Sabtu, 02 Mei 2015

Qarun vs Sulaiman, Jangan Tiru Pengagungan Manusia seperti Dilakukan Qarun

Bismillahirrahmanirrahim...

Masih Ingat Kisah Harta Karun?

Selama ini kisah yang diketahui oleh anak-anak kecil tentang kisah harta karun adalah kisah tentang seorang bernama Qarun yang memiliki harta banyak lalu harta tersebut tenggelam ke dalam tanah. Lalu orang-orang apabila menemukan harta berupa emas, logam, atau sekedar benda unik dari dalam tanah mereka menyebutnya sebagai harta karun.

Itu lah mengapa istilah harta karun masih digunakan sampai sekarang. Tapi ada hal yang lebih penting sekedar kisah dongeng untuk anak-anak tentang Qarun yang terlupakan. Hal-hal yang terlupakan tersebut seperti halnya: Bagaimana Qarun bisa mendapatkan harta sebanyak itu? Lalu mengapa harta itu akhirnya tenggelam? Dan siapa yang menenggelamkan? 3 hal tersebut menarik untuk dimunculkan kembali sebagai bahasan.

Namun pembahasan akan lebih menarik ketika kita munculkan tokoh pembanding yang memiliki kesamaan: Sualaiman a.s. agar kita bisa memiliki pandangan yang lebih luas tentang kisah Qarun.

Masuk ke pembahasan pertama. Jadi sebenarnya Qarun itu ada atau tidak? Tokoh nyata atau fiktif? Saya tegaskan bahwa Qarun adalah manusia yang pernah menginjakkan kakinya di bumi yang sama dengan bumi yang kita injak sekarang. Kisahnya diabadikan di dalam Al-Qur’an, buku yang menjadi referensi manusia selama lebih dari 1000 tahun, dan tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun, sehingga isi kisah di dalamnya tak mungkin kita ragukan. (Cek Q.S. Al Qasas: 76)

Bagaimana Qarun bisa mendapatkan harta sebanyak itu?

Berita yang beredar, harta yang dimiliki manusia bernama Qarun ini sebanyak satu gerobak besar yang apabila diangkat oleh beberapa orang yang orang kuat saja mereka masih kesulitan. Kita membayangkan hartanya seperti apa? Sebesar gerbong kereta mungkin, sepertinya gerobak yang dimaksud tidak spesifik membicarakan ukuran dalam meter sehingga khayal kita bisa saja berbeda, tapi yang jelas gerobak ini benar-benar berat dan besar.

Tapi, ternyata harta yang ada di dalam gerobak tersebut adalah kunci gudang! Sejauh ini kunci gudang terbesar yang pernah kita lihat itu seberapa besar? Adakah yang sebesar gerobak? Saya rasa tidak. Itu artinya, kunci gudang yang dimaksud adalah kunci yang tidak hanya 1 jumlahnya, namun berupa kunci-kunci gudang yang kecil, yang jumlahnya (pasti) banyak. Kalau harta di dalam gerobak besar itu adalah kunci-kunci gembok, dan gerobak itu sangat berat, lalu berapa jumlahnya? Tentu saja jumlah kunci tersebut menggambarkan seberapa banyak jumlah gudang yang dimiliki Qarun!

Kata ustad Natsir Harits, Lc. “Apakah gudang-gudang Qarun berisi pasir dan batu? Sehingga perlu dikunci gembok? Tentu tidak!” Ya, pastilah gudang-gudang Qarun berisi harta berharga. Itu mengapa hingga sekarang kita mengenal harta karun adalah harta terpendam dalam tanah yang jumlahnya sangat banyak.

Lalu bagaimana Qarun bisa mendapatkan harta sebanyak itu? 

Orang yang bisa memiliki harta banyak di zaman sekarang adalah orang yang memiliki kepandaian mengelola bisnis. Orang yang pandai mengelola bisnis pastilah tahu tentang teori-teori ekonomi perdagangan, karena tidak mungkin seseorang yang tak memiliki ilmu yang memadai dapat mengelola bisnis dengan baik. Begitulah gambaran seorang Qarun. Ia adalah orang yang pandai mengelola ekonomi pada zamannya.

“...dan Kami telah menganugerahkan kepada nya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat...” Q.S. Al Qasas: 76

Lalu mengapa harta Qarun tenggelam?

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepada nya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.’” Q.S. Al Qasas: 76

Ayat tersebut sangat manis sebagai pembuka atau awal dari jawaban mengapa harta Qarun tenggelam, tidak lain dan tidak bukan adalah karena kesombongan (bangga diri) yang dilakukan Qarun. Seperti apa bangga diri yang dilakukan Qarun?

“Dia (Qarun) berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’...” Q.S. Al Qasas: 78

Harta Qarun tenggelam karena kesombongan dari pemiliknya yang menganggap bahwa harta sebanyak itu berasal dari kepandaian yang dimilikinya (saja). Berasal dari kerja kerasnya (saja). Berasal dari kelebihan yang ada pada dirinya (saja). Padahal dibalik itu semua, ada Yang Maha mengatur.

Siapa Yang bisa menenggelamkan harta sebanyak itu ke dalam tanah?

“...Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?...” Q.S. Al Qasas: 78

“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.” Q.S Al Qasas: 81

Harta yang sangat banyak yang dimiliki oleh Qarun barangkali jika akan ada yang mencuri kesemuanya ia tak akan sanggup karena beratnya, lalu siapa yang bisa menenggelamkan harta-harta tersebut jika bukan dzat Yang Maha Besar? Dzat Yang bisa melakukan apa saja yang Ia maui tanpa bantuan siapapun. Allah lah yang menenggelamkan harta Qarun. Bahkan tidak hanya Qarun, Allah pun telah membinasakan ummat-ummat sebelum Qarun yang berlomba-lomba mengumpulkan harta namun zalim terhadap orang di sekitarnya.

Dzat yang mampu menggerakkan tanah, memerintahkanya agar membelah, dan kemudian tanah-tanah tersebut menelan dengan sempurna harta yang berdiri gagah di atasnya. Siapa yang bisa memerintahkan tanah berbuat semacam itu? Hanya Allah. Allah saja yang bisa berbuat seperti itu.

Pelajaran.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisa Qarun adalah tentang manusia yang mengedepankan dunia. Ia mengumpulkan harta, dan berbuat zalim di antara kaumnya. Kemudian harta yang terkumpul ia klaim sebagai hasil dari kerja payahnya selama ini, berasal dari ilmu yang ia miliki semata.

Kesombongan luar biasa yang berani dilakukan manusia. Ini pula yang dilakukan oleh orang-orang Barat, yang berkiblat pada pemikiran manusia-manusianya. Mereka menganggap kepandaian Einsten lah yang membuat teori gravitasi dapat terungkap dan berkembang menjadi ilmu sains yang diakui seluruh dunia. Mereka menganggap bahwa Socrates, Plato, adalah pencetus ilmu sosial yang mahir, hingga banyak kepentingan politik berkiblat pada teori-teori nya. Mereka memandang permasalahan sains dan politik dari sudut pandang manusia cerdas yang mereka percayai. Dari kisah Qarun bisa kita lihat betapa kisah ini mirip dengan pemikiran Barat yang berpijak pada pengagungan semangat intelektual dan rasionalisme.

Sedangkan umat islam? Berkiblat pada Al Qur’an yang isi di dalamnya adalah seluruhnya perkataan Dzat Yang paling memiliki kuasa. Hal ini dapat tergambar dalam kepribadian Sulaiman a.s.

Sulaiman a.s. 

Sulaiman a.s. adalah sama sebagai manusia, sama dengan kita, sama pula dengan Qarun, pernah pula menginjakkan kaki di bumi yang sedang kita pijak, namun istimewanya ia adalah nabi yang (pastinya) memiliki keimanan tinggi. Sistem yang dianut umat islam dengan tidak mengagungkan pemikiran manusia, namun mengagungkan kebesaran Tuhannya tergambar dari sikap Sulaiman a.s.

Sulaiman a.s. yang juga merupakan raja yang kaya raya, memiliki kerajaan yang lantainya terbuat dari kaca yang dibawahnya mengalir air, kita bisa membayangkan betapa indah kerajaan tersebut. Dan tentunya kekayaan yang dimiliki Sulaiman a.s. dapat tergambar dari kerajaan yang dimilikinya.

Sama dengan Qarun, sama-sama kaya raya. Prinsip awalnya adalah siapa yang mampu mengumpulkan harta banyak maka ia bukanlah orang yang berleha-leha tak memiliki ilmu tentang pengelolaan harta. Ya, orang yang mampu mengumpulkan harta banyak pastinya dikaruniai ilmu yang memadai/memungkinkan ia bisa mendapatkan harta banyaknya tersebut. Sulaiman a.s. adalah manusia yang pandai. Pun bisa jadi sama dengan Qarun, namun bedanya, ketika Qarun ditanya tentang hartanya kemudian menjawab dengan sombongnya bahwa harta tersebut dapat ia peroleh dari ilmu yang dimilikinya, maka Sulaiman a.s. mengatakan hal yang lain.

Sebagai seorang muslim yang taat, ia mengatakan bahwa harta yang diberikan kepadanya adalah keutamaan Tuhannya, dimana Tuhannya sedang menguji apakah dengan harta itu ia akan bersyukur atau kufur (mengingkari nikmat).
Begitulah Sulaiman a.s. bersikap.

Sulaiman a.s. menyadari betul ada yang berperan di belakang semua kesuksesan dunianya, yang membuat semua kesuksesan itu dapat terwujud, yaitu Allah S.W.T Bahkan Sulaiman menganggap bahwa harta nya yang banyak itu bukanlah sebenar-benar nikmat namun Sulaiman menganggap itu sebagai ujian, dari ujian itu ia memiliki pilihan akan bersyukur atas kehendak Allah menjadikannya sukses, atau kufur dengan menganggap bahwa kesuksesannya adalah hasil kerja kerasnya semata. Lalu Sulaiman memilih untuk bersyukur dengan harta itu, dengan menyadari sepenuhnya bahwa harta tersebut datangnya dari kehendak Allah semata.

Berbeda bukan? Antara Qarun dengan Sulaiman? Antara Barat dan Islam?

Terlihat jelas perbedaannya. Yang satu berbicara ‘keagungan’ manusia, yang satu berbicara keagungan Tuhan. Dua hal yang tidak bisa disandingkan untuk disamakan derajatnya.

Maka sebagai umat islam, kita wajib mengambil hikmah dari kisah Qarun dan Sulaiman, mengambilnya sebagai pelajaran dalam hidup kita.
-Ini tentang pola pikir kita tentang mengagungkan manusia atau Tuhan-

Jumat, 01 Mei 2015

Dalam Berbagai Keadaan, Tetap Jadilah Orang Paling Sopan

Semakin aku dewasa semakin aku tahu bahwa aku tak mungkin tak bertemu dengan orang lain. Baru satu langkah keluar dari kamar maka akan ada minimal satu orang yang akan kutemui. Keluar dari rumah, aku akan bertemu dengan orang-orang lainnya.

Tak hanya orangnya yang beragam, kondisinya pun lebih beragam. Dalam kondisi senang, sedih, marah, bahagia, dan lain sebagainya tak sepantasnya berlaku tidak sopan kepada orang lain.

Bagaimanapun perasaanmu, yang harus terus kau lakukan adalah bersikap sopan kepada siapapun dalam keadaan apapun.

Merendahlah! Merendahlah!

Karena hubungan baik dengan manusia adalah tanda hubungan baikmu dengan Allah. Merendahlah.

Dalam berbagai keadaan, tetap jadilah orang paling sopan.

Jumat, 17 April 2015

Pemimpin dan Pengaruh

Bismillahirrahmanirrahim...







Setelah menonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto, salah satu kesimpulan yang saya dapat adalah soal pemimpin dan pengaruh. Bahwa sejatinya, siapa yang berhak menjadi pemimpin adalah ia yang paling banyak membawa pengaruh. 

Karena jelas, seorang HOS Tjokroaminoto diminta untuk memimpin SI (Sarekat Islam) yang sebelumnya berada di kepemimpinan orang lain adalah karena pengaruh yang dimiliki Tjokro sangatlah besar, hinga ia disebut-sebut sebagai "jang oetama".

Entah penggambaran dalam film tersebut yang dilebih-lebihkan, atau memang begitu adanya, saya hanya terpesona dengan kharisma seorang Tjokroaminoto yang diperankan oleh Reza Rahardian. Ketika saya menonton saya hanya bertanya kepada diri saya sendiri, kapan terakhir saya melihat ada seorang pemimpin yang begitu dipercaya, begitu berpengaruh, begitu dihormati, sekaligus begitu disayang oleh rakyatnya? Pak RT? Sepertinya tidak, Pak RW? entah.

Sebelum ia memimpin ia membawa banyak pengaruh baik ke rakyat, ini titik pentingnya, bahwa ia didaulat menjadi pemimpin karena ia berpengaruh, bukan sebaliknya. Bukan ia didaulat terlebih dahulu kemudian ia membawa janji-janji pengaruhnya bersama jabatannya, kemudian mulai melakukan apa yang menjadi janjinya. Tjokroaminoto besar dari lingkungan kecil yang kemudian membesar, menguat, dan terus meluas pengaruhnya setelah ia di daulat menjadi pemimpin.

Pun sama dengan seorang Ahmad Dahlan. Ia adalah orang yang mampu membawa pengaruh, kemudian ia membentuk perkumpulan Muhammadiyah dengan kekuatan pengaruh yang ia punya. Lalu organisasi itu membesar dan meluas, karena pengaruhnya pun semakin besar dan semakin luas, dan terbukti bahwa pengaruh keduanya membawa perubahan.

Pengaruh dan perubahan.

Ujung harapan dari sebuah pengaruh yang dibawa adalah sebuah perubahan. Perubahan dari semula tidak baik menjadi baik, yang semula kurang menjadi cukup, yang semula jelek menjadi lebih baik. Itu fungsi pengaruh. Pengaruh sebagai motor penggeraknya, rakyat yang dipengaruhi adalah mesin perubahan dan perubahan itu sendiri sebagai bahan olahannya. 

HOS Tjokroaminoto membawa pengaruh besar dan akhirnya menghasilkan perubahan berupa kepercayaan diri rakyat SI untuk berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), bahwa rakyat biasa memiliki kesamaan hak dengan para priyayi sebagai manusia, bukan sebagai budak. Pemikiran yang dibawa Cokro meluas kepada anggota SI yang tersebar di kepulauan Indonesia. 

Ahmad Dahlan, membawa pengaruh besar dan akhirnya menghasilkan perubahan berupa kesadaran rakyat untuk mampu menyelenggarakan pendidikan lewat taman-taman belajar yang dibuat sendiri, bukan buatan Belanda, karena ia berpikir bahwa pendidikan sangat penting. Pemikirannya itu mampu mempengaruhi banyak orang, hingga banyak orang tergugah untuk membuat sekolah-sekolah Muhammadiyah, hingga sekarang.

Ada banyak orang yang punya pemikiran besar. Tapi hanya sedikit dari mereka yang mampu berpengaruh di hadapan banyak orang. Di antara yang sedikit tersebut, lebih sedikit lagi yang mampu menjadi pemimpin. Di antara yang sedikit yang mampu menjadi pemimpin, lebih sedikit lagi yang dapat menjadi bijak. 

wallahualam bissowab, 
tapi saya yakin, yang paling sedikit di antara yang sedikit itu masih ada. Saya melihat itu di dalam diri beberapa orang rekan.




Senin, 30 Maret 2015

Tentang Mimpi

Allah itu memberi hidayah dari mana saja ya ternyata...Termasuk hidayah yang Ia berikan pada saya hari ini.

Ini tentang mimpi.

Sebelumnya terimakasih kepada mas Aziz yang telah membantu saya mendapatkan mimpi saya.

Masih pagi, datang pertanyaan, "Kira-kira realistis tidak jumlah segitu?" Kami sedang membicarakan targetan kuantitas sebuah rencana.

Spontan saya menjawab, "Sejak kapan mimpi itu harus realistis? kalau setiap mimpi harus realistis mungkin amstrong gag akan sampai ke bulan...."

"...biar lapangan yang menyesuaikan target, bukan sebaliknya," begitu saya menjawab meng iya kan targetan.

Setelah saya jawab pertanyaan beliau itu saya merasa beliau ini sedang bercanda. Beliau tidak benar2 sedang bertanya.Beliau bertanya bukan karena beliau tidak tahu, melainkan beliau bertanya untuk memberi tahu.

Ternyata cukup "licik" juga caranya. Tanpa sadar dengan menjawab pertanyaan itu saya terpancing memberikan motivasi pada diri saya sendiri.

Ini tentang mimpi.

Bahwa mimpi tak harus realistis. Biar lapangan yang menyesuaikan targetan, bukan targetan atau mimpi yang menyesuaikan lapangan, memberikan kesadaran tentang mimpi.

Ini benar2 tentang mimpi.

Terimakasih pula Eka, postingan anti di grup Pusat Informasi Asma Amanina V membukakan mataku lebih lebar lagi.

Di sana diceritakan ada seorang anak, bekerja keras menghafal alqur'an, siang, dan malam, yang menakjubkan adalah doanya. Do'anya ketika terluka parah, "Ya Allah tolong aku.. tolong aku.. aku masih ingin menghafal Qur'an."

Sungguh, ini tentang mimpi. Akhirnya ia mampu menuntaskan hafalannya di usia 9 tahun. Katanya, ia ingin sekali memasangkan mahkota pada kedua orang tua nya nanti di akhirat, melalui hafalan al Qur'an nya. Itulah mimpinya. Ia punya mimpi, dan setelah ia punya mimpi, hari2 nya dipenuhi semangat mewujudkan mimpi.

Para pemimpi punya semangat, para pemimpi punya ghirah, para pemimpi punya alasan, alasan mengapa ia hidup hingga akhirnya ia mampu memutuskan bagaimana seharusnya ia hidup, karena mereka punya MIMPI.

Mimpi tentang masa yang ada di depan. Mimpi masa depan. Kemana saja aku selama ini?

Mimpi? Telah lama hilang. Seolah, hidup tanpa tujuan. Terlalu terbelenggu dengan realita-realita lapangan. Terlalu memikirkan omongan-omongan orang.

Lihat, mata orang-orang yang punya mimpi... Mata itu punya pandangan tajam. Fokus pada apa yang ia impikan.

Masih tentang mimpi, hari ini luar biasa.

Saya belajar, bagaimana kekuatan mimpi bisa menjadi pegangan, ia menjadi tali pengikat.

Saya, dengan target tantangan yang diberikan menjadi punya pegangan, ketika belum mencapai target, maka saya tak akan berhenti bekerja keras dan saya berpegang pada mimpi saya.

Ia, anak kecil yang mempunyai mimpi memasangkan mahkota terang di kepala kedua orangtua nya, ketika suatu saat ia lalai menghafal, maka ia segera sadar kembali karna teringat kembali akan mimpinya, ia punya pengikat, yaitu mimpinya.

Dan malam ini,

Ustad sunono, membukakan mata saya kembali, menginspirasi apa yang harus saya mimpi kan.

Menjadi orang berpengaruh.

Beliau memaparkan, bahwa negeri ini sedang dalam keadaan payah. Payah sekali. Karna minim orang baik yang berpengaruh. Sedangkan hal-hal berpengaruh sangat getol dibawakan oleh orang-orang yang membawa keburukan.

Kata ustad, tapaki jalannya, sabar ikuti likunya, butuh waktu. Karena menjadi berpengaruh itu soal kapasitas dan pengalaman.

Solih sendiri itu tidak bijak, lebih bijak solih sosial, solih berjamaah. Maka dari itu, jadilah orang berpengaruh. Ajak banyak orang menikmati indahnya islam.

Mimpi ini.

Menjadi apapun kelak, yang harus saya bawa adalah pengaruh baik.

Dulu, saya pernah punya mimpi, suatu saat minimal harus jadi ketua RT. Atau, kalau tidak, jadi istrinya ketua RT. #hihi. Lalu naik, naik, dan terus menaik. Lalu menyebarkan pengaruh baik, meluas, dan terus meluas.

Simpel.

Mimpi.

Dan sekarang, aku tahu apa yg harus aku mimpikan. Bermimpi dan menunggu hari itu menjadi kenyataan satu persatu. Melalui 7 tahapan, 7 maratibul amal. Karna mimpi tak harus realistis, beranilah bermimpi. Tapaki satu persatu tangganya.

Jadi apa mimpimu?

Minggu, 15 Maret 2015

Bukan Aku Tidak Peka..

Bukan aku tidak peka, aku hanya takut rasa ini hanya rasa ke ge-er an saja.

Sering kali dik, sering kita saling memberi tanda, saling gengsi pula menerima tanda.

Namun di belakang, kita saling memendam cinta. Hanya saja aku trauma, aku trauma jika aku bukan lah orang yang kau maksud.

Dengan tanda yang kau berikan atau tidak kau berikan, aku tak ingin bereaksi beerlebihan, hanya agar aku bisa membuktikan bahwa cinta ini tak akan berubah padamu, dengan balasan atau tanpa balasan cinta darimu, dik. Cinta ini tetap besar untukmu.

Aku mencintaimu karena Allah, Allah mempertemukan kita dengan cara yamg indah ya... Pertengkaran, kekecewaan, saling mendiamkan, rupanya pertemuan pertemuan kita terisi hal-hal menyedihkan.

Seperti dalam catatanku sebelumnya, bahwa sekarang aku tahu, dari hari-hari yang kita lewati bersama kau menemui berbagai kekecewaan dalam diriku, kau menemui cacat yang membuatku compang camping di hadapanmu, tapi anehnya kau tak juga pergi dariku, tak seperti orang lain yang mudah datang namun mudah pergi pula.

Kau mau bertahan memyebutku dengan panggilan paling menyenangkan didengar, "mbak..
." Panggilan penghormatan seorang adik pada kakaknya. Ya, terimakasih telah bertahan menyebutku "mbak", meski aku tak pantas, meski aku tak sempurna.

 Dari hari-hari yang kita isi bersama, kekecewaan kita selesaikan dengan tabayun, dan berakhir indah. Marah, kita selesaikan dengan melampiaskan marah agar kita bisa memberi tahu dimana letak salah... Lalu kita saling meminta maaf dan lagi-lagi berakhir indah.

Kita seringkali salah tingkah, berusaha memberi tanda cinta namun kita saling berpura-pura tak peka. Akupun geli manggilmu "dik", kita tak terbiasa romantis di hari-hari sebelumnya bukan...

Namun aku senang, kau menuliskan " kode" bahwa kau senang memanggilku dengan sebutan "mbak". Meskipun aku tak tahu, tulisan itu ditujukan padaku atau bukan, jangan-jangan untuk orang lain. Itulah, aku hanya takut ke ge-er an saja...

Bagaimanapun, seperti yang kukatakan, dengan atau tanpa tanda balasan cinta darimu, besar cinta ini InsyaAllah tak akan berubah.

Untuk dik Atika Widadty.

Jadi, tulisan itu untukku atau bukan?

Seperti nya aku saja yang terlalu ge-er..

Jumat, 13 Maret 2015

Squad 127

Kami menamainya 127, karena ranti tidak menyukai angka genap. Angka 127 adalah angka penyemangat bagi kami.

Sejak awal saya mengatakan bahwa ke depan saya tidak akan banyak menuntut keada mereka, karena saya tahu amanah-amanah berat di pundak mereka pasti juga memanggil-manggil.

Sakdiah. Ia adalah lambang kesabaran. Ia adalah orang yang sangat sabar, ditandakan dengan tak ada keluh yang keluar dari mulutnya. Kecuali jika telah benar-benar ia tak dapat menahannya ia akan menjadi orang yang paling sedih di hadapan. Sampai-sampai saya tak percaya kalau ternyata ia bisa menangis.

Rahmat Maulana, adalah lambang passion. Tak banyak yang memilki passion sebesar yang ia punya, passion yang beriring effort.

Rohmanto. Adalah lambang kerja keras. Ia tak banyak bicara, namun sekali kerja ia tak banyak bertamya dan segera bertindak. Ia seorang pekerja keras, terlihat dari raut wajahnya.

Ranti Wulandari. Lambang militansi.. Ia seorang yang bergerak cepat. Apapun akan diterjang jika ia telah yakin apa yang dilakukannya adalah benar. Ia bergerak cepat, licin, militan.

Dena veedya. Ia lambang keteguhan. Ia tak mudah goyah dan tak banyak komentar. Teguh pendiriannya.


Terimakasih Telah Bertahan

Ya aku memang tak sempurna. Jangan paksa aku untuk menjadi sempurna.

Aku mengerti tatapan itu. Tatapan kecewa.

Itu adalah tatapan yg paling tidak aku inginkan, aku memang tidak sempurna dik. Aku bukan kakak yg sempurna, bahkan untuk dikata ideal pun tak sampai.

Terimakasih kau telah belajar memberikan tatapan yg lebih baik. Kau belajar menerimaku apa adanya. Aku senang, sangat senang dengan tatapan hangat itu.

Sampai aku tersadar, bahwa orang-orang yang mencintaiku adalah bukan mereka yang mengagumiku, mereka yang memberikan pujian, mereka yang ada di saat senang, namun mereka yang mencintaiku adalah yang mau bertahan denganku saat ada cela dalam diriku, yang tetap memberikan tatapan kesabaran dan perhatian saat aku compang camping jauh dari kesempurnaan.

Tidak banyak orang yang seperti itu. Yang banyak adalah mereka yang memuji lalu pergi, yang banyak adalah yang mengagumi lalu tak terlihat kembali.

Dan kau, bertahan dengan tatapanmu seolah mengatakan, "mbak aku ada di sini, tidak pergi."

Aku mencintai kalian karna Allah, seorang kakak itu hidup untuk adiknya selayaknya seorang ayah atau ibu hidup untuk anaknya.

Didedikasikan untuk dik Zaky Mubarok Izzudin, dik Atika Widadty, dan dik Sakdiah.

Maybe someday this note will be so usefull

Kamis, 12 Maret 2015

Sequel Jambu Biji 13 - Hampir Separuh

Ahad.

Aku masih ingat dengan hari itu. Murobbiku menanyakan, tentang kapan kami berdua bisa mengobrol, hanya berdua.

Aku bilang, kenapa tidak sekarang saja, besok besok barangkali susah mencari waktunya.

Aku berprasangka ini pasti tentang sesuatu yang genting. Kalau tidak, tidak mungkin hanya diobrolkan berdua saja, tidak boleh ada orang lain yang mengetahui.

Benar.

Kami masuk ke ruangan yang tidak ada siapa siapa kecuali kami berdua dan Allah saja. Herannya, beliau membuka percakapan kami dengan mengucap salam. Saya kaget. Seberapa penting hal yang akan dibicarakan... Sampai harus dimulai dengan salam.

Aku menjawab salamnya, dan duduk kaku. Ada apa ini?

Perbincangan hanya sebentar, hanya 1 buah pertanyaan. "Ihti, apa ihti sudah siap menikah?"

Haikkk? Pertanyaan macam apa ini?

"Ihti belum siap mbak, karna ihti belum bisa fokus k dua hal sekaligus, biar ihti selesaokan kuliah ihti dulu.."

"Baiklah kalau begitu, wassalamu'akaikum wr.wb."

Kemudian kami berdiri dari tempat duduk kami masing masing. Aku berusaha biasa saja. Tapi sesampainya di rumah aku bertanya-tanya, ada apa?

Tak kuat menahan penasaran, aku tanyakan pada murobbiku. Dan beliau menjawab, "Karena ada yang nembung ihti."

Nembung. Itu adalah bahasa Jawa yang kalau dikontekskan ke pembicaraan ahad siang itu bermakna meminta (ada yang memintaku untuk menikah dengannya).

Siapa?

Itu tidak penting.

Yang lebih penting adalah aku merasa sangat bodoh.

Bagaimana tidak. Ini adalah jawaban dari do'aku. Dan saat jawabannya sudah datang aku menolaknya.

Di situlah bodohnya aku, meminta sesuatu yang belum siap kuterima.

Beberapa hari sebelumnya, aku berdoa agar dibukakan pintu jodoh, karena aku merasa sudah sangat galau (apa kalian juga merasakannya?)

Kenapa aku berdoa minta dibukakan pintu jodoh? Itu iseng yang keterlaluan.

Jauh sebelumnya, aku pernah memgalami musibah ekonomi. Kemudian aku meminta supaya Allah mbukakam pintu rezeki. Dan benar. Sorenya Allah benar-benar membukakan.

Kemudian aku punya pikiran, barangkali jika aku berdoa minta dibukakan pintu jodoh Allah akan membukakan.

Benar!!!!

Dan saat pintu itu dibuka, aku belum siap memasukinya. Meminta sesuatu yang belum siap diterima, konyol atau bodoh?

Tapi sekarang itu menjadi pelajaran berharga buatku. Bahwa:
1 semuanya itu gampang bagi Allah
2 kita tidak tahu doa mana yang akan dikabulkan oleh Allah, maka seraya berdoa, kita iringi dengan mempersiapkan.
3 Allah benar-benar telah menyiapkan jodoh untuk kita. Tinggal waktunya.

Jumat, 06 Maret 2015

Pemimpin yang Sabar

Suatu hari, ada seorang sahabat nabi yang diberi amanah oleh Umar ra untuk menjadi seorang gubernur.

Kebetulan ruang kerjanya dekat dengan pasar.

Pasar,

pada zaman dahulu, pasar tidak hanya digunakan sebagai pusat pertukaran barang, tapi pasar sangat strategis digunakan sebagai tempat mendapatkan informasi.

Lebih dari itu, tidak hanya untuk mendapatkan, tetapi juga untuk bertukar informasi. Bayangkan ketika dulu tidak ada alat komunikasi jarak jauh, dan tidak ada toko-toko atau tempat publik yang tersebar seperti sekarang. Lalu dimana orang-orang akan berkumpul? Ya, di pasar. Sekali mendayung sua tiga pulau terlampaui. Sekalian bertukar barang, sekalian bertemu, sekalian bertukar informasi. Berkumpul di pasar adalah kesempatan bagus bagi mereka.

Sampai- sampai, informasi yang ditukarkan tidak terfilter. Gosip, gunjingan terhadap juragan ini juragan itu, keluhan terhadap pemimpin, dan berita-berita lainnya sangat mudah keluar dari mulut. Dan mulut yang satu akan sangat mudah merespon mulut lainnya. Saat itu, informasi memiliki nilai harga sangat mahal, karena jarangnya pertemuan.

Maka pasar menjadi tempat yang sangat berisik. Banyak orang membicarakan masalah sosial pemerintahan yang lebih banyak mengarah ke keluhan.

Karena dekatnya letak kantor sahabat (yang menjadi gubernur ini) dengan letak pasar, ia merasa terganggu. Hingga akhirnya ia membangun tembok tinggi yang memisahkan antara kantornya dengan pasar. Alhasil suara-suara sumbang dari pasar tak lagi terdengar.

Perbuatannya ini ditegur oleh Umar yang keras namun berhati lembut.

Seorang pemimpin tidak seharusnya membatasi telinganya dari apapun yang dikatakan rakyatnya.

Pemimpin: jabatan yang apabila digunakan untuk menerapkan prinsip keadilan maka pemimpin adalah sebaik baik jabatan, namun sedikit saja membuat kedzoliman, maka tidak bisa dielak jika jabatan pemimpin adalah seburuk buruk jabatan.

Dan proses mendengar adalah salah satu usaha menjadi pemimpin yang adil. Dan mendengar ternyata membutuhkan skill kesabaran. Itu kenapa pemimpin yang adil tidak mudah mutungan, karena ia mampu bersabar. Semoga yang sedang menjabat sebagai pemimpin dimudahkan untuk bersabar, dan dapat menjadi pribadi pemimpin yang adil, aamiin.

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons