundar depan rumahku, tempatku tergagap menyesali hariku.

Ya senja, ini persoal adikku.

Ya, aku membuat kesalahan padanya. Dan aku membuat kesalahan di kala waktu dhuhur, senja. waktu nya begitu sedikit dan singkat untuk memperbaiki semua kesalahan itu. Ini bukan perkara sepele. Kau tau senja? Sudah pernah kubilang bukan? harta terbaik seorang kakak hanya satu, yaitu adiknya. Senja tolong tahan para malaikat itu, Senja(!)

Kini aku mengerti mengapa ibu Malinkundang sangat bersedih lama berpisah dengannya. Kini aku mengerti betapa rindu Ibahim pada Ismail yang telah lama dipisahkan. Aku semakin mengerti mengapa Aisyah begitu cemburu ketika Muhammad pergi meski sebentar dari sampingnya. Semuanya menunjukkan ekspresi ketakutan untuk kehilangan. Bukan apa, ini persoal waktu, senja.

Tentang waktu. Telah lama bercengkerama bersama, telah banyak waktu dilalui bersama, sudah bukan waktu yang bisa dibilang sebentar, kita bertegur sapa.Banyak perjuangan diusung bersama, beban dibagi bersama. Senyum tulus terbersit di tengah-tengahnya, bukankah konyol jika semua berakhir karena satu khilafku saja? Lebih konyol adalah tentang rasa takutku kehilangan. Mengapa aku harus melakukan kesalahan? Mengapa harus ada kekhilafan?

Pantas ketika ada banyak orang menginginkan waktu nya kembali. Aku sedang mengalami hal yang sama, ingin kuulang waktu sebelum kulakukan khilafku. Tak sampai hati aku membayangkan kebersamaan kami selama ini. Tak sampai pikir konyolnya kulakukan kesalahan. Aku ingin pergi jauh saja agar tak kembali teringat semuanya. Kuingin buat gua yang bisa kugunakan sebagai tempatku sembunyi. Konyol.

Kutahan suara dari tenggorokan, kutahan air dengan kelopak mata, kutahan gemetar dengan tanganku yang kulingkarkan di badan, gemetar tak ingin kehilangan. Kucoba tenangkan.

Kini, sedih, rindu, cemburu, takut, semuanya sedang kurasakan dalam satu waktu.

Tak apa, senja.

Aku tahu kau hanya tunduk pada perintah Tuhanmu. Aku tak bisa menahanmu lebih lama. Sudah saatnya matahari melakukan tugasnya. Sudah saatnya langit bekerjasama dengannya. Datang dan segera pergilah senja.

Semua amal telah tercatat, tinggal do'a yang bisa kusemat.
Kusampaikan do'a pada Tuhanmu, agar mengampuniku. Kusampaikan pada Nya, bahwa aku sangat menyesal. Meskipun penyesalanku mungkin sekali tak berguna, karena luka pasti berbekas. Namun kata salah satu asatidzah, "Kebaikan mampu menghapuskan keburukan", ya, Tuhanmu memberikan harapan. Akan kupergunakan dengan sebaik-baik perlakuan.

Terimakasih senja,
ternyata aku perempuan normal seperti kebanyakan.


A not verified old sister,
Diana.


Kamis, 11 Juli 2019

Mengakar Kuat Menjulang Tinggi (Wanita)

Menjadi seorang wanita perlu memiliki prinsip. Tak hanya laki-laki.

Menjadi akar yang kuat berarti berilmu mendalam, mengakar hingga dalam. Bagaimanapun seorang putera brilian berhak dilahirkan dari wanita cerdas. Hingga seharusnya itu menjadi cita-cita bersama seluruh wanita. Kita pasti bercita-cita melahirkan putera yang brilian.


Tak baik jika kita kuat sendiri, cerdas sendiri, solih sendiri, tanpa 'melahirkan generasi'. Baik laki-laki maupun perempuan dapat melahirkan (menciptakan) generasi penerus.

Namun melahirkan di sana adalah ungkapan yang menggunakan tanda petik. Sedangkan seorang perempuan memiliki keistimewaan, ia benar-benar diberi kemampuan melahirkan. Tidak berhenti sampai melahirkan, proses mendidik putera yang dilahirkan lah yang mengharuskan kita menjadi perempuan yang cerdas.

Cerdas bukan masalah hasil akhir. Justru kondisi kita sekaranglah yang harus menjadi perhatian. Perempuan yang belum bersuami dan belum melahirkan generasi sudah sepantasnya melakukan perbaikan diri, meng upgrade kemampuan, menjadi perempuan cerdas, cerdas intelektual dan cerdas sosial, serta paling penting adalah cerdas  spiritual.

Menjulang tinggi, berarti sikap yang dimiliki adalah gambaran ilmu yang dimilikinya, akarnya. Batang yang besar dan tinggi sudah pasti memiliki akar yang kuat dan menghujam. Tak ada satupun pohon yang berbatang besar dan menjulang tinggi tanpa akar yang kuat dan dalam.


Pohon yang kuat memiliki akar yang kuat, maka batang pohon itu akan berdiri kokoh dalam keanggunan.

Sekali lagi, karena putera kita kelak berhak dilahirkan dari wanita cerdas dan solih. Dan yakini saja bahwa wanita yang cerdas dan solih pun berhak melahirkan putera yang brilian, InsyaAllah.

Terus mengakar kuat, biar batang melakukan tugasnya sendiri, secara alami menjulang tinggi. Tak perlu banyak risaukan batang. Mari kuatkan akar.

Fastabiqul khoirot!

Selasa, 23 April 2019

Berdesakan dengan Para Nenek

Bismillahirrahmanirrahim,

setelah sekian lama menahan cerita, dan akhirnya banyak cerita-cerita yang tidak tertahan, saya pikir ini adalah waktu yang tepat untuk saya menuliskannya, meramunya menjadi tulisan yang sedap, dan bisa mengenyangkan pembacanya.

Ya, cerita ini tentang cerita para Nenek. Allah memberikan pelajaran bertubi-tubi, dan saya merasa tidak peka dengan pelajaran tersebut. Akhirnya disentil berkali-kali, barulah saya peka dengan sentilan dari Allah yang satu ini.

Kita yang masih muda sangat tidak pantas jika harus berdesakkan dengan para nenek. Para nenek yang cara jalannya sudah "thuyuk-thuyuk" (membungkuk-bungkuk dan pelan) sangat rajin menemui Allah dengan semangat yang membara, dan memalukan bagi kita jika kita berdesakan dengan mereka dalam menuju Allah, apalagi jika harus berjalan di belakang mereka pasti hal itu jauh lebih memalukan bagi kita.

Hari dimana semua orang dikumpulkan di sebuah padang yang sangat lebar, lalu kita akan melihat dan menyadari bahwa kita sedang berdesakan dengan para nenek yang kita lihat di dunia dulu, atau lebih buruk lagi kita berada di belakang para nenek, betapa kita sangat terpuruk saat itu, betapa kita akan sangat malu pada Allah. "Kenapa kamu bisa berdesakkan dengan para nenek? bahkan kamu berada di barisan belakang para nenek?"

Kita sebagai perempuan muda masih punya banyak tenaga, masih punya banyak waktu, masih punya banyak potensi untuk melakukan amalan-amalan solih. Tapi justru seringkali amalan solih kita sama kuantitas dan kualitasnya dengan amalan para nenek, atau bahkan jauh lebih buruk dan lebih sedikit dari amalan para nenek. Seharusnya kita berlari jauh lebih depan daripada mereka. Tapi nyatanya mereka jauh lebih rajin datang ke masjid untuk solat, mereka sangat rajin mengaji qur'an meski terbata, dan mereka selalu berdo'a melebihi doa-doa kita.

Ini adalah tentang amalan ibadah kita. Kita akan berdesakkan dengan siapa kelak? berdesakkan dengan sesama muda, atau berdesakkan dengan para nenek yang kita lihat di dunia?

Nenek 1.

Pengalaman ini adalah pengalaman spiritual pertama kali yang saya alami bersama para nenek. Suatu hari saya dan teman-teman BEM FT 2013 berkunjung ke kota Apel, Malang. Kami beristirahat di saat Subuh di Masjid Besar Batu, dekat dengan taman kota. Kebetulan kami sampai kurang lebih jam 3 pagi, waktu itu gerbang masjid belum dibuka, baru setelah mendekati azan subuh sekitar jam 4, gerbang mulai dibuka. Keheranan demi keheranan terkumpul tidak sengaja. Saya melihat satu nenek telah mengenakan mukena putih memasuki masjid, dengan jalannya yang sangat pelan, padahal azan subuh belum terdengar, tapi si nenek sudah sampai di masjid mendahului jama'ah lainnya. Keheranan selanjutnya adalah: ternyata ia bukanlah nenek yang pertama kali datang ke masjid. Sudah ada beberapa nenek duduk dengan menggoyangkan badannya menikmati dzikir ke kanan dan ke kiri di dalam masjid, saya bertanya dalam hati, "Hey? ini baru jam berapa?" dengan wajah bengong dan keheranan. Cuaca nya saaangat dingin saat itu. Lalu keheranan-keheranan selanjutnya terus bermunculan. Ada nenek yang menggunakan kursi, ketika sampai di masjid ia tak duduk seperti nenek lain, ia duduk di kursi, pikirku "Nenek ini kenapa repot-repot datang ke masjid?"

Di dalam masjid tersebut saya dihujani banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mengusik kenyamanan. Lalu saya menangis pada satu titik. Titik kondisi dimana saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bahwa barisan para nenek dengan mukena yang mayoritas putih ada lebih dari 3 barisan, nenek yang datang ke masjid sebelum iqomah dilantunkan jumlahnya saaaangat banyak. Ini masjid besar, satu shofnya bahkan memuat banyak orang, dan sungguh pemandangan yang luar biasa ada di hadapan saya. Saya menangis, merinding, tersedak, tak ada teman-teman BEM yang melihatnya, karena memang mereka belum sampai ke dalam masjid, saya sengaja mendahului mereka, dan saya memilih duduk di bagian belakang masjid. Hal yang membuat saya jaaaauh lebih merinding adalah saat setiap ada nenek yang datang, ia akan menyalami beberapa nenek di samping kanan kirinya, namun bukan dengan salaman biasa (tangan dengan tangan), namun para nenek saling bersalaman dengan mencium pipi kanan dan kiri, saling memegang pipi, saling merangkul, dan saling melemparkan pandangan penuh kesyahduan. Efek slow motion yang menjadi fitrah nya para nenek membuat suasana semakin tak terdefinisikan. Seperti banyak kelopak bunga putih yang berguguran di depan pandangan.

Di mata mereka terlihat dan terpancar kasih sayang satu sama lain, sambil mencium pipi kanan dan kiri mereka mengucap salam, lengkap dengan gerakan serba hati-hati khas para nenek. Anggun, bagi saya itu sangat anggun. Wajah mereka cerah luar biasa. Saya menangis. Saya merinding. Saya sesenggukan melihat satu persatu nenek datang, melihat mereka saling bersalaman, mendengar mereka saling melempar salam....suasana di dalam masjid menjadi suasana syahdu yang tidak pernah saya temukan di tempat lain. Lama dan lama akhirnya suasana menjadi jauh lebih ramai, karena nenek-nenek yang datang semakin banyak. Suara dzikir dan bacaan alqur'an terbata khas nenek-nenek seperti dengung lebah di sana.

Ya Allah... Ya Allah... Ya Allah... pertunjukkan luar biasa baru saja saya saksikan. Saya seperti melihat para bidadari, barangkali perilaku bidadari surga sama dengan perilaku para nenek ini. Mereka rajin beribadah, mereka mengasihi satu sama lain. Mereka berlomba-lomba siapa lebih dulu melakukan kebaikan, tetap dalam keanggunan. Mereka tak dikalahkan oleh dingin yang menyerang, seolah ada yang membuat tubuh mereka menjadi hangat kapan saja, yaitu hati mereka. Biarpun fisik mereka sangat lemah, tapi hati mereka sangat kuat. Kita tahu sendiri kota Malang adalah kota yang sangat dingin. Tapi luar biasa bukan para Nenek ini? Allahu...Allahu...

Setelah iqomah dikumandangkan, saya mencoba mendekat, benar-benar ingin berdesak-desakkan dengan para Nenek. Dengan wajah masih sangat kentara dengan bekas tangis dan nafas yang terdengar jelas, saya merapatkan barisan bersama mereka. Lalu salah satu nenek menjulurkan sajadahnya untuk dibagi dengan saya. Ya Allah itu adalah solat subuh paling indah dalam hidup saya. Setelah solat, saya ikut bersalaman dengan para nenek. Mereka ramah, belum pernah saya dapati yang seperti ini sebelumnya.

Sampai keluar masjid pun saya masih merinding. Selain jamaah nenek, jamaah kakek juga banyak, bahkan ketika keluar dari pintu masjid, saya berpapasan dengan kakek yang terkena struk dan separuh badannya tidak bisa digerakkan normal, sehingga ia agak kesulitan untuk berjalan.

Nenek 2.

Di saat saya menepati jadwal les privat matematika, saya dibukakan pintu oleh si kembar. Begitu pintu terbuka, ternyata saya melihat di ruangan sebelah nenek masih menggunakan mukena dan sedang membaca mushaf besar nya yang ia taruh di pangkuannya. Saya kaget melihat hal tersebut. Bukan, bukan meragukan si nenek, melainkan saya heran. Keluarga si kembar ini adalah keluarga yang bisa dibilang "tidak islami". Ibunda si kembar bekerja di semacam EO konser musik dan sering pulang malam karena tuntutan pekerjaannya. Dari sana saya menyimpulkan bahwa keluarga ini biasa saja. Tapi ternyata sang nenek sangat perhatian dengan masalah akhiratnya, dengan ia membaca mushaf alqur'an di malam hari semacam ini, saya yakin hal itu timbul sebagai sebuah kebiasaan, bukan hal yang dilakukan kadang-kadang. Pasti nenek ini sudah terbiasa sebelumnya.

Nenek 3.

Saya bertemu dengan nenek yang berprofesi sebagai polisi, ia sangat disiplin melaksanakan solat berjamaah dan solat duha. Ia selalu menyempatkan diri mampir ke masjid untuk solat ketika bepergian kemana saja. Bukan hanya solatnya yang disiplin, namun juga puasa sunnah nya. Tidak hanya puasa sunnahnya, bahkan ia selalu menerapkan prinsip hidup positif, bahwa segala sesuatu harus dipandang positif, karena yakin bahwa Allah sudah mengaturnya. Bahkan nenek ini selalu mengajak anak-anaknya untuk solat sunnah.

Ketika terdengar adzan isya, ia langsung pamit sebentar untuk melaksanakan solat isya di rumah. Ia menceritakan banyak hal tentang hidupnya. Ia sangat mengutamakan Allah dalam tiap kehidupannya. Aku hanya bisa terdiam mendengar ceritanya, tersenyum dan merefleksikan cerita itu ke dalam diri sendiri. Rasanya jaaauuuh sekali amalan-amalan yang saya lakukan daripada yang nenek ini lakukan. Kali ini bahkan saya tidak bisa berdesakkan bersamanya, karena nyatanya nenek ini telah satu baris lebih depan dari saya, meninggalkan saya di belakangnya. Ia sangat rajin beribadah dan selalu berpikir positif.

...

Semua cerita nenek-nenek itu membuat saya trauma, dan mempertanyakan, "Untuk apa tenaga saya selama ini?" Malu rasanya harus berdesakkan dengan para nenek. Seharusnya kita (dan saya khususnya) berada di depan, berlari lebih kencang dari para nenek, berlomba lebih baik lagi melakukan amalan-amalan solih, dengan segala yang Allah berikan sebagai kelebihan para muda.

Allah yang memasukkan siang ke dalam malam, dan memasukkan malam ke dalam siang. Allah sangat mudah mengatur segala sesuatu. Menjadikan sesuatu itu menjadi sangat mudah, atau menjadikan sesuatu menjadi sangat susah. Allah yang memudahkan, dan Allah yang menyulitkan. Allah yang mengatur segala sesuatu, maka kita layak untuk terus merayu dan berusaha dekat dengan Nya, lebih dekat-dan terus dekat, lebih dekat dari para nenek. Kita harus cemburu dengan para nenek. :")

Kamis, 17 Januari 2019

Aku dan Asrama

Bismillahirrahmanirrahim.

Tidak hentinya puji dan syukur mengalir dari dalam diri atas segala sesuatu yang telah berperan dalam hidup ini, orang-orangnya, cinta yang dibawa mereka, ukhuwah yang sulit terlupa. Hari ini, terimakasih banyak Ya Allah, Engkau mengaruniakan banyak sekali hal. Halaqah baru, suasana baru, semester baru, cinta nya masih cinta yang lama, namun bodohku saja baru bisa merasakannya. Solawat dan salam semoga tersampaikan kepada Nabi Muhammad SAW guru tersabar dalam mengajarkan ukhuwah.

Ini tentang aku dan asrama.

Jika aku ditanya, dimana titik balik hidupmu terjadi? Ketika semua fikiranmu, ragamu, semuanya jungkir balik dari keadaan mulanya. Ketika semuanya berputar hampir 180 derajad. Maka aku akan menjawab, ketika aku masuk asrama atau lebih sakral disebut sebagai pomdok pesantren.

Dulu, awal mula aku mengenal pondok pesantren adalah bermodal dengar-dengar samar dan baca-baca majalah, koran, dan buku-buku cerita, dan tidak kalah seru aku suka curi-curi dengar dari tetangga. Seluruh pesantren dalam imej ku adalah buruk. Seluruh pesantren adalah biasa saja, tiada yang istimewa. Kalaupun ada yang istimewa seperti yang diceritakan ahmad fuadi dalam novelnya, itu hanya pelengkap-lengkap cerita, bukan cerita utamanya. Cerita utama tentang pesantren adalah tempat yang menyeramkan dan banyak aturan, sudah begitu santri-santri yang keluar dari pondok pesantren biasa-biasa saja, bahkan dengar-dengar masih pacaran juga, lalu apa bagusnya pesantren? Ilmu agamanya banyak, penerapannya nol besar. Begitu pandangku tentang asrama pondok pesantren, sebelum akhirnya aku sangat tertarik dengan pondok pesantren setelah membaca sebuah buku cerpen kecil. Buku kecil tersebut menceritakan tentang rasa suka seorang laki-laki terhadap seorang perempuan, namun perempuan ini sangat sulit dijangkau, ia tinggal di pondok pesantren, wajahnya cantik, teduh, sopan, dan jika berjalan selalu menunduk, maka untuk melihat matanya sangat susah baginya. Aku suka dengan karakter tokoh perempuan dalam cerita tersebut. Jadi begitu pesantren perempuan? Lumayan keren juga. Sepertinya aku harus berterimakasih pada penulis buku tersebut nantinya.

Rabu, 12 Oktober 2016

Dag dig dug Menunggu

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillah Depok hari ini mendung gerimis kecil-kecil. Hampir 3 bulan sudah, predikat istri melekat. Pengalaman datang menghampiri satu persatu. Entah pahit entah manis, mereka bertamu. Tiap hari pasti ada tamu.

Nah, berbicara soal predikat IRT, ada satu pekerjaan seni yang sangat menarik untuk dilakukan oleh Istri Rumah Tangga, yaitu menunggu. Seni menunggu ini luar biasa rasanya. Ketika kita menyalami dan mencium tangan suami sebelum berangkat bekerja, detik menunggu berjalan setelah suami menjauh dan membalikkan badan. Satu dua tiga empat lima enam. Waktu menunggu dimulai.

Rasanya ketika sudah mendekati jam makan siang dan suami menjanjikan akan pulang ke rumah, detik menunggu mengencang dengan sendiri nya. Perasaan senang, gelisah, khawatir karna makan siang belum siap, atau dandanan belum rapi, derap jantung yang berbunyi, mata dan telinga yang selalu awas ke arah pintu, adalah bentuk seni menunggu.

Menarik, sangat menarik.

Saat kau melepasnya dari pintu rumah dengan rapi di pagi hari, lalu kau lakukan banyak pekerjaan di rumah dan kau harus kembali rapi kapanpun saat ia pulang, itu adalah saat saat yang sangat menarik dan menantang.

Rasa dag dig dug.

Setiap bunyi kendaraan bermotor lewat depan rumah telinga segera bersiap. Dag dig dug apakah itu suara motor suami? Ah, hingga kita hafal mana detail suara motor tukan siomay, suara motir tukang sayur, suara motor ibu-ibu yang menjemput anaknya dari sekolah, dan suara motor yang sekedar lewat. Hingga kita pun hafal ini motor merk apa, hanya dari suara nya. Dag dig dug rasanya, memainkan adegan satu ini, menunggu.

Terimakasih telah menerimaku apa adanya,
Istri yang masih sangat perlu belajar, banyak dan banyak hal lagi. Memerankan peran taat pun ternyata tak semudah didengar di telinga. Aku belajar. Harus banyak belajar.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Welcome to My (first) Castle

Bismillah,
Alhamdulillah, puji syukur setinggi -tinggi nya untuk Allah, yang telah menciptakan pagi sebagai gerbang rizki, dan menciptakan malam sebagai selimut tempat kita beristirahat.

Selamat datang di istana (pertama) saya. Seperti seorang gadis yang dilamar oleh seorang pangeran, maka gadis itu menjadi seorang putri. Seorang putri tak lengkap tanpa istana, maka pangeran membangunkannya sebuah istana. Ya :) inilah istana (pertama) saya.

Sebuah kontrakan petak tiga. Di Depok, dekat Jakarta. Ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Menyenangkan punya istana sendiri :D Meskipun ini adalah sebuah kontrakan (red: istana pinjaman), tapi bagi saya ini adalah istana saya, istana kami. Tempat peradaban baru akan dibangun, akan lahir putri-putri dan pangeran-pangeran kecil di istana kami (insyaAllah, mohon doanya). Setelahnya mungkin saya tak lagi bergelar putri, melainkan berganti menjadi ratu. Sang Ratu dan Sang Raja akan hidup berdampingan selama-lamanya membangun tatanan kerajaan penuh bahagia.

Istana pinjaman ini adalah istana yang nyaman. Hanya sebentar mungkin Ratu dan Raja tinggal di sini. Ratu dan Raja akan memanfaatkan waktu untuk sibuk merancang isi istana, jadi meskipun istana mereka akan berpindah, isinya tetap sama: hangat, bahagia, penuh rahmat. Di ujung menara istana, Ratu dan Raja membangun portal hubung ke kerajaan tertinggi. Kerajaan pemilik Arsy. Mereka membangunnya dengan do'a (do'a yang harap-harap cemas), dengan dzikir, sedekah, pemuliaan terhadap orang tua. Doakan, semoga istiqomah, dan bertambah.


Jumat, 15 April 2016

Baju Zhirah dan Gaun Pengantin

Hari ini, adalah hari yang di luar rencana. Aku sudah menyusun sedemikian rupa rencana untuk satu hari, ternyata berrubah semua. Musibah. Tak di sangka memang, aku harus mengganti keseluruhan rencana.

Dari pagi perjuangan sudah dimulai, memotong jam ujian tahfidz, yang seharusnya selesai 06.15 aku memutuskan pergi jam 06.00. Penting. Tapi ternyata, Allah berkehendak lain, acaranya batal tanpa konfirmasi. Hemmm. Baiklah.

Asrama sudah menanti. Tilawah yang terbengkalai, hafalan yang tak kunjung bertambah dan termurojaah, skripsi yang belum tergarap, persiapan penelitian yang belum apa-apa, belum lagi mentoring dan acara technical meeting sekolah kepemimpinan yang kugawangi. Penuh sudah pikiran. Baju zhirah kupakai sudah, siap perang! pikirku.

Lakukan setiap pekerjaan dengan sempurna, tak ada waktu untuk membuat kesalahan. Aku benar-benar siap perang. Heroik, seolah baju zhirah besi sudah menempel lekat di badan. Perjuangan dimulai.

Ternyata di tengah perjalanan aku menyelesaikan keseluruhan pekerjaan, ada kabar peserta training blm mencapai angka 15, padahal technical meeting sudah akan dilaksanakan nanti sore. Hal yang biasa, tapi bukan untuk didiamkan saja. Harus melakukan sesuatu. Lalu ditambah lagi kabar, bahwa ada sebuah tabrakan agenda di kampus, dan ini tidak bisa dibiarkan terjadi, apalagi terulang. Panas. Benar-benar panas suasananya. Bagaimana bisa terjadi tabrakan agenda di tanggal training kepemimpinan ini dilaksanakan.

Tiba-tiba meleleh air mata, berat kepala, dan tidak enak suasana hati. Aku coba tenangkan, aku coba reda kan, aku coba stabilkan. Butuh waktu yang tidak sedikit untuk memperbaiki kesemuanya. Aku lemas di dekap baju zhirah ku. Perangku terhenti. Berganti ke medan perang yang lain. Baju zhirah masih melekat, dan lanjutkan perjuangan.

Di saat semua sedang panas, ada satu pesan masuk, "Ihti, Ummi buatkan gaun pengantin ya, mau warna hijau muda, atau biru muda, atau putih?" Aku jawab singkat, "Biru muda aja Mi...." Satu pesan sejuk di antara banyak pesan yang panas. Selesai dijawab, seolah sedang berganti mengenakan gaun pengantin, tapi seketika juga berganti kembali menjadi baju Zhirah. Perjuangan belum selesai. 

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons