Jumat, 17 Januari 2020

Akan Aku Pastikan Ia Adalah Orang yang Beruntung

Jodoh.

Tulisan lama di up kembali.

Tidak dipungkiri, usia 20an adalah usia yang mendekati usia ideal seorang perempuan untuk menikah. Karena umur itu adalah umur produktif.

Setiap orang pasti ingin menikah. Hingga menikah dijadikan sebagai target hidup. Ada yang bersiap, ada yang memantapkan hati, ada yang mencari-cari.

Tapi sekarang, adalah saatnya fokus. Fokus pada satu tugas, kemudian beralih ke tugas selanjutnya. Allah Yang mengaturkan untuk kita. Ketika kita telah percaya bahwa Allah yang mengaturkan jodoh untuk kita, maka akan mantap dalam hati kita bahwa yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan kedatangannya.

Akan aku pastikan ia adalah orang yang beruntung, dengan memilikiku nanti.

Laki-laki itu, yang kelak akan menjadi suamiku, akan kupastikan ia adalah orang yang beruntung dengan menjadikanku sebagai istrinya. Spirit memberi. Bukan spirit menuntut. Aku tak punya posisi tawar yang kuat di hadapan Allah untuk menuntut bahwa suamiku harus soleh, suamiku harus lelaki terbaik, karena aku bukanlah siapa-siapa.

Karena spirit menuntut adalah hal yang tak selayaknya, maka sebaliknya, spirit memberi yang harus ditumbuhkan. Aku akan menjadi wanita terbaik bagi suamiku kelak. Aku akan menjadi wanita solihah yang pandai menjaga diri. Aku akan menjadi wanita cerdas. Akan aku pastikan ia adalah lelaki yang beruntung.

Tidak mudah membuat komitmen semacam itu. Berat. Karena itu artinya, kita harus memberanikan diri untuk menjamin setiap detik yang kita lakukan adalah detik terbaik. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Waktu kita senantiasa diisi dengan amalan-amalan terbaik. Waktu kita selalu digunakan untuk menuntaskan amanah dengan detail terbaik, Waktu kita selalu kita isi dengan tilawah dan dzikir mendekatkan diri pada Allah. Tak ada waktu yang tercecer untuk tidur bermalas-malasan, dan mengerjakan sesuatu yang sia-sia. Tak ada waktu yang digunakan untuk membanggakan diri, melainkan digunakan untuk terus menginstropeksi diri.

Karena jika itu tidak dilakukan, maka kita belum bisa menjamin bahwa ia yang akan menjadi suami kita kelak adalah orang yang beruntung.

Cinta itu bukan syarat pernikahan. Maka membesar-besarkan cinta sebelum menikah bukan alasan logis untuk mempersiapkan diri. Justru berkonsentrasi pada perbaikan diri lah yang harus dilakukan. Karena kita belum tentu menikah dengan orang yang kita cintai. Namun yang pasti kelak, bahwa kita harus mencintai orang yang kita nikahi.

Inilah spirit memberi. Menjadikan diri kita sebagai subyek pemberi, bukan sebagai obyek penerima. Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk menjadi soleh, karena hal itu sama halnya dengan menuntut orang tersebut memberikan yang terbaik kepada kita. Alangkah indahnya ketika kita menuntut diri kita sendiri untuk menjadi solih, agar kelak orang yang menjadi jodoh kita menjadi orang yang beruntung karena kesolihan kita.

Yakini saja bahwa Allah memiliki banyak stok orang solih untuk kita, tinggal bagaimana kita bisa menjamin bahwa kita akan menjadikan orang itu beruntung.

Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Jangan ada yang tercecer sia-sia!
Spirit memberi. 

Waktu yang Berkah

Bismillahirrahmanirrahim...


Tulisan lama di up kembali.

Setelah lama tertunda, akhirnya saya berhasil mengumpulkan tekad untuk menulis topik ini, tentang waktu yang berkah.

Topik ini berputar putar di kepala saya semenjak saya mendengar penuturan salah satu teman saya, ketika kami sedang makan malam di salah satu taman kuliner di Jogjakarta.

Saya merasa menemukan hikmah yang besar dari apa yang dia katakan. "Hikmah adalah barang milik seorang beriman yang hilang, dimana saja ia menemukannya, maka pungutlah." Al Hadits. Dia bilang, "Aku takut kalau-kalau waktu yang selama ini aku lewati gag berkah." Lalu ia melanjutkan kalimatnya dengan panjang lebar, namun saya masih terpaku dengan satu kalimat di atas. Saya memutar-mutar sendok di gelas es oyen saya, berpikir keras tentang perkataannya.

Salah satu lanjutan kalimatnya, "Di waktu-waktu yang lalu, aku menghabiskan waktu ku untuk nonton film, dan aku sangat takut waktu-waktu ku itu tidak berkah." Saya bereaksi seolah saya sedang benar-benar mendengarkannya, namun sesungguhnya tangan yang mengaduk isi gelas dengan malas menunjukkan saya sedang berpikir keras.

Sejauh ini saya cenderung acuh tak acuh dengan waktu yang saya lewati. Asalkan saya lewati waktu-waktu saya dengan pekerjaan yang selesai sempurna, bagi saya itu sudah luar biasa. Yang membuat saya khawatir selama ini bukan tentang keberkahan waktu, tapi tentang tidak selesainya pekerjaan saya dengan sempurna. Tapi ternyata, ada hal lain yang jauh lebih besar dibandingkan sempurna atau tidaknya pekerjaan, yaitu masalah keberkahan...

...iya, itu menurutnya.

Teman saya satu ini sudah selesai mengerjakan skripsi, dan dia bilang dia sangat takut waktunya tidak berkah. Padahal saya rasa waktu-waktu nya sudah sangat sempurna ia gunakan untuk menyelesaikan skripsi. Skripsinya selesai artinya dia telah melakukan pekerjaan dengan sempurna, meskipun dia selingi dengan menonton film, tapi nyatanya pekerjaannya selesai, lalu apalagi yang dia khawatirkan? Waktu yang tidak berkah? Bagi saya itu tidak masuk akal...

...mulanya.

Itu mengapa saya berpikir keras. Mengapa dia masih mengkhawatirkan persoal keberkahan? Apa yang dimaksud dengan keberkahan waktu? Mengapa sebegitu penting baginya?

Lalu hari-hari berikutnya, ustad Abdullah Sunono  (salah satu asatidz pondok pesantren mahasiswi Asma Amanina) menyampaikan arti kata berkah. Ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasab Allah atur untuk saya ambil pelajaran. Ustadz bilang, secara bahasa berkah artinya ziyadatul khoir atau bertambahnya kebaikan. Jadi waktu yang berkah adalah waktu dimana di dalam waktu-waktu tersebut, kita bisa menambah kebaikan kebaikan ke dalam diri kita.

Penuturan ustad tersebut sekaligus menjawab pertanyaan saya, kenapa ada banyak orang yang pekerjaannya selesai sempurna, namun hasil akhirnya tidak sama sempurnanya. Misal seorang sarjana yang memiliki nilai cumlaude namun kesulitan mencari kerja. Atau seorang santri yang hafal alqur'an namun masih juga pacaran. Dua kasus yang selama ini menjadi tanda tanya di kepala akhirnya terjawab. Oh ya... jawabannya adalah tentang waktu yang berkah.

Dan akhirnya saya mengerti mengapa teman saya satu ini sangat mengkhawatirkan waktu nya tidak berkah. Kekhawatiran itu ada karena dalam proses pengerjaan skirpsi nya, dia tidak sepenuhnya menggunakan waktu-waktu nya untuk hal-hal yang bermanfaat, hal-hal yang dapat menambah kebaikan, dia masih menggunakan beberapa waktunya untuk menonton film. Sebegitu khawatirnya kah dia? 

Tentang sarjana yang kesulitan mencari kerja, dan santri yang masih pacaran, barangkali penyebabnya sama, adalah tidak berkahnya waktu selama menjadi mahasiswa dan selama menjadi santri. Barangkali dalam waktu-waktu menjadi mahasiswa dan menjadi santri, ada hal-hal yang terlupa. Misal, santri hafal alquran namun masih pacaran, barangkali  dalam waktu waktu yang digunakan dalam menghafalkan alquran kurang memenuhi adab. Artinya, selama ia menghafal alquran mungkin hafalannya bertambah, namun tidak diikuti bertambahnya kebaikan dalam dirinya, karena adab-adab dalam menghafalnya tidak dipenuhi. Seperti tergesa-gesa (tidak tenang) dalam membaca alquran, tidak menundukkan pandangan (melakukan maksiat mata) di keseharian, tidak menyertakan Allah dalam setiap aktivitasnya, atau mengenai adab-adab yang lainnya.

Bertambahnya kebaikan.....



Allah menyukai pemuda yang tidak tergesa-gesa (urusannya tertata). "Sesungguhnya ada du hal dalam dirimu yang Allah cintai, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa.Hadits riwayat Bukhari.

Saya mencoba mereview waktu-waktu saya yang sudah berlalu. Merinding mengingatnya. Banyak waktu yang saya kira sudah saya lewati dengan efektif dan efisien, namun sekarang saya berpikir, apakah itu berkah? Apakah bertambah kebaikan dalam waktu-waktu itu? Pantas saja saya merasakan ada yang kering selama ini. Pekerjaan saya selesai, namun kering, mungkin karena tidak berkah, tidak bertambah kebaikan.

Dalam forum yang berbeda, ustad Deden Anjar (pengasuh pondok pesantren mahasiswi Asma Amanina) menyampaikan lagi, bahwa salah satu usaha agar waktu kita berkah adalah menyertakan Allah dalam setiap aktivitas kita kapan saja, dan menyerahkan segala urusan kita kepada Nya. Bagaimana caranya? Ustad menyampaikan, caranya adalah dengan berdo'a dalam setiap akan memulai sebuah pekerjaan. Dan berdzikir (mengingat Allah) selama pekerjaan itu berlangsung. Sederhana.

Hal yang beliau contohkan adalah ketika kita akan masuk ke kamar mandi, sebelum masuk kita membaca do'a yang kurang lebih bermakna agar dihindarkan dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan. Jika kita sering mendapatkan ide-ide atau gagasan ketika di kamar mandi, dan kita lupa membaca doa sebelum masuk, bisa jadi yang membisikkan ide-ide tersebut adalah syaitan, itu karena kita tidak memasrahkan diri kepada Allah ketika hendak masuk ke kamar mandi, padahal yang mampu melindungi kita dari gangguan syaitan hanyalah Allah.Gagasan dan ide selesai ketika di kamar mandi, namun apakah gagasan itu berkah? Belum tentu.

Ketika hendak tidur berdoa
ketika akan makan berdoa
ketika akan bercermin berdoa,
dengan berdoa artinya kita selalu mengingat Allah dalam setiap aktivitas kita. Jika kita tidak berdoa barangkali itu adalah bentuk lupa kita pada Allah, kita melupakan Allah dalam aktivitas kita, itu adalah hal yang mengerikan. Maka pantas saja jika waktu-waktu yang kita lewati tidak menambah kebaikan dalam diri kita, karena yang mampu menambahkan kebaikan ke dalam diri kita hanya Allah, dan saat itu kita lupa pada Allah.

Sekarang saya mulai paham dengan konsep waktu yang berkah. Hingga sampai pada titik pemahaman, bahwa menata waktu dan aktivitas agar tidak tergesa-gesa (agar teratur) adalah hal yang sangat penting. Dalam ketergesaan kita, kita berpotensi lebih sering lupa pada Allah. Dan ketika kita melakukan sesuatu dengan cekatan namun serampangan (baca: tergesa) lalu hasil yang kita dapat bagus, wajar jika kita menjadi sombong, kita menganggap jika hasil yang bagus itu adalah hasil jerih payah kita, padahal semua itu terjadi atas izin Allah. Wajar jika kita mudah sombong, karena dalam ketergesaan kita, kita lupa berdoa, kita lupa menyertakan Allah dalam aktivitas kita, kita lupa pada Allah.

Jika kita telah berhasil untuk tidak tergesa, maka yang selanjutnya harus dipikirkan adalah bagaimana caranya waktu kita tidak terbuang sia-sia. Yaitu dengan mengingat Allah sebanyak-banyaknya, berdzikir. Dan berdzikir tidak bisa dilakukan oleh orang yang tergesa.

Maka inti berdoa adalah mengingat Allah. Dari mengingat Allah kapan saja, waktu kita akan menjadi waktu yang berkah. Karena tidak ada orang yang sedang teringat dengan Allah ia menonton film terlebih film yang tidak mengandung faedah, karena ketika ia ingat dengan Allah, dan ia di depan sebuah film, ia akan lebih memilih menghentikan menonton film lalu mengalihkan ke aktivitas lain yang lebih bermanfaat.

Maka inti berdoa adalah mengingat Allah. Dari mengingat Allah kapan saja, waktu kita akan menjadi waktu yang berkah, waktu dimana kita bisa memaksimalkan kebaikan datang kepada kita.

"Demi Masa sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal shaleh." Q.S. Al 'asr. Maka waktu-waktu kita ke depan harus menjadi waktu-waktu yang produktif lagi berkah. Kita harus mengatur segala urusan dan aktivitas kita dengan sedemikian rupa. Kita harus semangat menjemput kebaikan, kita harus bersemangat menyertakan Allah dalam setiap kegiatan.

Terimakasih Uka,
best regards,

Your friend, Ihtisyamah.

Selasa, 05 November 2019

Hai Senja

Hai, senja. Perkenalkan, namaku Diana.

Maaf jarang menyapamu, karena kukira selama ini sudah terlalu banyak perempuan yang menyapamu, terlebih lewat tulisan. Mereka terlalu melankolis ketika menyebut namamu. Mereka selalu membawa perasaan mereka menjadi sewarna dengan warnamu, senja. Tapi ternyata, sampai pada titik ini, aku menyerah dan mengakui, ternyata aku juga perempuan.

Kenapa aku memilihmu?

Aku dengar kabar bahwa terdapat pergantian shift malaikat di dua waktu dalam satu hari, salah satunya adalah setelah adzan asar berkumandang. Para malaikat yang telah mencatat amal manusia-manusia sepertiku selama seharian akan membawa catatan tersebut ke langit. Melaporkan kepada Tuhannya.

Itu mengapa pesan kedua orangtuaku agar aku tak tidur setelah waktu asar, karena kau akan tiba, senja.Pasti orang tuaku menginginkan agar aku melakukan amalan-amalan terbaik di waktumu. Mengiring kepergian para Malaikat ke hadapan Tuhannya. Malaikat mungkin sedang bergegas mengepak barang-barang, terutama catatan-catatan amalku saat kau tiba. Mereka pasti mengepak nya menjadi pak yang rapi, karena mereka akan menyodorkan pak tersebut kepada Rabb.

Tunggu dulu senja.

Senja, aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Betapa sedihnya ketika kau datang dan amalan sudah dicatat. Tak bisakah kau menahan warnamu agar para malaikat tak tergesa pergi kepada Tuhannya? Aku ingin memperbaiki sedikit (ah tidak, itu terlalu banyak) catatan hari ini. Beri aku waktu, untuk memperbaikinya, tolong, jangan berubah warna dulu senja, pinta langit pertahankan birunya, jangan tergesa memerah. Tolong pinta matahari tak tergesa turun. Apa jadinya jika kalian tergesa. Mari duduk senja, duduk di sampingku, jangan tergesa. Ajak pula matahari, langit, dan para malaikat itu duduk di sampingmu. Kubuatkan teh hangat di meja bundar depan rumahku, tempatku tergagap menyesali hariku.

Ya senja, ini persoal adikku.

Ya, aku membuat kesalahan padanya. Dan aku membuat kesalahan di kala waktu dhuhur, senja. waktu nya begitu sedikit dan singkat untuk memperbaiki semua kesalahan itu. Ini bukan perkara sepele. Kau tau senja? Sudah pernah kubilang bukan? harta terbaik seorang kakak hanya satu, yaitu adiknya. Senja tolong tahan para malaikat itu, Senja(!)

Kini aku mengerti mengapa ibu Malinkundang sangat bersedih lama berpisah dengannya. Kini aku mengerti betapa rindu Ibahim pada Ismail yang telah lama dipisahkan. Aku semakin mengerti mengapa Aisyah begitu cemburu ketika Muhammad pergi meski sebentar dari sampingnya. Semuanya menunjukkan ekspresi ketakutan untuk kehilangan. Bukan apa, ini persoal waktu, senja.

Tentang waktu. Telah lama bercengkerama bersama, telah banyak waktu dilalui bersama, sudah bukan waktu yang bisa dibilang sebentar, kita bertegur sapa.Banyak perjuangan diusung bersama, beban dibagi bersama. Senyum tulus terbersit di tengah-tengahnya, bukankah konyol jika semua berakhir karena satu khilafku saja? Lebih konyol adalah tentang rasa takutku kehilangan. Mengapa aku harus melakukan kesalahan? Mengapa harus ada kekhilafan?

Pantas ketika ada banyak orang menginginkan waktu nya kembali. Aku sedang mengalami hal yang sama, ingin kuulang waktu sebelum kulakukan khilafku. Tak sampai hati aku membayangkan kebersamaan kami selama ini. Tak sampai pikir konyolnya kulakukan kesalahan. Aku ingin pergi jauh saja agar tak kembali teringat semuanya. Kuingin buat gua yang bisa kugunakan sebagai tempatku sembunyi. Konyol.

Kutahan suara dari tenggorokan, kutahan air dengan kelopak mata, kutahan gemetar dengan tanganku yang kulingkarkan di badan, gemetar tak ingin kehilangan. Kucoba tenangkan.

Kini, sedih, rindu, cemburu, takut, semuanya sedang kurasakan dalam satu waktu.

Tak apa, senja.

Aku tahu kau hanya tunduk pada perintah Tuhanmu. Aku tak bisa menahanmu lebih lama. Sudah saatnya matahari melakukan tugasnya. Sudah saatnya langit bekerjasama dengannya. Datang dan segera pergilah senja.

Semua amal telah tercatat, tinggal do'a yang bisa kusemat.
Kusampaikan do'a pada Tuhanmu, agar mengampuniku. Kusampaikan pada Nya, bahwa aku sangat menyesal. Meskipun penyesalanku mungkin sekali tak berguna, karena luka pasti berbekas. Namun kata salah satu asatidzah, "Kebaikan mampu menghapuskan keburukan", ya, Tuhanmu memberikan harapan. Akan kupergunakan dengan sebaik-baik perlakuan.

Terimakasih senja,
ternyata aku perempuan normal seperti kebanyakan.


A not verified old sister,
Diana.


Kamis, 11 Juli 2019

Mengakar Kuat Menjulang Tinggi (Wanita)

Menjadi seorang wanita perlu memiliki prinsip. Tak hanya laki-laki.

Menjadi akar yang kuat berarti berilmu mendalam, mengakar hingga dalam. Bagaimanapun seorang putera brilian berhak dilahirkan dari wanita cerdas. Hingga seharusnya itu menjadi cita-cita bersama seluruh wanita. Kita pasti bercita-cita melahirkan putera yang brilian.


Tak baik jika kita kuat sendiri, cerdas sendiri, solih sendiri, tanpa 'melahirkan generasi'. Baik laki-laki maupun perempuan dapat melahirkan (menciptakan) generasi penerus.

Namun melahirkan di sana adalah ungkapan yang menggunakan tanda petik. Sedangkan seorang perempuan memiliki keistimewaan, ia benar-benar diberi kemampuan melahirkan. Tidak berhenti sampai melahirkan, proses mendidik putera yang dilahirkan lah yang mengharuskan kita menjadi perempuan yang cerdas.

Cerdas bukan masalah hasil akhir. Justru kondisi kita sekaranglah yang harus menjadi perhatian. Perempuan yang belum bersuami dan belum melahirkan generasi sudah sepantasnya melakukan perbaikan diri, meng upgrade kemampuan, menjadi perempuan cerdas, cerdas intelektual dan cerdas sosial, serta paling penting adalah cerdas  spiritual.

Menjulang tinggi, berarti sikap yang dimiliki adalah gambaran ilmu yang dimilikinya, akarnya. Batang yang besar dan tinggi sudah pasti memiliki akar yang kuat dan menghujam. Tak ada satupun pohon yang berbatang besar dan menjulang tinggi tanpa akar yang kuat dan dalam.


Pohon yang kuat memiliki akar yang kuat, maka batang pohon itu akan berdiri kokoh dalam keanggunan.

Sekali lagi, karena putera kita kelak berhak dilahirkan dari wanita cerdas dan solih. Dan yakini saja bahwa wanita yang cerdas dan solih pun berhak melahirkan putera yang brilian, InsyaAllah.

Terus mengakar kuat, biar batang melakukan tugasnya sendiri, secara alami menjulang tinggi. Tak perlu banyak risaukan batang. Mari kuatkan akar.

Fastabiqul khoirot!

Selasa, 23 April 2019

Berdesakan dengan Para Nenek

Bismillahirrahmanirrahim,

setelah sekian lama menahan cerita, dan akhirnya banyak cerita-cerita yang tidak tertahan, saya pikir ini adalah waktu yang tepat untuk saya menuliskannya, meramunya menjadi tulisan yang sedap, dan bisa mengenyangkan pembacanya.

Ya, cerita ini tentang cerita para Nenek. Allah memberikan pelajaran bertubi-tubi, dan saya merasa tidak peka dengan pelajaran tersebut. Akhirnya disentil berkali-kali, barulah saya peka dengan sentilan dari Allah yang satu ini.

Kita yang masih muda sangat tidak pantas jika harus berdesakkan dengan para nenek. Para nenek yang cara jalannya sudah "thuyuk-thuyuk" (membungkuk-bungkuk dan pelan) sangat rajin menemui Allah dengan semangat yang membara, dan memalukan bagi kita jika kita berdesakan dengan mereka dalam menuju Allah, apalagi jika harus berjalan di belakang mereka pasti hal itu jauh lebih memalukan bagi kita.

Hari dimana semua orang dikumpulkan di sebuah padang yang sangat lebar, lalu kita akan melihat dan menyadari bahwa kita sedang berdesakan dengan para nenek yang kita lihat di dunia dulu, atau lebih buruk lagi kita berada di belakang para nenek, betapa kita sangat terpuruk saat itu, betapa kita akan sangat malu pada Allah. "Kenapa kamu bisa berdesakkan dengan para nenek? bahkan kamu berada di barisan belakang para nenek?"

Kita sebagai perempuan muda masih punya banyak tenaga, masih punya banyak waktu, masih punya banyak potensi untuk melakukan amalan-amalan solih. Tapi justru seringkali amalan solih kita sama kuantitas dan kualitasnya dengan amalan para nenek, atau bahkan jauh lebih buruk dan lebih sedikit dari amalan para nenek. Seharusnya kita berlari jauh lebih depan daripada mereka. Tapi nyatanya mereka jauh lebih rajin datang ke masjid untuk solat, mereka sangat rajin mengaji qur'an meski terbata, dan mereka selalu berdo'a melebihi doa-doa kita.

Ini adalah tentang amalan ibadah kita. Kita akan berdesakkan dengan siapa kelak? berdesakkan dengan sesama muda, atau berdesakkan dengan para nenek yang kita lihat di dunia?

Nenek 1.

Pengalaman ini adalah pengalaman spiritual pertama kali yang saya alami bersama para nenek. Suatu hari saya dan teman-teman BEM FT 2013 berkunjung ke kota Apel, Malang. Kami beristirahat di saat Subuh di Masjid Besar Batu, dekat dengan taman kota. Kebetulan kami sampai kurang lebih jam 3 pagi, waktu itu gerbang masjid belum dibuka, baru setelah mendekati azan subuh sekitar jam 4, gerbang mulai dibuka. Keheranan demi keheranan terkumpul tidak sengaja. Saya melihat satu nenek telah mengenakan mukena putih memasuki masjid, dengan jalannya yang sangat pelan, padahal azan subuh belum terdengar, tapi si nenek sudah sampai di masjid mendahului jama'ah lainnya. Keheranan selanjutnya adalah: ternyata ia bukanlah nenek yang pertama kali datang ke masjid. Sudah ada beberapa nenek duduk dengan menggoyangkan badannya menikmati dzikir ke kanan dan ke kiri di dalam masjid, saya bertanya dalam hati, "Hey? ini baru jam berapa?" dengan wajah bengong dan keheranan. Cuaca nya saaangat dingin saat itu. Lalu keheranan-keheranan selanjutnya terus bermunculan. Ada nenek yang menggunakan kursi, ketika sampai di masjid ia tak duduk seperti nenek lain, ia duduk di kursi, pikirku "Nenek ini kenapa repot-repot datang ke masjid?"

Di dalam masjid tersebut saya dihujani banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mengusik kenyamanan. Lalu saya menangis pada satu titik. Titik kondisi dimana saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bahwa barisan para nenek dengan mukena yang mayoritas putih ada lebih dari 3 barisan, nenek yang datang ke masjid sebelum iqomah dilantunkan jumlahnya saaaangat banyak. Ini masjid besar, satu shofnya bahkan memuat banyak orang, dan sungguh pemandangan yang luar biasa ada di hadapan saya. Saya menangis, merinding, tersedak, tak ada teman-teman BEM yang melihatnya, karena memang mereka belum sampai ke dalam masjid, saya sengaja mendahului mereka, dan saya memilih duduk di bagian belakang masjid. Hal yang membuat saya jaaaauh lebih merinding adalah saat setiap ada nenek yang datang, ia akan menyalami beberapa nenek di samping kanan kirinya, namun bukan dengan salaman biasa (tangan dengan tangan), namun para nenek saling bersalaman dengan mencium pipi kanan dan kiri, saling memegang pipi, saling merangkul, dan saling melemparkan pandangan penuh kesyahduan. Efek slow motion yang menjadi fitrah nya para nenek membuat suasana semakin tak terdefinisikan. Seperti banyak kelopak bunga putih yang berguguran di depan pandangan.

Di mata mereka terlihat dan terpancar kasih sayang satu sama lain, sambil mencium pipi kanan dan kiri mereka mengucap salam, lengkap dengan gerakan serba hati-hati khas para nenek. Anggun, bagi saya itu sangat anggun. Wajah mereka cerah luar biasa. Saya menangis. Saya merinding. Saya sesenggukan melihat satu persatu nenek datang, melihat mereka saling bersalaman, mendengar mereka saling melempar salam....suasana di dalam masjid menjadi suasana syahdu yang tidak pernah saya temukan di tempat lain. Lama dan lama akhirnya suasana menjadi jauh lebih ramai, karena nenek-nenek yang datang semakin banyak. Suara dzikir dan bacaan alqur'an terbata khas nenek-nenek seperti dengung lebah di sana.

Ya Allah... Ya Allah... Ya Allah... pertunjukkan luar biasa baru saja saya saksikan. Saya seperti melihat para bidadari, barangkali perilaku bidadari surga sama dengan perilaku para nenek ini. Mereka rajin beribadah, mereka mengasihi satu sama lain. Mereka berlomba-lomba siapa lebih dulu melakukan kebaikan, tetap dalam keanggunan. Mereka tak dikalahkan oleh dingin yang menyerang, seolah ada yang membuat tubuh mereka menjadi hangat kapan saja, yaitu hati mereka. Biarpun fisik mereka sangat lemah, tapi hati mereka sangat kuat. Kita tahu sendiri kota Malang adalah kota yang sangat dingin. Tapi luar biasa bukan para Nenek ini? Allahu...Allahu...

Setelah iqomah dikumandangkan, saya mencoba mendekat, benar-benar ingin berdesak-desakkan dengan para Nenek. Dengan wajah masih sangat kentara dengan bekas tangis dan nafas yang terdengar jelas, saya merapatkan barisan bersama mereka. Lalu salah satu nenek menjulurkan sajadahnya untuk dibagi dengan saya. Ya Allah itu adalah solat subuh paling indah dalam hidup saya. Setelah solat, saya ikut bersalaman dengan para nenek. Mereka ramah, belum pernah saya dapati yang seperti ini sebelumnya.

Sampai keluar masjid pun saya masih merinding. Selain jamaah nenek, jamaah kakek juga banyak, bahkan ketika keluar dari pintu masjid, saya berpapasan dengan kakek yang terkena struk dan separuh badannya tidak bisa digerakkan normal, sehingga ia agak kesulitan untuk berjalan.

Nenek 2.

Di saat saya menepati jadwal les privat matematika, saya dibukakan pintu oleh si kembar. Begitu pintu terbuka, ternyata saya melihat di ruangan sebelah nenek masih menggunakan mukena dan sedang membaca mushaf besar nya yang ia taruh di pangkuannya. Saya kaget melihat hal tersebut. Bukan, bukan meragukan si nenek, melainkan saya heran. Keluarga si kembar ini adalah keluarga yang bisa dibilang "tidak islami". Ibunda si kembar bekerja di semacam EO konser musik dan sering pulang malam karena tuntutan pekerjaannya. Dari sana saya menyimpulkan bahwa keluarga ini biasa saja. Tapi ternyata sang nenek sangat perhatian dengan masalah akhiratnya, dengan ia membaca mushaf alqur'an di malam hari semacam ini, saya yakin hal itu timbul sebagai sebuah kebiasaan, bukan hal yang dilakukan kadang-kadang. Pasti nenek ini sudah terbiasa sebelumnya.

Nenek 3.

Saya bertemu dengan nenek yang berprofesi sebagai polisi, ia sangat disiplin melaksanakan solat berjamaah dan solat duha. Ia selalu menyempatkan diri mampir ke masjid untuk solat ketika bepergian kemana saja. Bukan hanya solatnya yang disiplin, namun juga puasa sunnah nya. Tidak hanya puasa sunnahnya, bahkan ia selalu menerapkan prinsip hidup positif, bahwa segala sesuatu harus dipandang positif, karena yakin bahwa Allah sudah mengaturnya. Bahkan nenek ini selalu mengajak anak-anaknya untuk solat sunnah.

Ketika terdengar adzan isya, ia langsung pamit sebentar untuk melaksanakan solat isya di rumah. Ia menceritakan banyak hal tentang hidupnya. Ia sangat mengutamakan Allah dalam tiap kehidupannya. Aku hanya bisa terdiam mendengar ceritanya, tersenyum dan merefleksikan cerita itu ke dalam diri sendiri. Rasanya jaaauuuh sekali amalan-amalan yang saya lakukan daripada yang nenek ini lakukan. Kali ini bahkan saya tidak bisa berdesakkan bersamanya, karena nyatanya nenek ini telah satu baris lebih depan dari saya, meninggalkan saya di belakangnya. Ia sangat rajin beribadah dan selalu berpikir positif.

...

Semua cerita nenek-nenek itu membuat saya trauma, dan mempertanyakan, "Untuk apa tenaga saya selama ini?" Malu rasanya harus berdesakkan dengan para nenek. Seharusnya kita (dan saya khususnya) berada di depan, berlari lebih kencang dari para nenek, berlomba lebih baik lagi melakukan amalan-amalan solih, dengan segala yang Allah berikan sebagai kelebihan para muda.

Allah yang memasukkan siang ke dalam malam, dan memasukkan malam ke dalam siang. Allah sangat mudah mengatur segala sesuatu. Menjadikan sesuatu itu menjadi sangat mudah, atau menjadikan sesuatu menjadi sangat susah. Allah yang memudahkan, dan Allah yang menyulitkan. Allah yang mengatur segala sesuatu, maka kita layak untuk terus merayu dan berusaha dekat dengan Nya, lebih dekat-dan terus dekat, lebih dekat dari para nenek. Kita harus cemburu dengan para nenek. :")

Kamis, 17 Januari 2019

Aku dan Asrama

Bismillahirrahmanirrahim.

Tidak hentinya puji dan syukur mengalir dari dalam diri atas segala sesuatu yang telah berperan dalam hidup ini, orang-orangnya, cinta yang dibawa mereka, ukhuwah yang sulit terlupa. Hari ini, terimakasih banyak Ya Allah, Engkau mengaruniakan banyak sekali hal. Halaqah baru, suasana baru, semester baru, cinta nya masih cinta yang lama, namun bodohku saja baru bisa merasakannya. Solawat dan salam semoga tersampaikan kepada Nabi Muhammad SAW guru tersabar dalam mengajarkan ukhuwah.

Ini tentang aku dan asrama.

Jika aku ditanya, dimana titik balik hidupmu terjadi? Ketika semua fikiranmu, ragamu, semuanya jungkir balik dari keadaan mulanya. Ketika semuanya berputar hampir 180 derajad. Maka aku akan menjawab, ketika aku masuk asrama atau lebih sakral disebut sebagai pomdok pesantren.

Dulu, awal mula aku mengenal pondok pesantren adalah bermodal dengar-dengar samar dan baca-baca majalah, koran, dan buku-buku cerita, dan tidak kalah seru aku suka curi-curi dengar dari tetangga. Seluruh pesantren dalam imej ku adalah buruk. Seluruh pesantren adalah biasa saja, tiada yang istimewa. Kalaupun ada yang istimewa seperti yang diceritakan ahmad fuadi dalam novelnya, itu hanya pelengkap-lengkap cerita, bukan cerita utamanya. Cerita utama tentang pesantren adalah tempat yang menyeramkan dan banyak aturan, sudah begitu santri-santri yang keluar dari pondok pesantren biasa-biasa saja, bahkan dengar-dengar masih pacaran juga, lalu apa bagusnya pesantren? Ilmu agamanya banyak, penerapannya nol besar. Begitu pandangku tentang asrama pondok pesantren, sebelum akhirnya aku sangat tertarik dengan pondok pesantren setelah membaca sebuah buku cerpen kecil. Buku kecil tersebut menceritakan tentang rasa suka seorang laki-laki terhadap seorang perempuan, namun perempuan ini sangat sulit dijangkau, ia tinggal di pondok pesantren, wajahnya cantik, teduh, sopan, dan jika berjalan selalu menunduk, maka untuk melihat matanya sangat susah baginya. Aku suka dengan karakter tokoh perempuan dalam cerita tersebut. Jadi begitu pesantren perempuan? Lumayan keren juga. Sepertinya aku harus berterimakasih pada penulis buku tersebut nantinya.

Rabu, 12 Oktober 2016

Dag dig dug Menunggu

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillah Depok hari ini mendung gerimis kecil-kecil. Hampir 3 bulan sudah, predikat istri melekat. Pengalaman datang menghampiri satu persatu. Entah pahit entah manis, mereka bertamu. Tiap hari pasti ada tamu.

Nah, berbicara soal predikat IRT, ada satu pekerjaan seni yang sangat menarik untuk dilakukan oleh Istri Rumah Tangga, yaitu menunggu. Seni menunggu ini luar biasa rasanya. Ketika kita menyalami dan mencium tangan suami sebelum berangkat bekerja, detik menunggu berjalan setelah suami menjauh dan membalikkan badan. Satu dua tiga empat lima enam. Waktu menunggu dimulai.

Rasanya ketika sudah mendekati jam makan siang dan suami menjanjikan akan pulang ke rumah, detik menunggu mengencang dengan sendiri nya. Perasaan senang, gelisah, khawatir karna makan siang belum siap, atau dandanan belum rapi, derap jantung yang berbunyi, mata dan telinga yang selalu awas ke arah pintu, adalah bentuk seni menunggu.

Menarik, sangat menarik.

Saat kau melepasnya dari pintu rumah dengan rapi di pagi hari, lalu kau lakukan banyak pekerjaan di rumah dan kau harus kembali rapi kapanpun saat ia pulang, itu adalah saat saat yang sangat menarik dan menantang.

Rasa dag dig dug.

Setiap bunyi kendaraan bermotor lewat depan rumah telinga segera bersiap. Dag dig dug apakah itu suara motor suami? Ah, hingga kita hafal mana detail suara motor tukan siomay, suara motir tukang sayur, suara motor ibu-ibu yang menjemput anaknya dari sekolah, dan suara motor yang sekedar lewat. Hingga kita pun hafal ini motor merk apa, hanya dari suara nya. Dag dig dug rasanya, memainkan adegan satu ini, menunggu.

Terimakasih telah menerimaku apa adanya,
Istri yang masih sangat perlu belajar, banyak dan banyak hal lagi. Memerankan peran taat pun ternyata tak semudah didengar di telinga. Aku belajar. Harus banyak belajar.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Welcome to My (first) Castle

Bismillah,
Alhamdulillah, puji syukur setinggi -tinggi nya untuk Allah, yang telah menciptakan pagi sebagai gerbang rizki, dan menciptakan malam sebagai selimut tempat kita beristirahat.

Selamat datang di istana (pertama) saya. Seperti seorang gadis yang dilamar oleh seorang pangeran, maka gadis itu menjadi seorang putri. Seorang putri tak lengkap tanpa istana, maka pangeran membangunkannya sebuah istana. Ya :) inilah istana (pertama) saya.

Sebuah kontrakan petak tiga. Di Depok, dekat Jakarta. Ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Menyenangkan punya istana sendiri :D Meskipun ini adalah sebuah kontrakan (red: istana pinjaman), tapi bagi saya ini adalah istana saya, istana kami. Tempat peradaban baru akan dibangun, akan lahir putri-putri dan pangeran-pangeran kecil di istana kami (insyaAllah, mohon doanya). Setelahnya mungkin saya tak lagi bergelar putri, melainkan berganti menjadi ratu. Sang Ratu dan Sang Raja akan hidup berdampingan selama-lamanya membangun tatanan kerajaan penuh bahagia.

Istana pinjaman ini adalah istana yang nyaman. Hanya sebentar mungkin Ratu dan Raja tinggal di sini. Ratu dan Raja akan memanfaatkan waktu untuk sibuk merancang isi istana, jadi meskipun istana mereka akan berpindah, isinya tetap sama: hangat, bahagia, penuh rahmat. Di ujung menara istana, Ratu dan Raja membangun portal hubung ke kerajaan tertinggi. Kerajaan pemilik Arsy. Mereka membangunnya dengan do'a (do'a yang harap-harap cemas), dengan dzikir, sedekah, pemuliaan terhadap orang tua. Doakan, semoga istiqomah, dan bertambah.


Jumat, 15 April 2016

Baju Zhirah dan Gaun Pengantin

Hari ini, adalah hari yang di luar rencana. Aku sudah menyusun sedemikian rupa rencana untuk satu hari, ternyata berrubah semua. Musibah. Tak di sangka memang, aku harus mengganti keseluruhan rencana.

Dari pagi perjuangan sudah dimulai, memotong jam ujian tahfidz, yang seharusnya selesai 06.15 aku memutuskan pergi jam 06.00. Penting. Tapi ternyata, Allah berkehendak lain, acaranya batal tanpa konfirmasi. Hemmm. Baiklah.

Asrama sudah menanti. Tilawah yang terbengkalai, hafalan yang tak kunjung bertambah dan termurojaah, skripsi yang belum tergarap, persiapan penelitian yang belum apa-apa, belum lagi mentoring dan acara technical meeting sekolah kepemimpinan yang kugawangi. Penuh sudah pikiran. Baju zhirah kupakai sudah, siap perang! pikirku.

Lakukan setiap pekerjaan dengan sempurna, tak ada waktu untuk membuat kesalahan. Aku benar-benar siap perang. Heroik, seolah baju zhirah besi sudah menempel lekat di badan. Perjuangan dimulai.

Ternyata di tengah perjalanan aku menyelesaikan keseluruhan pekerjaan, ada kabar peserta training blm mencapai angka 15, padahal technical meeting sudah akan dilaksanakan nanti sore. Hal yang biasa, tapi bukan untuk didiamkan saja. Harus melakukan sesuatu. Lalu ditambah lagi kabar, bahwa ada sebuah tabrakan agenda di kampus, dan ini tidak bisa dibiarkan terjadi, apalagi terulang. Panas. Benar-benar panas suasananya. Bagaimana bisa terjadi tabrakan agenda di tanggal training kepemimpinan ini dilaksanakan.

Tiba-tiba meleleh air mata, berat kepala, dan tidak enak suasana hati. Aku coba tenangkan, aku coba reda kan, aku coba stabilkan. Butuh waktu yang tidak sedikit untuk memperbaiki kesemuanya. Aku lemas di dekap baju zhirah ku. Perangku terhenti. Berganti ke medan perang yang lain. Baju zhirah masih melekat, dan lanjutkan perjuangan.

Di saat semua sedang panas, ada satu pesan masuk, "Ihti, Ummi buatkan gaun pengantin ya, mau warna hijau muda, atau biru muda, atau putih?" Aku jawab singkat, "Biru muda aja Mi...." Satu pesan sejuk di antara banyak pesan yang panas. Selesai dijawab, seolah sedang berganti mengenakan gaun pengantin, tapi seketika juga berganti kembali menjadi baju Zhirah. Perjuangan belum selesai. 

Minggu, 10 April 2016

Tempat-tempat Tenang untuk Berkonsentrasi

Bismillahirrahmanirrahim...

Suasana yang biasa terjadi di tempat kuliah sangat bertolak belakang dengan suasana saat SMA, dimana di saat SMA saya terbiasa sendiri, melakukan segala aktivitas sendiri, dan tak biasa berbagi. Ya, hanya seorang diri. Setelah masuk kuliah, kamar selalu dihuni berdua, akhirnya belajar berbagi berbagai fasilitas pribadi. Sejak SMA terbiasa dengan suasana sunyi, belajar sendiri, berkonsentrasi hingga malam, sekarang? biasanya di asrama masih berisik sampai malam tiba. Hemmmm. Semua kebiasaan itu seolah menuntut dipenuhi setiap saat. Ada saatnya lelah berada dalam keramaian, meski berada dalam keramaian tetap menyenangkan. Namun rupanya ada bagian di hati dan otak ini yg lelah, ingin beristirahat.

Akhirnya, saya selalu suka berkunjung ke tempat-tempat yang tenang. Meladeni hati yang memberontak ingin dipenuhi hak pribadinya, hak untuk berkonsentrasi atas apa yang sedang dikerjakan. Ketika maumencari tempat sunyi di asrama rasanya sulit sekali, selalu ada orang lewat, selalu ada orang menyapa, begitulah jika kita harus berbagi dengan sesama. Tak apa, ada banyak tempat untuk "bersemedi" di tempat lainnya.

Ini adalah masjid di jalan Bantul,
akhirnya bisa merekam jejak di salah satu masjid di jalan Bantul. Nabung 1 lokasi.
Masjidnya kecil, tapi saaaangat bersih. Masjid ini ditemukan setelah mengisi kajian di kampus Bantul.
Ini adalah lingkungan masjid apung UGM.
Dekat pasca sarjana UGM. Masjid yang biasa digunakan untuk pertemuan, hehe.
Ini adalah masjid di jalan Palagan. Masjid kecil.
Tidak sebersih masjid-masjid sebelumnya, maklum masjid kampunng. Masjid ini adalah masjid yang saya temukan
saat pulang dari observasi di SMK Sleman, bermaksud berteduh dari hujan.
Mengapa perlu tempat-tempat tenang?

Satu-satunya alasan adalah agar dapat berkonsentrasi. Berkonsentrasi untuk banyak hal. Tidak jarang, saya lebih suka pergi dari asrama atau kampus untuk sengaja mencari "daerah jajahan baru" untuk beristirahat di sana. Mengistirahatkan pikiran, mengistirahatkan hati.

Kenapa masjid?

Iya ya, baru kepikiran juga, ternyata dari beberapa tempat yang hobi saya kunjungi ternyata masjid paling dominan. Baru sadar juga saat mau menuliskan ini. Ternyata setelah diingat-ingat, kenapa masjid yang dicari, karena dirasa pas untuk "beristirahat". Jika sudah lelah membaca buku, atau mengerjakan sesuatu, bisa sewaktu-waktu berhenti untuk beristirahat dengan membaca qur'an. Sedangkan hal yang sulit (hampir mustahil) dilakukan adalah membaca qur'an di ruang publik selain masjid, karena nanti akan terdengar suara bacaannya. Sedangkan kita tahu sendiri bacaan alqur'an itu bukan hal yang aneh terdengar di masjid sebagai tempat ibadah.

Tidak jarang saya tidur dalam posisi duduk, sambil mendekap tas ransel kesayangan, bukan, bukan tanpa sengaja, memang sengaja. Ketika istirahat dari perjalanan jauh, dan masih harus beraktivitas banyak setelah perjalanan, maka saya menyengaja qoilullah di masjid, meskipun hanya duduk, karena hal itu terbukti membuat badan kita segar, benar-benar segar setelahnya, meski hanya setengah jam. Tak ada tempat lain yang bisa digunakan untuk "numpang tidur" siang ketika di perjalanan jauh. Kan gag lucu kalau tidur sambil duduk di warung makan. Hehe. Masjid adalah sarana penolong bagi saya. Heee..

Qailullah

Pernah suatu saat, setelah observasi dari SMK, karena teringat bahwa sorenya akan memandu mentoring rutin bersama adek-adek, sedangkan siang itu adalah siang yang sangat panas, dan darah rendah sewaktu-waktu kambuh tiada permisi, termasuk pada siang itu. Mampirlah saya ke salah satu masjid di jalan magelang (masjid favorit), dan taraaaa, alhamdulillah setelah itu segar bugar. Siap berwajah cerah di hadapan adik-adik, padahal hanya tidur duduk selama setengah jam.

...

Di tempat-tempat yang tenang, rasanya sangat nyaman untuk membaca buku, meresapi setiap kata-katanya, mengambil hikmah darinya. Jika sudah bosan dengan ketenangan, bisa membuat "gaduh" dengan suara bacaan alqur'an, nyaman, mau sekeras apapun bacaan kita tak akan ada yang mendehem keras kepada kita. Hehe, Ini pengalaman unik, pernah suatu saat saya baca qur'an di IEC lantai 2, ada suara mendehem sangat keras, (husnudzon saya) sepertinya suara itu ingin mengingatkan saya supaya mengecilkan suara (lagi dan lagi) sampai tidak terdengar. Karena kesal, merasa tidak nyaman baca alqur'an di sana akhirnya saya pergi (hehe egois ya,,,). Saya segera cari tempat tenang lainnya. (Kesimpulannya IEC sama sekali tidak recomended. Ya, recomended sih buat baca buku, tapi kalau sudah capek, mau istirahat, istirahatnya ngapain? bengong? gag asik, ditambah lagi gag bisa tidur meski sebentar di sana gkgkgk)

Karena kebiasaan saya mencari tempat tenang dimana-mana, saya hampir hafal posisi masjid atau tempat-tempat tenang lainnya.

Sebenarnya ada tempat tenang lainnya yang bisa digunakan untuk konsentrasi dan istirahat, yaitu tempat makan. Saat butuh istirahat maka kita bisa makan, tidak bengong. Terbukti nyaman, tapi mahal. Pernah suatu saat saya harus mengerjakan sesuatu, dan akhirnya memilih salah satu tempat makan untuk standby di sana berlama-lama, berhari-hari, sampai petugas jaga hafal dengan saya. Tapi tempat-tempat seperti itu tetap saja harus keluar uang.

Apapun tempatnya, dan bagaimanapun, masjid adalah tempat favorit sepanjang perjalanan. Traveling dan trip (apalagi sendirian) adalah kegiatan yang membutuhkan tempat istirahat yang aman dan nyaman. Bersyukur sekali, Indonesia ini punya banyak masjid.

Kamis, 07 April 2016

Jaga Kesehatan tanpa Micin, Jaga Hati tanpa Dosa

Bismillah...

Tulisan ini meski akan berbicara perihal makanan, namun juga akan menyerempet masalah lain, karena makanan di tulisan ini akan mengantarkan kita pada sebuah analogi sederhana.

Saya adalah orang yang sangat sensitif dengan micin dan pemanis buatan. Sekali saya makan makanan bermicin, maka anggota tubuh pertama yang bereaksi adalah tenggorokan. Setelah makan makanan bermicin, tenggorokan saya akan terasa sangat gatal, akhirnya batuk2. Jika kondisi badan tidak fit, maka batuk2 akan berlangsung selama berhari2. Dan kalau abah dengar lewat telfon bahwa saya sedang mengalami batuk akut (batuk yg sangat parah) pasti akan bilang, "Diobati(!) kalau gag sembuh-sembuh pulang." Dalam hati seperti berteriak "Horeeeeee pulaaaaang". Tapi ancaman itu bukan ancaman main2, sebenarnya menyenangkan untuk pulang, tapi seluruh pekerjaan di Jogja tidak bisa ditinggal dengan alasan, "Batuk dan harus pulang." Jalan satu-satu nya adalah mencari obat yg bisa menyembuhkan.

Maka dari itu selama di Jogja, saya mencari makanan tanpa micin. Salah satu favorit saya adalah sup khas Solo di Maguwoharjo, yang juga dijadikan langganan Ustad Deden Anjar sekeluarga. Sup sayur ini adalah sup yang bumbunya murni rempah-rempah. Dan rempah-rempahnya sangat banyak, sehingga rasanya juga sangat enak untuk ukuran sup.

Biasanya, obat yg saya gunakan ada 3 macam.Pertama adalah obat batuk (apapun merknya), kedua adalah suplemen penjaga imun tubuh (saya paling suka minum habbatussauda 3 pil sekali minum atau madu beberapa sendok) dan yang ketiga adalah   istirahat.

Istirahat adalah poin yg mutlak. Ada satu kebiasaan yg saya mulai kenali pada tubuh saya, bahwa ketika saya diserang batuk atau flu hebat, saya harus minum suplemen  lalu istirahat full selama minimal 1 hari 1 malam. Bangun hanya untuk solat, bersih-bersih, dan makan. Tidak harus minum obat batuk, jadi obat nomor 1 sifatnya sunnah. Dari sana saya meyakini, bahwa batuk bukan inti penyakit yg harus saya obati, bahkan batuk bukan sebuah penyakit, melainkan alarm dari penyakit yang ada di dalam tubuh kita. Artinya, jika saya batuk karena makan makanan bermicin, ada penyakit yg sedang bereaksi di dalam tubuh saya.

Pernah suatu aaat saya makan bakso, setelah pulang, saya sakit demam flu batuk dll, terpaksa bedrest selama dua hari. Setelah itu sembuh berangsur2. Kasus terakhir adalah karena saya makan mie dokdok. wkwkwk, penyebab penyakit yg sangat tidak elit.

Ternyata tubuh kita jika sudah dibiasakan makan makanan tanpa micin lalu makan micin sedikit saja, tubuh jadi sensitif, alarm nya mudah menyala.

Lalu saya memikirkan sesuatu.
Ini tentang sensitifitas dosa.

Pasti sudah tau arah pembicaraannya kemana... hemmm iya. Betul. Jika orang terbiasa menjauhkan diri dari dosa, maka ketika terciprat dosa sedikit saja, ia akan mudah merasakannya. Kemudian secara otomatis karena mudah merasakan dosa, orang tersebut akan lebih sering meminta taubat. Berdasarkan sebuah riwayat, Rasulullah memohon ampun kepada Allah seratus (100) kali sehari, padahal Rasulullah telah dijaminkan surga oleh sang Pemilik surganya langsung, siapa lagi kalau bukan Allah SWT. Sungguh nikmat ya kalau kita bisa merasakan hal semacam itu. Hati yang mudah tersentuh dan hidup, sebentar-sebentar beristighfar, mudah menahan pandangan dari hal kecil yang menyulut dosa, mudah menahan telinga mendengar hal-hal kecil yang menghimpun dosa, dan anggota-anggota tubuh lain mudah ditahan dari perilaku penuh dosa. Hingga kita menjadi orang yang perangainya tenang dan tak tergesa. Semoga kita diberikan karunia untuk menghidupkan hati kita, bisa memiliki sensitifitas dosa sampai pada tingkat dosa terkecil jika bisa.

Kata ustad, hati yang hidup itu seperti rumah yang terrawat dengan baik, sekali ada yang bolong di salah satu bagian rumah, segera diperbaiki, selalu dibersihkan setiap hari, sehingga rumah itu menjadi rumah yang bersih dan sedap dipandang. Hati juga begitu kan? Hati yang bersih ketika kotor sedikit saja, langsung merasa sensitif kemudian segera dibersihkan. Maka hati yang mati seperti rumah yang tidak lagi dihuni. Rumah yang sudah tidak dihuni akan terdapat banyak lubang, dimana dari lubang-lubang itu akan masuk banyak hama seperti tikus, ular, serangga, dan ditumbuhi tumbuhan liar. Maka dengan kedatangan hewan-hewan tersebut, rumahpun menjadi bertambah kotor dan jorok, tidak ada yang membersihkan. Hati yang kotor ketika didatangi penyakit, penyakit sombong, ujub,iri, dengki, benci, mudah tersinggung, kasar, suka mencela, dan lain sebagainya tidak merasa risih.

Lalu bagaimana mengasah sensitifitas dosa?
Sepertinya sudah terjawab. Seperti menjaga sensitifitas tubuh dari micin, kita menjauhkan tenggorokan kita dari micin maka sekali tenggorokan menelan micin akan mudah merasa. Mengasah sensitifitas hati dari dosa adalah dengan menjauhkan diri dari dosa.

Kata ustad, untuk mendapatkan hati yang hidup dan peka terhadap dosa, kita harus menghidupkan hati dengan alqur'an. Ternyata iya, nyata nya banyak kasus dari beberapa orang yang saya temui, seperti adik mentoring saya yang dulunya tergerak hatinya untuk ikut mentoring karena sebelumnya ia dekat dengan alqur'an. Sampai pada ibu-ibu tua yang tertarik untuk datang kajian awalnya karena ia dekat dengan alqur'an, membacanya tiap hari meskipun sedikit-demi sedikit. Orang yang dekat dengan alqur'an akan sangat mudah tersentuh. Ia sangat mudah mengalun seperti alunan ayat-ayat alqur'an yang berisi ancaman dan berita gembira. Merasa terancam ketika melakukan dosa, dan gembira ketika akan mendapat pahala.

Mari kita semangat berdekat-dekat dengan alqur'an. Semangat jaga keehatan tubuh dengan makan makanan sehat, dan semangat jaga kesehatan hati dengan makan-makanan ruhani. Sesungguhnya ini adalah nasihat yang terus berlaku untuk diri saya sendiri, sepanjang hayat, sebelum mati.

Ihtisyamah Zuhaidah


Rabu, 17 Februari 2016

Asma Amanina Jalan Putar Balikku

Bismillahirrahmanirrahim,

tentang hari lamaran, sepertinya semakin mendekat ya Dii? Ya, tinggal siapa dulu yang akan melamar, jodoh, atau kematian. Alhamdulillah, Allah Maha kuasa atas segala sesuatu, yang mengatur semua itu.

Aku sedang berpikir tentang menu masakan yang akan aku sajikan esok, ketika aku harus memakan makanan sehat. Sayur pikirku. Tapi aku belum menguasai menu-menu sayuran sehat, bagaimana aku bisa memasaknya.Ya, aku harus aktif mencari resepnya. Lalu pikirku kembali mengingat tentang hal serupa. Ini baru masakan untuk diriku sendiri. Bagaimana masakan untuk anakku besok? Mau masak apa kalau gag tau resepnya dan gag menguasai caranya? Aku ini perempuan. Aku ini perempuan. Harus bisa. Koleksi yang banyak dan belajar yang banyak juga.

Ya, Asma Amanina adalah jalan putar balik dalam hidupku, setelah sekian jauh aku tersesat dalam ketidaksadaran. Dalam kekosongan. Sama seperti saat aku berpikir tentang menu sayur sehat, aku pun berpikir tentang ibu calon ulama. Bagaimana mau menjadikan anaknya calon ulama? Kalau ibunya tidak mengerti ilmunya? Asma Amanina lah lingkungan tempatku kembali kepada fitrah perempuan.

Aku terkaget ketika ada seorang adik yang berceletuk, "Mbak Ihti ini tipe murobbi siyasi ya..." Padahal ia belum aku ajari tentang konsep siyasi, dan kawan-kawannnya, namun ia bisa menilai. Aku heran tentang cara berpikirnya. Setelah aku telusuri, sepertinya ia melihat dan mengamati dari caraku bersikap dan caraku bergerak. Aku sekarang mengerti. Ada yang salah, aku tak sama dengan teman-teman perempuanku yang lain. Aku bergerak lebih mirip dengan laki-laki. Cara berpikirku, tingkah lakuku, tak selayaknya ibunda calon ulama. Aku tak berada pada fitrah.

Kajian Masjid Mujahidin kemarin membuatku sadar, bahwa aku kosong.
Ustad membahas tentang hati, faidha fasadat fasadal jasadu kulluhu, waidha solahat, solahal jasadu kulluhu. fa hiya qolbun. Ada hati yang sedang tidak beres, yang membuat semuanya tidak beres pula. Ada hati yang jauh dari tuhannya. Ia yang menyebabkan semua kesalahan dalam diri ini terjadi. Lalu aku menemukan Asma Amanina sebagai jalan putar balikku. Menyadarkanku tentang peran seorang ibu yang penuh kelembutan, dan terutama peran seorang ibu yang punya banyak ilmu, ilmu kalam dan ilmu alam.

Allah, tanpa sadar selama ini aku menuhankan usahaku, bergerak dan terus bergerak, lincah, meledak-ledak, dan mudah kecewa mengutuki kegagalan, aku melupakan ada yang jauh lebih berperan terhadap keberhasilan, yaitu Tuhan. Siapa lagi jika bukan Allah SWT. Rasanya tenang setelah mengakui bahwa semua kesombongan ini adalah kebodohan, dan mengakui semua kegagalan berasal dari lemahnya diri sebagai makhluq (sesuatu yang tercipta) dan mengakui segala sesuatu telah diatur dan dikuasai oleh Khaliq (sesuatu yang mencipta).

Asma Amanina mengubah cara pandang hidupku. Memutar balik langkahku, setelah sekian lama. Aku belajar untuk menjadi seorang penghafal alqur'an yang tidak meributkan jabatan. Mengikat dan terus mengikat hafalan, modal mahkota untuk ketiga orang tua, aku belajar untuk menjadi seorang pencari ilmu yang jauh dari debat dan adu, atau tepuk tangan yang saling berpaut.

Kembali meluruskan niat, agar tak kembali masuk ke jalan yang salah, agar tak kembali kepada kesombongan semu, lillah, karena Allah akan memasukkan 3 orang pencari ilmu ke dalam neraka, yaitu yang meniatkan mencari ilmu karena ingin membodohi orang-orang bodoh, yang meniatkan mencari ilmu untuk dianggap pintar dan membanggakan diri di hadapan ulama, dan satu lagi, yang meniatkan mencari ilmu agar orang-orang menoleh kepadanya (ingin menarik perhatian orang banyak) karena pengetahuan yang dimiilkinya. Na'udhubillah min dzalik. La hawla wa laa quwwata illa billahil'aliyyil 'adzim.......

Persiapkan generasi dengan sebaik-baik persiapan. 

Jumat, 05 Februari 2016

Bersiap Menjemput Rezeki

Bismillahirrahmanirrahim,

Ya Allah, lalu hanya ucap syukur yang bisa mengalir, ya, tak lain karena Kau secara ajaib telah mengatur segala permasalahan dalam hidupku dengan sangat baik, dan rapi. Kau aturkan semuanya. Bahkan aku tak habis pikir dengan beberapa hal yang mustahil, tapi bagi Mu itu adalah hal yang kecil.

Aku masih ingat dengan do'aku saat itu, ketika aku benar-benar sangat membutuhkan rezeki berupa uang untuk menutup beberapa kebutuhanku yang datang tiba-tiba, tak terencana, dalam jumlah besar pula. Aku membutuhkan sangat banyak uang, dan aku berdo'a. Aku berdo'a meminta dibukakan pintu rezeki. Aku berdo'a di siang hari seusai solat, lalu di sore harinya Allah benar-benar mendatangkan rezeki yang aku minta. Sore itu ada sms masuk, mengabarkan bahwa ada seorang siswa yang membutuhkan les matematika selama satu bulan penuh. MasyaAllah, Allah itu luar biasa. Siang aku meminta, malam diijabah dan ditunjukkan jalannya. Malam harinya aku ditelefon untuk diberitahu perihal tempat, biaya, dan kebutuhan les si anak. Akhirnya selama satu bulan itu aku bekerja menjadi seorang tentor matematika bagi adek kelas VIII SMP, dan uang hasil les privat tersebut dapat mencukupi kebutuhanku, meski harus mengorbankan hal-hal lain.

Aku ingat sekali, saat itu adalah saat-saat mendekati akhir kepengurusan BEM FT UNY 2014, dimana tanggungan proker departemenku sudah tidak ada, dan proker-proker yang tersisa adalah proker departemen lain. Secara egois aku memutuskan untuk tidak mengikuti proker-proker yang tersisa tersebut, karena harus berjibaku dengan les privat yang berjalan selama satu bulan. Ya, itu pilihan yang kuambil, agar aku bisa menutup kebutuhanku yang mendesak itu.

Aku telah meminta, coba saja saat itu aku tidak siap menerima tawaran les tersebut, maka rezeki itu hanya akan menghilang tanpa makna. Namun karena aku telah siap mengajar matematika SMP, maka aku sangat siap menjemput rezeki ku saat itu.

Pun, begitu dengan jodoh. Jangan sampai aku berdo'a meminta dibukakan pintu jodoh, namun aku belum siap dan semua rezeki dari do'a tersebut menguap. Tak apa, itu adalah pelajaran yang sangat berharga bagiku.
Bersiap menjemput rezeki.

Senin, 11 Januari 2016

Allah, ingatkan aku jika aku masih sempat berkeluh

Ya Allah,
tegur, tegur, tegur saja jika aku masih sempat berkeluh.

Aku akan bekerja keras sampai aku tak bisa lagi bekerja keras, aku akan terus bergerak sampai aku tak bisa lagi bergerak. Aku tak boleh punya waktu untuk berkeluh. Aku tak boleh lakukan itu.

Allah, tegur saja, tegur saja aku.
Satu hal yang sangat aku harapkan, semoga amalanku mampu berdiri tegak menjadi saksi di hari akhir besok, bahwa aku tak menganggur, bahwa aku bekerja keras, hamba mohon ya Allah. Hamba mohon. Jadikan hamba orang yang selalu ingat untuk bekerja keras.

I am doing. In the name of Allah.
Bismillah.


Rabu, 06 Januari 2016

Ternyata menjadi Murobbiyah itu Menyenangkan

Bismillahirrahmanirrahim,
Catatan ini ditulis agar suatu saat nanti, jika sedang merasa loyo untuk membina, catatan ini bisa dibuka, agar kembali bersemangat.

Dii, awalnya aku merasa bahwa membina itu mustahil bagiku. Pernah suatu saat aku membina satu lingkaran kecil angkatan 2013, hasil follow up sebuah kegiatan. Tapi hilang setelah satu tahun pembinaan. Pertama karena kelompok tersebut dirombak, entahlah, adik-adik yang sudah kurawat lama sepertinya memang bukan lagi rejekiku saat itu. Kedua kebetulan saat itu aku harus memegang amanah sebagai kepala departemen PSDM BEM FT UNY 2014, kesibukan serasa tidak bisa lepas dari kaki dan tanganku, keduanya seolah harus terus bergerak, dan aku pesimis aku bisa memegang kelompok binaan lagi.

Takdir Allah itu selalu indah, jika kita mensyukuri. Setelah satu tahun vacum membina (hanya membina 1 kelompok tutorial) akhirnya aku disadarkan pada rasa butuh dan kepepet. Kepepet karena tidak ada yang lain lagi. Dari rasa kepepet itu akhirnya aku memforsir diri untuk membina langsung 3 kelompok. Ya, aku adalah mahasiswa tahun terakhir Dii, mahasiswa tahun keempat, dan sekarang sudah masuk hampir tahun ke-lima. Mahasiswa paling tua di kampus, masa tidak membina? Adik-adik banyak yang terlantar haus akan ilmu keislaman, maka aku harus bisa membina, berapapun kelompoknya, begitu pikirku.

Binaan.

Awalnya hanya 2 kelompok. Dan ini unik, kenapa pada akhirnya kelompok binaanku menjadi 3 kelompok. Melelahkan? Iya. Banyak kejutan juga iya. Akhirnya, diriku mengalami konflik internal. Tarik ulur perasaan untuk melepas salah satu kelompok menjadi tarik ulur yang alot.

Ini uniknya. Beberapa pekan ini aku sempat vacum. Dan yang paling lama vacum adalah lingkaran angkatan 2012. Lingkaran paling unik yang pernah kupunya.

Aku punya 3 kelompok binaan, apabila dilihat dari angkatannya dan tingkat kepahaman pada islamnya justru saling berkebalikan. Lingkaran angkatan 2015 adalah lingkaran yang personilnya sudah ngaji sejak SMA. Mereka sangat disiplin dan berkomitmen dengan jadwal melingkar. Selalu mengupayakan melingkar setiap pekan. Aku sangat bersemangat membina mereka Dii, bagaimana tidak? aku tak perlu bersusah payah untuk membina mereka, karena pada dasarnya mereka sudah paham tentang islam, tinggal dipoles sedikit lagi saja. Selanjutnya angkatan 2014, lingkaran ini adalah lingkaran dengan kepahaman islam nya ada di tengah antara 2015 dan 2012. Jika ingin dibuat prioritas membina, maka mereka adalah prioritas kedua setelah angkatan 2015. Nah, angkatan 2012 ini angkatan yang paling unik. Aku bahkan tidak menyangka akan memiliki lingkaran yang semacam ini Dii. Entah bagaimana Allah mengatur alur ceritanya. Jika dibuat rangking semangat membina, maka angkatan 2012 ini adalah lingkaran dengan semangat paling rendah di antara yang lain Dii (dulunya), karena mereka masih sangat baru mengenal islam, aku harus susah payah jungkir balik menyusun kurikulum lingkarannya. Mereka lah yang paling sering menjadi korban "libur" dariku.

Sekitar 4 kali pertemuan dengan angkatan 2012 kubatalkan. Ada banyak alasan pembatalan, dari pulang kampung, sakit, dan kegiatan lain, dan aku tak begitu menyesal dengan itu. Sampai akhirnya hari kemarin datang....

Mereka, angkatan 2012 serentak (satu per satu di waktu yang sama) tanpa diskenario meminta melingkar lagi. "Lama tak melingkar," kata masing-masing dari mereka. Aku kira lingkaran ini akan bubar. Aku sudah pasrah. 4 kali libur itu adalah kabar buruk bagi sebuah kehidupan mentoring. Itu seperti keadaan kritis. Ternyata tidak untuk kelompok ini. Justru kelompok dengan grade paling rendah ini adalah kelompok yang paling merindukan melingkar. Mereka bilang rindu.

Allahuakbar. Aku telah sangat bersalah menyepelekan mereka. Tidak memprioritaskan waktu untuk mereka. Padahal mereka menganggapku baik di hadapan mereka, aku tega menomortigakan mereka. Aku malu. Aku menyesal. Aku ingin merevisi seluruh pola pikirku. Aku ingin kembali bersemangat membina. Membina siapa saja.

Mereka angaktan 2012.

Seperti sudah kubilang Dii, mereka adalah angkatan yang paling unik. Bayangkan saja, awalnya mereka adalah manusia-manusia yang tadinya terserak. Tapi akhirnya terkumpul dalam satu lingkaran, yang kami namai Lingkaran Cinta. Tiba-tiba aku menjadi melow...heuheu

Personil awalnya adalah 2 orang. 2 Diiiiii! 2!!!! Mereka berdua meminta aku untuk rutin membina mereka sepekan sekali. Lama, berjalan mentoring yang isinya hanya bertiga dengan aku ada di dalamnya, namun alhamdulillah dapat berjalan rutin. Mereka bahkan berawal dari tempat start yang berbeda. Pertama, ia adalah anak BEM yang dulu dekat denganku, dan kebetulan ia mengikuti tutorial lanjut, dan mbak tutornya terpaksa pergi lama dari kampus karena sakit parah. Aku menawarkan diri untuk "memungutnya" dan ia bersedia. Dapat satu orang. Selanjutnya, tak selang lama, ada satu orang perempuan yang sangat ingin bertemu denganku, ia rela menunggu lama, dan ia sangat antusias. Cerita singkatnya ia sedang galau dan ingin sekali memperbaiki diri, dan ia mendapatkan rekomendasi dari salah satu adik laki-lakiku di Fakultas Teknik. Kebetulan ia pernah menjadi panitia OSPEK fakultas teknik ketika aku menjadi Steering Committe. Kata adik laki-laki itu, "Ngaji aja sama mbak Ihti." Kemudian ia -perempuan penuh semangat ini- menemuiku sesuai rekomendasi yang didapatkan dan menceritakan segala hal. Mengagumkan, sekarang dapat dua orang.

Jumlah (yang hanya) dua orang bukan hal yang menyedihkan. Justru membahagiakan dan membanggakan. Dua kelompokku yang lain kudapatkan dari "pemberian" kegiatan. Itu bukan hal yang terlalu istimewa. Dua orang ini justru istimewa, karena mereka datang menghampiri dan kuhampiri, katakanlah ini adalah hasil dakwah personal, dua orang adalah pencapaian yang cukup.Tak apalah dua orang, dapat dua unta merah, seperti hadits Nabi, insyaAllah. Hadits tersebutlah yang membuatku terus bersemangat membina satu kelompok yang isinya adalah dua orang.

Lalu, ada satu temanku, dulu kami sama-sama mengemban amanah di BEM, kebetulan, ia mengambil mata kulian KKN (Kuliah Kerja Nyata) bersama adik-adik angkatan 2012. Kemudian, setelah lama tak ada kontak, ia tiba-tiba mengabari, bahwa ada satu anak angkatan 2012 yang mau "ngaji" denganku. Ia meminta agar aku membinanya dalam lingkaranku. Waaaah, ini nih....refleks aku suudzon Dii, biasa, beliau ini bukan tipe yang mudah tersinggung, jadi aku blak-blakan menanyakan, "Itu siapa?" Jangan-jangan pacar. Wkwkwkwk. ternyata adik perempuan itu adalah teman kelompok KKN nya. Dengan cerdas ia mempromosikanku di depan adik perempuan ini. Wah, wah, ternyata promosinya berhasil. Sekarang bertambah 1 jadi 3 orang Diiii!!!!! Hihihihi. Luar biasa. Satu orang ini adalah mahasiswi angkatan 2012 fakultas MIPA. Kau bisa bayangkan Diii? Bagaimana caranya aku bisa membina anak fakultas lain? Kalau bukan Allah yang mengatur alurnya, maka tak bisa terjadi seperti ini Diii. Luar biasa.

Kemudian hal yang lebih mengejutkan lagi, ternyata saat anggota baru dari FMIPA ini hadir di pertemuan pertamanya, ia membawa 1 teman kost nya. Sekarang jadi 4 Diiii! Alhamdulillah, Ya Allah, rasanya senang bercampur haru. Belum sampai di sana, ternyata, 2 orang yang kost nya sama ini masih memiliki 2 orang teman lagi di kompleks kost nya yang akan diajak melingkar, dan benar. Akhirnya bertambah 2 orang lagi di pertemuan selanjutnya. Sekarang jumlah nya jadi berapa Diii? Subhanallah, 6 orang sekarang Diii! Aku bahagia luar biasa. Dan ternyata mereka sangat antusias ketika belajar Islam bersamaku. Termasuk hari ini. Tiba-tiba aku sangat menyayangi mereka.

Secara umur, angaktan 2012 adalah angkatan yang paling dekat umur nya denganku. Awalnya aku khawatir akan ada sekat psikologis yang besar, antara aku dan mereka, karena dekatnya usia kami. Ternyata justru faktor umur itu yang mendekatkan psikologis kami.

Tidak henti aku mengucap syukur untuk semua nikmat ini Dii, aku semakin tak percaya terhadap kepercayaan yang menganggap bahwa teori kebetulan adalah teori yang benar dan nyata. Karena dari semua yang telah aku alami, aku sangat yakin bahwa setiap pertemuan pasti sudah diatur, oleh Allah SWT.

Skripsiku akan aku jalani mengalir. Karena nyata nya aku sangat sulit meninggalkan mereka, tak sampai hati meninggalkan  3 kelompok terlantar. Walaupun dengan begitu 3 dari 5 hari efektifku yang harus terkuras. Bismillah. Semoga Allah Ridho, dan semoga semangat ini terus terjaga.


Sabtu, 02 Januari 2016

Saatnya Berpetualang

Bismillahirrahmanirrahim,
saatnya berpetualang di hari-hari ke depan.

Saatnya kembali memacu adrenalin dengan segudang kesibukan. Program magang akan segera dimulai. Tidak terbayang seperti apa jadinya bercengkerama bersama keluarga orang. Tidak terbayang berkutat dengan rumah baru. Tidak terbayang berkumpul dengan orang-orang baru. Awal tahun yang menantang! Magang di tempat ummahat. Hwa speechless.

Make the best preparation 'ammah! :D

Skripsi harus segera selesai. Di pesantren harus dapet ilmu banyak. Segera laksanakan plan A atau plan B. Dan menabung untuk mendirikan yayasan pendidikan anak! Jalani satu persatu, ada Allah. :)

Manusia yang paling baik adalah yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Hari pertama di tahun 2016.
Selamat berpetualang 'ammah! Reach your dream! Happy find your partner! :D

Bismillah. :)




Rabu, 30 Desember 2015

Take me Home

Ya Allah,

i just want to tell my parents, Bah, Mi, just take me home. Aku merasa tak punya motivasi lagi untuk menyelesaikan semua ini. Bahkan takut untuk menyelesaikan semua ini. Rasa-rasanya aku tak ingin meneruskan perjuanganku menjadi seorang guru. I think it is not my true passion.

Aku tak ingin dipaksa, tapi paksaan kalian lah yang memotivasiku. I have to finish it as soon as i can, even as fast as possible. Tapi anehnya aku merasa aku malah tertarik dengan dunia lain, writing, human resources development, argh! tapi aku juga gag yakin. Sampai pada titik putus asa aku hampir ingin mengatakan, sudahlah nikahkan saja aku dengan lelaki yang bisa memenuhi semua kebutuhanku, and then i will not be so dizzy to create my own life, just flow, and flow, i will follow him without struggle. Tapi aku tak ingin berputus asa. Tapi aku juga tak punya solusi.

Aku tak mendapatkan kepercayaan dari kalian untuk menjalani bidang lain selain keguruan. Akhirnya aku pun takut menjalani bidang-bidang eksplorasiku.

Just take me home, Bah, Mi, and tell me much about teacher's life so i will understand it. 

Senin, 14 Desember 2015

Petemuan Kita adalah Rezeki

Ulil Albab

Baru saja kami duduk, dan mendengarkan al ustad bicara, kami langsung menertawakan diri sendiri. Ustad ini bilang, "Pertemuan kita di sini ya bapak-bapak, ibu-ibu, itu adalah rezeki kita hari ini. Ada yang tidak sengaja sampai di sini, ada yang hanya karna diajak tetangga lalu sampai di sini, ada yang memang sudah meniatkan hadir di sini, dan akhirnya kita bertemu."

Benar memang,
kami pun berdua datang tidak untuk tujuan mendengarkan ceramah ustad, tapi untuk tujuan lain, ternyata itu bagian dari rezeki yang tidak terduga. Dapat snack. dapat kalender 2016, dapat doorprise sabun colek, akhirnya memaknai bahwa semua itu adalah rezeki menjadi amat menyenangkan. Siapa yang menyangka sampai bisa dapat doorprise sabun colek, hihi meski sampai sekarang saya masih bertanya mau saya gunakan untuk apa sabun tersebut saking banyaknya. Pertemuan kami dengan ustad satu ini juga adalah rezeki, kami mendapat banyak ilmu dari beliau. Subhanallah, walhamdulillah....

Pertemuan kita adalah rezeki.

Pun, pada akhirnya, memaknai sebuah pertemuan sebagai rezeki menjadi pola pikir baru yang menyegarkan. Ya, kita jarang sekali mensyukuri pertemuan kita dengan orang lain sebagai sebuah rezeki.

Dan pada hari ini, aku tau bahwa rezeki berupa pertemuan itu adalah rezeki yang besar. Ya, rezeki besar. Siang hari ini, aku bertemu dengan adik-adik manis di sebuah masjid kampus di Yogyakarta, seperti biasa kami melaksanakan mentoring pekanan. Aku senang dek, bisa mengawal kalian bertumbuh selama kalian berada di kampus. Senang melihat kalian saling akrab satu sama lain, senang pula melihat perkembangan kalian sejauh ini dalam hal pengetahuan dan akhlaq. Senang kalian saling mengatakan iri dalam ilmu, senang kalian saling mengatakan rindu satu sama lain karena lama tak bertemu.

Bertemu kalian adalah sebuah rezeki besar tak terelakkan. Maka benar kata ustad Sunono, "Ya kalau Murobbinya sedang futur jangan sekali-kali meninggalkan mutarobbinya, lanjut saja membina, karena bisa jadi, para mutarobbi ini yang akan menjadikan murobbinya jadi gag futur lagi, maka beruntung punya mutarobbi." Kalimat-kalimat itu sangat dalam maknanya, menjadikan rasa syukur itu berlipat-lipat besarnya hari ini.

Tidak ada pertemuan yang tak berarti.

Dalam setiap pertemuan, kuingat-ingat lagi, hal apa yang bisa kudapat? Beberapa pekan terakhir lalu, kuingat banyak sekali pertemuan-pertemuan yang tak kurencana. Sepertinya ini juga nikmat yang sangat besar. Alhamdulillah, terimakasih banyak Ya Allah, Engkau Yang Maha memberi nikmat.

Ketika diminta menjadi guide ibu-ibu dari Bekasi untuk berlibur di Jogja selama dua hari, aku seperti bertemu keluarga baru. Kami akrab saling sapa. Apalagi dengan anak-anak nya, dek Safa, dek Sofi, dan kak Rois. Awal berteman dengan ketiganya adalah masa-masa sulit. Merayu, menantang, menggandeng, segala cara dilakukan. Ternyata pada akhirnya, mereka yang balik minta digandeng. Menyenangkan. Pertemuan kita adalah rezeki. Aku yakin itu. Suatu saat, jika kalian sudah besar dan bertemu denganku, eits,  kak Rois gag boleh dekat-dekat lagi, kak Safa dan kak Sofi kalian pasti akan jadi gadis yang cantik seperti ibu-ibu kalian. Jadi akhwat solihah dan ikhwan solih ya para jagoan.

Belum lagi pertemuan selanjutnya.

Setelah berhasil menjadi tour guide ke wisata Kulonprogo dan sekitarnya, akhirnya satu pekan selanjutnya mendapat kabar bahwa bapak ibu dan adik-adik seluruhnya datang ke Jogja, berlibur ke Gunungkidul, jadilah aku ikut berlibur ke Gunungkidul. It was amazing, when you can go for free on weekend. Free time, free money, those were freeDays! Alhamdulillah, dua pekan pertemuan liburan yang luar biasa. Liburan tak terencana, itu semua rezeki bukan?

Allah Yang Maha mengatur segalanya. Pun dengan segala pertemuan. Barangkali kita belum bisa mengetahui ada apa dibalik setiap pertemuan kita dengan setiap orangnya, tapi suatu saat, mungkin kita akan tahu alasannya.

Setiap pertemuan adalah rezeki.
Dan setiap pertemuan yang gagal atau pertemuan yang belum sempat, adalah bentuk rezeki yang sedang ditabung. InsyaAllah.



Wait for meeting you, for building house in Jannah, Partner.

Selasa, 10 November 2015

Apa yang Kau Cari Wahai Pejuang?

APA YANG KALIAN CARI WAHAI PARA PEJUANG?
(Catatan Kecil Paska Mukernas IV***)
Oleh : PakCah - KaWildWest
Setiap kali aku bertemu ikhwah wilayah dalam pertemuan nasional, hatiku begitu terharu.
Jauh-jauh mereka datang dengan segala pengurbanan. Dari berbagai wilayah yang berjauhan. Meninggalkan keluarga, pekerjaan, bisnis dan segala rutinitas lainnya.
Apa yang kalian cari wahai para pejuang?
Mereka menjalankan amanah sepenuh kesungguhan. Walau harus ada yang ketinggalan pesawat, atau terpaksa delay berjam jam dan terlantar di bandara. Semua tetap ditempuh dengan suka cita.
Datang tanpa bekal materi dan bahkan banyak yang tidak bisa memberi tinggalan bagi kebutuhan keluarga yang di rumah.
Sepenuh tawakal kepada Allah, mereka berangkat memenuhi panggilan tugas dakwah. Subhanallah.....
Apa yang kalian cari wahai para pejuang?
Membayangkan beratnya perjuangan mereka nanti sepulang acara nasional, membawa target untuk dicapai dan amanah program untuk dilaksanakan.
Luar biasa kesetiaan mereka menapaki jalan perjuangan yang penuh onak duri ini.
Apa yang kalian cari wahai para pejuang?
Tanpa terasa air mataku meleleh di pipi....
Merasa ada beban karena tak ada yang bisa kita berikan berupa sedikit bekal untuk meringankan beban mereka. Atau sedikit bekal sekedar untuk membelikan oleh-oleh bagi anak-anak mereka yang menunggu sepenuh rindu.
Ada istri yang setia menanti. Ada suami yang meridhai kepergian sang istri.
Betapa jalan perjuangan telah membuat mereka harus rela dan akrab dengan semua kesulitan rutin seperti ini.
Apa yang kalian cari wahai para pejuang?
Aku seka bulir-bulir air bening di pipiku. Kuteguhkan hati, menatap wajah mereka sebelum pergi, pulang ke wilayah kerja untuk berbakti bagi umat dan negeri.
Aku tatap wajah-wajah teguh itu. Subhanallah...
Apa yang kalian cari wahai para pejuang?
Sungguh bukan kesedihan yang aku rasakan. Namun kebanggaan.
Bukan rasa kasihan yang aku dapatkan. Namun gumpalan harapan.
Teringat pesan Kenabian yang sangat berkesan:
ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب ولا هم ولا حزن ولا أذى ولا غم حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه
"Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kegundahan, kesusahan, godaan, dan kesedihan, sampai duri yang mengenai kakinya, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya".
(Hadits Shahih Riwayat Imam Al Bukhari, dan Muslim).
Rupanya itu yang mereka cari dalam menjalani segala kesulitan dan kelelahan ini. Ampunan Allah. Itu yang mereka cari.
Bukan jabatan atau kedudukan. Bukan harta dan popularitas. Namun keridhaan Allah yang mereka cari.
"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
(QS. An Nisa' : 104).
Semakin tenang hatiku mengingat untaian ayat itu.
Kulepas mereka pergi. Pulang kembali ke wilayah kerja masing-masing untuk menggapai visi dan misi.
Air mataku masih meleleh. Namun aku tersenyum.
Esok pagi mereka mulai melaksanakan kerja besar ini. Membangun negeri dengan segala kesungguhan hati.
Ya Allah ridhai langkah kami.
Jakarta 4 Nopember 2015

Sabtu, 17 Oktober 2015

Cerita-cerita Sertifikasi AB1 KAMMI UNY



16 Oktober 2015

                     Hari ini, saya mendapati kisah yang luar biasa dari adik-adik saya persoal sertifikasi AB1. Cerita ini adalah cerita mengharukan di pagi hari saya di hari ini. Saya bangga memiliki adik-adik seperti mereka.
                Ceritanya, pagi-pagi saya membuat pesan broadcast ke peserta sertifikasi yang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti DM2. Pesannya adalah pesan seperti biasanya, hanya mengingatkan tentang sertifikasi. Selain itu saya juga mengingatkan tentang proses pendaftaran DM2, dimana ada beberapa tugas yang harus dipenuhi agar dapat dinyatakan lolos sebagai peserta DM2. Jadi ada 2 (dua) hal yang harus dilewati oleh seorang kader AB1 (Anggota Biasa 1) KAMMI untuk bisa mengikuti DM2, yaitu (1) sertifikasi (2) tugas-tugas dari KAMMDA penyelenggara DM2.
                Namun di UNY agak unik. Proses sertifikasi adalah proses yang sangat sakral. Proses yang sangat sangat dihormati oleh seluruh kadernya, dan tidak jarang proses sertifikasi ini akhirnya menjadi momok. Pasalnya, proses sertifikasi AB1 di UNY mengharuskan kadernya melewati 2 (dua) tahap, yang pertama adalah sertifikasi tulis, yang kedua adalah sertifikasi wawancara. Setelah sertifikasi tulis selesai, baru kader dapat lanjut ke sertifikasi wawancara.
                Maka dari itu, proses sertifikasi adalah proses yang panjang, dan membutuhkan effort yang lebih untuk dapat dinyatakan lulus sertifikasi. Nanti akan saya jelaskan tentang uniknya sertifikasi, kali ini akan saya ceritakan kisah haru yang saya dapati pagi ini.
                Melihat para kader yang mendaftar sertifikasi bekerja keras menjalani sertifikasi periode ini, dan setelah sekian lama sertifikasi berlangsung (bukan waktu yang sedikit), sekarang ini saya sudah sampai pada tahap “merasa kasihan” kepada mereka. Saya tahu persis bahwa mereka yang menjalani proses sertifikasi bukanlah orang-orang yang punya banyak waktu luang. Saya menjadi salah satu saksi proses sertifikasi yang mereka jalani, saksi kerja keras mereka, saksi pemenuhan komitmen dan tanggungjawab mereka. Mereka membaca buku dan membuat resume nya. Mereka harus rela melakukan wawancara di tengah-tengah kesibukan mereka, mengatur ulang kembali jadwal, menyesuaikan dengan jadwal tester. Sering pula mereka rela melakukan sertifikasi hingga tengah malam, pukul 24.00 (ikhwan). 
                Di dalam manhaj kaderisasi, departemen kaderisasi memiliki hak untuk dapat melakukan “percepatan” kader jika dirasa perlu. Pun dalam hal sertifikasi. Tim kaderisasi diperbolehkan melakukan kebijakan khusus untuk meluluskan kader-kadernya dari proses sertifikasi, dengan beberapa catatan. Saya pikir sudah saatnya saya menggunakan kebijakan khusus tersebut. UNY sedang memiliki banyak “pekerjaan”, karena momen sekarang ini adalah momentum mahasiswa baru memasuki kampus, ada banyak agenda yang dikerjakan, dan peserta sertifikasi kali ini adalah mereka-mereka yang menjadi “pekerja” nya. Maka dari itu mereka pasti sangat sibuk dan kelelahan. Ya, ini saatnya menggunakan hak istimewa, pikir saya.
                Lalu saya tawarkan kepada adik-adik saya, peserta sertifikasi. “Khusus untuk antum, antum diperbolehkan untuk fokus menggarap penugasan DM2.” Hal itu saya lakukan karena penugasan menuju DM2 sangat banyak dan tidak mudah. Tentu langkah itu diambil dengan beberapa pertimbangan dan perhitungan. Dengan hak istimewa ini mereka bisa langsung fokus pada pengerjaan tugas DM2 Sleman. Pesannya masih saya lanjutkan, “Pada tahap ini antum bisa ‘menomorduakan’ sertifikasi, tim kaderisasi akan mengusahakan jalan tol untuk antum.” Saya kira ini menjadi kabar gembira bagi mereka, saya lanjutkan kembali, “Namun, jika masih mau lanjut sertifikasi sangat tidak apa-apa.”

                Hal ini yang membuat saya terharu, saya memberikan pesan tersebut melalui PM (Private Massage), artinya tidak ada koordinasi di antara mereka. Namun, mereka serentak memberikan jawaban yang sama, meskipun dengan redaksi yang berbeda. Begini jawaban mereka, “InsyaAllah sembari lanjut (sertifikasi) ya mbak, dibarengi dengan ikhtiar.” Jawaban adik saya yang lain, “Tinggal 3 (tester) kog mbak, sante aja.”, Lalu jawaban satu adik lagi, “Hahah… Jangan memanjakan saya… Anak e tentara kog dialem.” Mereka seluruhnya memutuskan untuk melanjutkan sertifikasi sembari mengerjakan tugas DM2. Artinya mereka memilih level kesulitan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

                Ya Allah Ya Rabb, di tengah-tengah kepenatan saya, saya pernah berdo’a agar Allah memberikan kabar gembira kepada saya. Apapun kabar tersebut. Untuk mengendorkan urat-urat syaraf yang sedang tegang. Dan ini adalah kabar gembira yang membuat saya bernafas lebih lega dari sebelumnya. Mendengar jawaban mereka, saya menjadi sadar, bahwa saya telah merendahkan mereka. Ternyata mereka telah dewasa, mereka memilih pilihan mereka dengan penuh tanggung jawab. Proses panjang sertifikasi tidak mematahkan semangat mereka. Saya sempat heran, dan bertanya-tanya, bahan bakar semangat apa yang mereka gunakan. Saya senang melihat adik-adik saya bersemangat. Mereka akan naik jenjang menjadi AB2 dengan kapasitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Salut kepada mereka.
                'Beban' itu bukan beban yang ringan. Beberapa orang kalang kabut dan collapse menjalani sertifikasi. Namun mereka, membuat saya terharu dengan kerja keras dan ketulusannya.
                Proses sertifikasi semacam ini memang bukan sekedar bertujuan untuk mengetes tasqofah (pengetahuan) dan kemampuan teoritis kader saja, tapi sekaligus menguji jiddiyah kader, untuk menciptakan kader yang qowiy dan “tahan banting”.

Uniknya sertifikasi AB1 di UNY.

Ini uniknya. Ketika saya mengkomparasikan proses sertifikasi di UNY dengan kampus lain, sertifikasi di UNY terbilang unik dan “menggemaskan” bagi para kadernya. Alasannya, karena sertifikasi wawancara mengharuskan kader menemui beberapa “tester bidang” untuk dapat lulus sertifikasi. Sedangkan di kampus lain, cukup wawancara dengan 1 (satu) tester saja untuk dapat lulus sertifikasi.
Ada 7 tester bidang. Agar dapat lulus sertifikasi maka harus menemui 7 tester tersebut satu per satu, menyesuaikan jadwal tester. Jika dihitung, maka seorang kader minimal harus melakukan 7 kali pertemuan mendebarkan untuk melakukan sertifikasi wawancara. Ternyata tidak cukup di sana, jika ada tester yang merasa bahwa wawancara belum bisa dilanjutkan di pertemuan pertama karena di rasa pengetahuan peserta sertifikasi masih kurang tentang bab sertifikasinya, maka kader tersebut harus datang di pertemuan ke-dua.  Jika seluruh tester memberlakukan cara semacam itu, maka terhitung satu orang kader harus melakukan 14 kali pertemuan. Antara terharu, ingin tertawa, dan kasihan, namun sangat bangga dengan kader-kader yang bisa melewatinya.
Telebih, saya bangga memiliki adik-adik semacam mereka. Barakallah adik-adik. :) bertumbuhlah dewasa dan berkapasitas, dan yang paling penting bermanfaat untuk lingkungan sekitar sebanyak-banyaknya. Selamat berjuang. Fii sabilillah. Panggil saya jika kalian tidak menemukan saya di surga nanti ya.... Selamat berjuang fii sabilillah.


 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons