Rabu, 26 Maret 2014

Garuda Ini Beranjak Dewasa Bah, Mi

Bismillahirrahmanirrahim,

Meskipun aku kini sudah dewasa, aku tetap menganggap diriku bagian dari Garuda Keadilan (insyaAllah masih bisa menyandang status ini mumpung belum menikah :D_). Karena sejatinya Garuda Keadilan adalah komunitas anak-anak. Ya, anak-anak yang menuntut keadilan dari kedua orang tuanya yang sering meninggalkan rumah dan sering membatalkan agenda akhir pekan dengan alasan ada urusan. :D Becanda kog, insyaAllah kalaupun ada urusan, itu adalah urusan dakwah, dan insyaAllah, kami akan tetap menjaga husnudzon itu hingga menua nanti.

Masih teringat betul, dulu ketika tinggiku baru 120an, Abah menggandengku ketika turun dari bis sekaligus sesekali menggendongku, bersama orang ramai yang aku tak tahu darimana saja mereka berasal, namun mereka berseragam senada denganku dan dengan Abah. Segerombolan anak-anak kecil yang lain bersama orang tua mereka juga menuju titik yang sama, GBK, Gelora Bung Karno.

Ah lucunya, dulu, ketika aku bisa mengibarkan bendera besar yang dikibarkan juga oleh orang-orang dewasa di sekelilingku saat itu, rasanya bangga turut serta memutihkan GBK. [2004]

Abah, Umi, garuda ini telah beranjak dewasa. Meskipun tahun ini tak bisa mengulang kembali kenangan di GBK, tapi hari ini [25/3], aku berangkat dengan tak lagi bergelayut, berangkat dengan tak lagi bermanja, namun berangkat dengan penuh rasa bangga, bahwa garuda ini turut memutihkan Maguwo Harjo, Yogyakarta. Cukup untuk membangkitkan kenangan bertahun-tahun lalu itu.

Terimakasih Umi, terimakasih Abah, telah mengantarkanku hingga 17 tahun lamanya, menyandang nama Garuda, dengan euforia yang ada. Tapi sekarang, umurku mendekati 21 tahun, tak layak hanya urun dalam euforia, seharusnya ada hal lebih yang bisa kulakukan. Dan sejak berumur 18 tahun lalu, aku baru mengerti, apa tugas Sang Garuda, aku baru menyadari kenapa aku disebut Garuda, aku baru bisa berfikir dan memantapkan diri mampu menanggung segala resiko menjadi anak kader PKS.

Ya, semenjak masuk ke kampus, aku dipaksa mengerti, aku dipaksa memahami tanpa banyak tanya. Walau sebenarnya aku benci dengan itu semua. Tapi baru kusadari dan kurasakan hasil dan efeknya memasuki usia dewasa.

Tentang rasa benci.

Mungkin jika sejak bayi aku sudah bisa membenci, maka aku membenci Abah dan Umi selama 17 tahun lamanya. Aku benci Abah dan Umi yang mendidikku dengan cara keras, aku benci dengan peraturan-peraturan ketat, aku benci harus menangis di hadapan teman-teman hanya karena dimarahi, terlebih dimarahi karena urusan sepele.

Aku benci ketika pulang ke rumah tak ada makan siang tersedia, karena Abah dan Umi belum pulang juga.

Aku benci ketika orang tua teman-temanku mengambil rapor dan menanyai nilai dan rangking mereka, tapi Abah dan Umi tidak melakukannya.

Kemana Abah dan Umi(?!).

Aku benci ketika Umi lebih banyak mengurusi anak-anak orang, daripada mengurusi anaknya sendiri, pergi pagi pulang sore, dan petangnya tak ada waktu untuk kami.

Ampun, Bah, Mi, ampun, aku kini tau, tau sepenuhnya(!) :’)

Masa Memasuki Kampus.

Semenjak masuk kampus, aku bertemu orang-orang hebat, yang menyadarkanku tentang dakwah ini. Kini, garuda ini kembali menyandang namanya dengan bangga, Garuda Keadilan, dengan separuh kesadaran, di awal masuk kampus. Sedangkan sekarang, (aku mantapkan kembali bahwa) aku mengerti dan memahami sepenuhnya, ya(!), dengan sepenuh kesadaran.

Awalnya kupikir untuk apa menggelar nama Garuda di dada, bahkan aku sempat membencinya, bukan lagi dikatakan sempat kalau sudah 17 tahun lamanya, tapi aku rasa itu benci yang membabi buta.

Benciku salah,

Ya, benciku salah,

Di kala ada banyak mahasiswa tak mengetahui orientasi hidupnya, berkat didikan Abah dan Umi 17 tahun ditempa, aku tak mengalami kesulitan tentangnya, dengan bekal agama dan didikan keras yang kalian berikan .

Di kala banyak teman-temanku diambilkan rapornya, dan ditanya rangking berapa, Abah dan Umi memang tak menanyakannya, tapi entah bagaimana kalian bisa tahu terlebih dulu sebelum aku berinisiatif memberi tau. Rupanya kalian menggunakan cara-cara yang tak biasa untuk memberikan perhatian ke anak-anaknya.
Persoal makan siang belum tersaji di meja, waktu di petang hari yang bahkan tak bersisa, ampuni aku yang membenci kalian karenanya. Dulu aku mengutuki diri ini kenapa menyandang nama Garuda, sejak awal masuk kampus sudah harus ‘bekerja’ berat, ketika aku bertanya kenapa begitu kenapa yang lain tidak, jawabannya selalu: suatu saat kau akan tau, atau mentok-mentok jawabannya adalah: karena kau Garuda. Sejak saat itu aku mencoba tak banyak bertanya, hanya menyimpan sisa-sisa benci dalam hati, dan mencoba terus menunggu yang bernama ‘suatu saat’ itu tiba.

Sejak saat itu pula, aku merasakan usaha untuk sekedar memenuhi makan pagi, makan siang, makan malam, dan segala kebutuhanku sendiri. Rupanya tak gampang. Sering aku mencoba menahan lapar saat siang, dan kembali terkenang ketika dulu makan siang tak tersajikan di meja makan. Sekarang aku sudah belajar memaafkan. Ternyata menyiapkan makan siang ketika ‘kerja berat’ sedang disandang bukanlah pekerjaan mudah. Kini aku yang merasakan pergi pagi pulang petang. Lelah? Iya, tapi jika teringat Umi sudah melakukannya sejak dulu, aku hanya mencoba menahan untuk tidak memukuli diri sendiri, dan mengutukinya mengapa dulu sempat membenci. Seharusnya sekarang aku membenci diri sendiri.

Dulu tak jarang Abah harus pergi malam hari dalam jarak yang jauh, dengan alasan liqo. Umi selalu menunggui untuk membuka kunci di malam hari. Dulu aku juga membenci itu, kenapa harus malam hari, membuat khawatir orang rumah saja, apa sih liqo’ sampai harus segitunya. Ampun Bah, Ihti minta ampun. Kini aku sadar, betapa penting menjaga liqo’.

2014.

Dengan sadar, aku mengubah rasa benci itu sepenuhnya menjadi CINTA. Kini (karena sekali lagi mumpung belum menikah) aku dengan bangga menyandang kembali nama Garuda, Garuda Keadilan.

Aku memilih jalan ini, merasakan apa yang dulu (bahkan sampai sekarang) Abah dan Umi rasakan, menjaga keistiqomahan dalam agama Islam. Aku memilih jalan ini dengan sepenuh kesadaran, ya, kini aku sadar dengan sepenuh kesadaran, aku memilihnya, bukan ikut-ikutan, dan bukan fanatisme semata.

Aku tak ingin menjadi orang yang fanatis, maka aku memilih karena aku berfikir. Aku memilih karena sekarang aku faham dan mengerti. Aku memilih dengan segala konsekuensi tenaga, fikiran, dan hati.

Aku memilih jalan ini.

Dakwah ini berat, dakwah ini berkerikil, dakwah ini sesekali berbau amis darah, dakwah ini sesekali dipenuhi cerca, dakwah ini tak jarang dipandang sebelah mata, namun sudah kupenuhi hati ini dengan cinta. Pesan dari salah satu orang tua Garuda Keadilan, “Tak usah sibuk memikirkan gangguan-gangguan orang lain, tak usah sibuk memikirkan seberapa kuat musuh, karena yang harus terus dipikirkan adalah Allah, yang harus senantiasa diingat adalah Allah. Bergeraklah untuk dakwah ini dengan terus mengingat Allah, tak usah diingat sudah kehilangan apa saja, bahkan kalau perlu tak usah khawatir kehilangan diri kita sendiri, cukup ingat Allah saja.”

Sebegitukah besarnya beban dakwah ini hingga ada yang mengatakan tak usah khawatir untuk kehilangan diri kita sendiri. Jawabannya: sudah kurasakan sendiri. Pilihannya sekarang, bergerak dalam kemuliaan, atau mati dalam kelelahan.

Garuda ini akan terbang bersama garuda-garuda yang lainnya Bah, Mi, jazakumullahu khoir untuk didikannya selama ini. Selamat berjuang Umi, kalau lah nanti terpilih menjadi anggota legislatif, kami akan mendukungmu dengan sepenuh cinta, banyak yang membutuhkan  pemikiran dan tenagamu, kami mengerti, kau harus berjuang keras untuk dakwah ini. Kalaupun nantinya Allah belum merestuimu menjadi Aleg, cinta kamipun tak akan berkurang. Abah adalah orang yang hebat di balik segala kesederhanaan yang kau sandang. Aku mencintai kalian karena Allah, Bah, Mi.



Garuda yang (beranjak) dewasa.


Ihtisyamah Zuhaidah

Baca juga: http://ihtisyamah.blogspot.com/2013/06/ibuku-guru-tk-itulah-ruang-jihadnya.html

Jumat, 07 Februari 2014

Sudahlah Langit, Jangan Bergemuruh. Aku Baik-baik Saja.

Aku baik-baik saja langit. Tak perlu bergemuruh. Hujan telah sampaikan kabar tentangmu. Ia gunakan nada sedih. Kini berbalik aku yang khawatir tentangmu.

Aku tak apa, yakinlah aku baik-baik saja. Kuminta hujan untuk berhenti dan kembali kabarkan pada mu bahwa semua baik-baik saja.

Ah ternyata tidak. Aku terlalu yakin bahwa hujan datang untukku. Ternyata aku hanya berkhayal. Ia tak datang untukku, bahkan ia tak membawa kabar tentangmu. Bagaimana kabarmu langit? Kenapa kau bergemuruh.

Hujan datang, tapi ia tak bercerita apapun tentangmu. Kupikir kau bergemuruh karena mengkhawatirkanku, tadinya aku ingin menitipkan pesan bahwa aku baik-baik saja lewat hujan. Tapi hujan hanya menyapa dari luar. Aku hanya memandangnya. Ia benar-benar tak menitipkan kabar tentangmu.

Kau tetap bergemuruh, bagaimana aku menyampaikan kabarku, jika hujan saja enggan bercerita padaku.

Sudahlah langit. Aku akan terpejam, dan bermimpi. Berhrap kau tak lagi bergemuruh ketika kuterbangun nanti.

Jika hujan tak bisa mengabarkan, mungkin angin bisa, kabarkan,

aku baik-baik saja, Lang(it).

Senin, 06 Januari 2014

"Kakak" -Romantisme Menjadi Tua-

Sebutan ini akan lebih lazim ketika diubah menjadi mbak dan mas. Karena mbak dan mas menjadi lebih familiar di telingaku.

Menjadi tua itu ternyata tak sepenuhnya tentang kabar buruk -tentang kulit yang akan mulai mengeriput- atau -tentang ingatan yang akan menjadi pelupa- atau -tentang tenaga yang tak sekuat dulunya- menjadi tua adalah romantisme tersendiri buat saya.

Dipanggil kakak (red: mbak).

Aku punya banyak 'adik' sekarang. Entah darimana mereka didatangkan, tau-tau mereka melendot, bermanja, berteriak, menyapa, marah, ngambek, melucu, merangkul, mengagetkan dari belakang, memelas, merengek, menangis. Hei! Aku tak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.

Canggung.

Ya, jelas. Aku yang biasanya melakukan semua itu. Semua aktivitas "me-" dan "ber-" di atas, akulah yang melakukannya. Aku melakukannya pada "kakak"-ku.

Apa ini artinya aku sekarang adalah seorang kakak? Aku kakak :')

Romantis.

Bagiku cengkerama antara kakak dan adik adalah romantisme tersendiri. Seolah dunia berubah mengecil, ya, dari dunia yang semula seperti milikku sendiri, sekarang aku harus mulai belajar membagi dunia itu untukku berikan pada orang lain, "Inilah dunia, adikku," lalu kuberikan sebagian duniaku... Mengecil bukan berarti mengurangi kebahagiaan, sudah kubilang ini romantis. Bayangkan ketika kau terbiasa menikmati rumah yang sangat besar, lalu ada orang yang -entah bagaimana- kau (menjadi) sayang, bukankah rumah itu kini menjadi hangat? Dan kuyakin kau tak akan menyesal dengan rumahmu yang semakin menyempit.

Romantisme itu menjalar dan tak tentu di hati, bergejolak, ah nano nano rasanya. Cinta yang ku punya tak seberapa, namun aku harus belajar berbagi. Bercanda, tertawa, itu sudah biasa, lalu bagaimana dengan pertengkaran, tangisan, omelan, justru itu semua yang menguatkan, meski ketiganya tidak kuharapkan.

Namun menjadi kakak itu luar biasa. Terkadang kau tak perlu banyak dan boros mengeluarkan kata, cukup hadir dan menyapa, cukup datang dan mendengar :D betapa lucunya mereka, melihat dan mendengar mereka seperti menengok masa lalu, ketika bermanja, dan kadang aku bertanya, lalu sekarang aku harus bermanja pada siapa?

Itulah yang kurasakan, kini duniaku tak hanya berisi aku seorang, aku berbagi dengan banyak orang sekarang, dan aku semakin mengerti dunia tak ada apa-apanya tanpa "mereka" yang menyebutku kakak.

Maaf ya, jika aku tak ingin mengakhiri semua ini. Tak ingin mengakhiri romantisme ini.

Ah hanya saja,

aku tetaplah memiliki keterbatasan, setiap sungai memiliki ikannya sendiri, setiap sifat ada kecocokannya tersendiri. Jika aku jadi sungai, aku ingin bisa menjadi tempat bagi seluruh ikan, tapi tak seluruhnya cocok dengan airku. Aku menjadi kakak pun ingin bisa menjadi kakak semua adik, tapi tak semuanya cocok dengan perangaiku.

Jika aku menjadi sungai, kupersilakan semua ikan mencicipi airku, ambillah, tak apa, pun jika pada akhirnya tak cocok dengan siripmu, dan kau harus mencari air lain, mampir lah sesekali :)

Jika aku menjadi sungai, aku tipe sungai yang memiliki tipe aliran deras, terkadang hantamannya keras, aku hanya tak mau ada banyak sampah di badan sungaiku, sehingga air di badan sungaiku harus terus bergerak, agar tak ada sampah yang tertinggal di antara bebatuan.

Ah bagaimanapun romantisme ini, kuharap tak berujung, tak seperti alur sungaiku yang berujung hinga tak bisa menemani para ikan hingga ke laut...

dariku - yang masih canggung-
_Ihtisyamah_

Minggu, 05 Januari 2014

Bukan Salah Ikhwan (saja)

Tidak 'sehat'!

Frasa ini yang pertama terpikir oleh saya. Banyak kasus VMJ di kalangan aktivis dakwah kampus yang berawal dari komunikasi yang berlebihan. Komunikasi berlebihan itu yang pada akhirnya menimbulkan penyakit hati, alias tidak sehat! antara ikhwan dan akhwat.

Jika selama ini yang dipersalahkan adalah ikhwan yang 'genit' saya rasa tidak sepenuhnya ikhwan dengan kegenitannya yang salah. Mengingatkan waktu solat, mengingatkan berdzikir, mengingatkan kajian, mengingatkan sampai ke detail-detail kebiasaan akhwat. Itu yang dilakukan ikhwan 'genit' bisa jadi itu si ikhwan genit perlu ditraining lima kali sehari lari muter alun-alun kidul Yogyakarta kali ya, biar sibuk ngurusin diri sendiri, gag pake ngurusin akhwat yang dikenalnya. Tapi jangan salahkan ikhwan.

Akhwatus salihah, pernahkan terpikir, saudara kita sesama akhwat sangat berharga? Jika iya, seberapa pedulikah kita dengannya? Seberapa sering kita mengingatkan waktu solat, seberapa sering kita mengingatkan saudari kita untuk senantiasa berdzikir, mengingatkan waktu makan, sampai menanyakan kabar barangkali ia sakit?

Sebenarnya ini lah yang terjadi. Kita sesama akhwat kurang perhatian. Kita membiarkan komunikasi-komunikasi manis antara (saudari kita) si akhwat dengan si ikhwan (genit) terjadi. Hal itu terjadi (mungkin) karena kita sendiri yang tidak mengisi komunikasi manis itu, saling mengingatkan dan menanyai kabar, melainkan malah si ikhwan yang melakukannya.

Ketika ada seorang akhwat dan ikhwan terindikasi VMJ kita langsung menyalahkan keduanya, tanpa berpikir kita memiliki urun (bahasa Indonesianya apa ya?) besar dalam terjadinya penyakit itu, yaitu karena kurang perhatian dan kepo nya kita ke saudari kita sendiri. (Gimana sih, malah lebih kepoan ikhwan.)

Jangan salahin ikhwan. Bukan salah ikhwan (saja).

Sudah banyak kasus, apa tidak malu dan sakit hati, ketika ada saudara kita seorang akhwat yang sakit, tapi yang tahu terlebih dulu adalah ikhwan? Tau-tau si ikhwan nanya ke kita, "Ukhti fulanah sakit ya?" dan kita menjawab, "Oh iya kah? Biar saya cek dulu."  Atau tentang kabar baik, "Ukhti fulanah masuk ke pimnas ya?" dan lagi-lagi kita menjawab, "Oh iya kah?"

Ah sepertinya tidak akhwat tidak ikhwan. Kita semua harus sama-sama menimbang komunikasi. Menakarnya sesuai kebutuhan dan keseriusan. Kita sesama akhwat saling berkomunikasi adalah karena kebutuhan bukan? Butuh memahami dan dipahami, butuh bercerita dan mendengar cerita, butuh bercengkerama dan bermanja. Ya itu sesama akhwat, yang tidak seharusnya ikhwan mengambil peran kita. Dan mengenai keseriusan, akwat dan ikhwan perlu memperhatikan poin ini dalam berkomunikasi, sudah dijelaskan di dalam buku Kebebasan wanita, bahwa komunikasi antara sahabiah dan sahabat nabi di zamannya selalu dilandasi keseriusan, tidak ada perbincangan yang tidak serius yang menyebabkan mereka saling berkomunikasi. Apalagi sekedar mengingatkan waktu solat.

Jadi, jangan salahkan ikhwan, jika ada kasus seperti itu lagi, cukup laporkan saja ke pihak yang berwajib, (Murobbinya barangkali) dan selesailah urusan kita dengan si ikhwan, sehingga tidak perlu menyalahkan ikhwan lagi, melainkan kita perbaiki bersama ukhuwah kita sesama akhwat ^_^

Eh tapi ini juga berlaku bagi ikhwan (juga), karena terkadang, anehnya, kalau ada kabar tentang ikhwan, yang semangat akhwatnya, dan tidak jarang, ketika ada kabar tentang akhwat, yang semangat ikhwannya. Misal ada kabar fulan sakit, para akhwat dengan semangat mengusulkan menjenguk, sedangkan temen-temen ikhwan cuek-cuek saja, (iya gag si ya? :3 bisa jadi). Dan sebaliknya juga, ketika ada fulanah sakit yang ribut ikhwan, yang akhwat ributnya belakangan kalau sudah ada ikhwan yang 'terlalu perhatian'.

Akhwat, sedang apa sekarang? Udah mimum obatnya kan? :) (aku perhatian kan? :3 barangkali komunikasi melalui pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu yang harus ditumbuhkan sesama akhwat). Bukan dari ikhwan! :)

-nasihat sepanjang hayat untuk diri sendiri dalam menjaga saudariku sayang-

Akhwat tangguh, akhwat Qowiy, akhwat maco, akhwat keren, akhwat 'SEHAT'. Yuk ^_^


_Diana_

Sabtu, 21 Desember 2013

Cinta yang Bersih

Aku (sempat) kehilangan makna cinta. Ia begitu mempesona, hingga membuat semua orang terlupa. Tidak. Bukan itu yang seharusnya. Bukankah seharusnya cinta membuat orang tersadar? Bukan terlupa?

Lalu kemanakah cinta pergi.

Mungkin aku salah mengenal. Mungkin yang ku kenal bukan cinta. Ia orang lain. Ia bukan cinta. Ya, mungkin aku salah, salah mengenal.

Lalu mana cinta.

Ini permasalahan besar. Aku benar-benar terlupa, selama ini. Terlupa, ah cinta membuatku lupa. Oh bukan, salah untuk kedua kalinya, itu bukan cinta, aku salah mengenal. Aku harus cari tahu siapa dia.

Rupanya dia bukan cinta.

Benarlah apa yang dikata Raihan dalam lagunya, Mengemis Kasih... Ternyata aku mengemis kasih, bukan mencinta.

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati
Kepada manusia yang alpa jua buta
Lalu terhiritlah aku di lorong gelisah
Luka hati yang berdarah kini jadi kian parah

Semalam sudah sampai ke penghujungnya
Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu
Tak ingin lagi kuulangi kembali
Gerak dosa yang menghiris hati

*)
Tuhan... dosaku menggunung tinggi
Tapi rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitis nikmat-Mu di bumi

Tuhan... walau taubat sering kumungkir
Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
Bila selangkah kurapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaku


Mana ada cinta menimbulkan dosa, bukankah cinta murni adanya. Kemurnian bersih dari dosa. (Idealnya). Cinta itu ridho, ridho siapa? Allah tentunya. 

Maafkan aku yang mendua, mencintai dunia. Padahal kutahu Kau Maha cemburu. 

Baiklah. Katakan putus! Aku cinta pada apa yang Allah cinta. Menumbuhkan cinta berbeda jauh dengan menumbuhkan dosa. Ayo, buat Allah percaya, bahwa Ia satu-satunya.


Jumat, 13 Desember 2013

Aku Penggembala

Aku lah penggembala...

Berjalan pelan menahan ikat gembala.

Aku penggembala emosi, kurasa emosi adalah gembala yang liar. Ia mudah saja melakukan hal-hal reaktif. Awalnya aku canggung memegang ikat/ kekang gembalaanku. Selain reaktif, ia pun agresif.

Ada dua emosi yang kugembala. Dua gembala ini kunamai gembala 'senang' dan gembala 'sedih'. Dua gembala saja sudah membuatku kewalahan. Mereka berdua luar biasa.

Aku pernah mendengar istilah, "Di dalam hatimu ada dua macam serigala, serigala baik dan serigala kejam, mana yang akan menang berperang di hatimu, adalah ia yang paling banyak kau beri makan."

Aku jadi teringat dengan dua gembalaanku. Si 'Sedih' dan si 'Senang'. Barangkali benar apa yang dikatakan dalam istilah tadi, yang paling banyak kuberi makan lah yang akan cepat besar, yang akan lebih unggul, yang akan menang.

Kupikir awalnya aku akan memenangkan salah satunya, memenangkan gembala yang baik, yaitu gembala 'Senang'. Selama menggembala, gembala 'Sedih' memang seringkali berperangai buruk, ia sering tak semangat, ia lesu, ia malas, bulunya tidak segar dipandang mata. Sedangkan gembala 'Senang' selalu memiliki energi yang lebih, ia memiliki bulu halus dan enak dipandang, ia berperangai baik, dan sering membawa keuntungan.

Ya, pada akhirnya aku lebih suka memberi makan gembala yang satu dibanding gembala yang lain, gembala 'Senang'. Aku lebih suka membawanya berkeliling padang rumput, berlari-lari dengannya, meladeni kemauannya, ah seketika gembala itu membesar.

Itu lah yang setiap hari aku lakukan, bersamanya,  menggembalanya, dan aku melupakan si gembala 'Sedih'. Maka tak heran jika setiap hari aku tertawa, setiap hari aku terbahak, perasaanku melayang. Aku akan selalu mencari alasan untuk membuat si gembala 'Senang' ini terus senang, agar aku tetap senang.

Banyak usaha yang kulakukan. Aku mulai menggembala lebih pagi karena aku sangat bersemangat. Banyak orang yang memujiku, aku tampak rajin di hadapan mereka, aku semakin rajin dan rajin. Tidak hanya di pagi hari, di siang hari aku lebih giat mencarikan makan untuk si 'Senang', aku berusaha keras, meramu makanan untuknya bertumbuh besar, besar, dan terus besar, akhirnya banyak pujian berdatangan, gembalaanku pun semakin besar, ya si gembala 'Senang' semakin besar.

Aku semakin senang menghabiskan waktu di luar rumah. Aku jauh dari rumah bersama si 'Senang'.

Hingga datang suatu saat, dimana aku kelelahan bermain besama si 'Senang', aku merasakan ada yang hilang, energiku habis untuk tertawa, berlari-lari, dan meladeni pujian orang. Dulu aku pergi menggembala dengan si 'Sedih' juga, tapi aku lupa dimana si 'Sedih' sekarang. Lama aku tak pulang ke rumah, aku lupa pada rumah.

Aku lupa rumah.

Tapi aku masih ingat jalan pulang ke rumah. Ketika aku pulang ke rumah, betapa kaget diriku, si 'Senang' ternyata tumbuh begitu besar, hingga ia tak bisa lagi aku masukkan ke dalam kandang, ia tak terkontrol ketika aku masuk ke dalam rumah, tak kusangka, ia meng-obrak abrik segalanya di luar rumah, hanya karena ia tak bisa kumasukkan ke dalam kandang. Ia membuat tetanggaku marah padaku, karena memberinya makan terlalu banyak. Ah bagaimana orang-orang ini, dulu mereka memujiku dengan beribu pujian karena aku menggembalanya dengan baik, tapi kini semua orang lari dariku, sungguh mengecewakan. Dan perasaan kecewaku kulampiaskan pada si 'Senang'. Ia tak lagi terurus sekarang.

Aku terlanjur kecewa padanya.

Ia yang sudah bermain denganku sepanjang waktu, kini merusak segalanya. Bahkan merusak rumah-rumah tetangga.

Aku sadar kini. Aku terlalu asik bermain dengannya, hingga aku lupa semuanya, dan kini aku kecewa.

Kecewa memang seringkali datang di akhir. Aku lama termenung di rumah, memikirkan bagaimana caranya memperbaiki semua ini, dan si gembala 'Sedih' yang sudah kutinggal dalam beberapa waktu itu menghampiriku. Kini aku bersamanya. Aku tahu, sebenarnya ia tidak seburuk itu, si 'Sedih' hanya ingin mengingatkanku pada rumah. Ia ingin aku berlama-lama di rumah.

Ya memang, jika berada di rumah aku selalu merasa sedih, teringat akan banyak masalah. Tapi ketika aku keluar rumah, aku merasa semua masalah hilang (hilang secara semu), itu lah mengapa aku banyak menghabiskan waktu bersama si 'Senang'.

Kini aku sadar, Tuhan memberiku 2 gembala, 'Senang' dan 'Sedih' agar aku bisa menggembala nya dengan seimbang. Aku menggembala keduanya tidak dengan memberatkan pada salah satu, namun bagaimana aku bisa mengatur keduanya agar seimbang, mungkin itu yang dimaksudkan Tuhan.

Bahaya ketika aku terus selalu bersama si 'Senang' karena ia membuatku lupa akan tempat awal aku berpijak, rumah. Kesenangan membuatku lupa pada awal aku diciptakan, pada siapa Yang menciptakanku, kesenangan membuatku melayang tanpa pijakan. Kesenangan itu melenakan. Pujian-pujian yang kurasa menyenangkan itu ternyata hanya semu saja. Ya semua yang datang dari manusia itu semu. Seharusnya apa yang keluar dari mulut manusia tak membuatku senang berlebihan, aku harus tetap bisa mengendalikan. Kukendalikan kau gembala 'Senang'!

Si 'Sedih' sering membuatku kembali ke rumah. Ia membuatku terus mengingat Tuhanku. Aku sering bercengkerama dengan Tuhan ketika merasa bersedih, teringat dengan semua masalah. Dan perasaan sedihlah yang membuatku semakin dekat dengan Tuhan, aku semakin mendekat pada Nya dan Ia pun semakin dekat dengaku. Hingga aku berlama-lama bersama Nya.

Namun bahaya jika aku terus bersama si 'Sedih', memang, aku akan selalu dekat dengan Tuhanku, tapi Tuhan pernah mengutuk orang-orang yang hanya memikirkan kedekatannya dengan Tuhannya, tanpa memikirkan kedekatannya dengan orang-orang di sekelilingnya. Bahkan manusia paling sempurna, sebut saja Muhammad SAW, pernah ditegur tentang wajahnya yang masam di hadapan salah satu manusia. Jika ia ditegur ketika melakukannya sekali, maka aku seharusnya aku mendapatkan teguran berkali-kali ketika bermuka masam, karena perasaan sedih sering mengikat wajahku menjadi wajah yang sangat tidak enak dipandang oleh saudara lainnya.

Aku bertekad untuk menggembala keduanya dalam keseimbangan, tidak membiarkan salah satunya menang, namun aku gembala kan mereka dalam ke-tawazun-an, seimbang sesuai kebutuhan.

Patokan yang aku gunakan adalah tengah-tengah, yaitu tidak mudah sedih dan tidak mudah senang, melainkan tetap tenang (calm). Ketika merasa senang kutahan untuk memanjakan si 'Senang', supaya aku tak bertambah senang, karena itu akan menjadikannya tumbuh berlebihan, seperti halnya aku senang dipuji orang, itu adalah hal yang berlebihan akibat memanjakan si 'Senang' padahal pujian adalah sesuatu yang melenakan.

Aku pun tak akan terus bersedih hati, ketika sedih, sedih sekali, aku tidak akan memanjakan si 'Sedih' dan memberinya makan terus menerus, aku takut kesedihan itu membesar dan berlebihan.

Yang aku cari adalah ketenangan.

Entahlah, dua gembala ini sangat membingungkan, tetapi harus terus mencoba tawazun, seimbang.

Pujian manusia, tak seharusnya menjadikan besar hati, celaan manusia tak seharusnya menjadikan kecil hati. Karena ujung usia gembalaan kita nantinya akan kita kembalikan kepada Yang berpunya, maka hati ini juga harus dijaga untuk tidak besar dan kecil seenaknya, melainkan tetap tenang dan bersyukur dengan apa yang ada. Tidak mudah reaktif dengan hal-hal yang menyenangkan, dan tidak agresif dengan hal-hal yang menyebalkan. Kuncinya, tetap tenang, dan pegangi tali kekang.

Salam untukmu sesama penggembala :)

Rabu, 20 November 2013

Wong Urip ki Mikir, Nek Ra Mikir Jenenge Wong Edan. Keren!

Kembali menghela nafas dan masih berpikir keras.

Hari ini, sedang iseng mampir ke toko pakaian, lihat-lihat pakaian, dan mendapat ilmu yang keren, ilmu yang hanya datang sekelebat, dari pembicaraan santai dua laki-laki dan seorang perempuan.

Dua laki-laki itu sepertinya sudah beristri, dan sudah memiliki anak (jadi toko pakaian itu tidak recomended untuk tempat cari jodoh #eh). Sedangkan yang perempuan sepertinya adalah istri dari salah satu laki-laki itu, karena ia duduk berdampingan dengan salah satunya.

Percakapannya kurang lebih begini (awalnya saya anggap itu percakapan konyol),

(+)“Kayaknya dulu aku sebelum nikah keliatan muda, tapi kog sekarang setelah menikah jadi kelihatan tua ya? Kira-kira kenapa ya?”

(-)“Keliatan tua gimana?”

(+)“Ya keliatan tua aja.”

(Tapi ternyata ini perbincangan ringan yang luar biasa, tentang pemaknaan kehidupan, Welcome to the -real- world Ihti)

(-)“Emmm, mungkin karena setelah menikah jadi sering mikir ya? :D Mikir bagaimana menaikkan penghasilan, mikir nanti ngasih makan apa. Yah, namanya orang hidup, yo jenenge wong urip yo mikir, wong urip sing ra mikir jenenge wong edan.”

Ketiganya tertawa dan meng-iya-kan. Lalu lanjutnya, “Kita itu harus mikir, itu rezeki datang darimana, terus dimintai tanggungjawab besok gimana, ternyata harus mikir ya...”

Ya Allah... 'ancaman' menjadi semakin tua ituuu fyuuuh :3 #Eh bukan itu fokusnya. Rasanya ingin menggaris bawahi tebal-tebal kalimat terakhir, “...rezeki itu datang darimana, terus dimintai tanggungjawab besok gimana”.

Ternyata masyarakat kita sudah cukup cerdas memaknai kehidupan, fikirku, kayaknya mereka gag ikut ESQ... tapi keren bisa memaknai yang sederhana menjadi luar biasa seperti itu. Luar biasa, karena hal itu yang mengatakan adalah masyarakat biasa dan bukan mahasiswa, bukan ustadz, #terharu. Keren!

Ya, pak, memang, ternyata mikir itu 'sesuatu' banget, tapi aku gag mau jadi orang 'edan'. Setelah itu aku bertekad untuk terus berfikir. #Allah... mudahkanlah...

Rekomendasi Tempat Refresh Pikiran: Masjid Kampung

Malam ini, sepertinya masih terkena efek balapan di sepanjang ringroad sama mas-mas yang tak kukenal :D Masuk angin >o<"

Tapi sepertinya menulis dapat mengalahkan sakitnya :)

Maghrib, setelah selesai nge-les privat (adeknya beragama kristen, jadi gag mungkin numpang solat di rumahnya :3) tengok kanan kiri cari masjid, eh lihat dua orang bapak naik motor pake peci di kepalanya, fikirku, "Pasti tak jauh dari sini ada masjid." Benar saja, di kanan jalan tertulis, "Masjid Al-Aziz".

Ok. Mampir.

Ah, lama sekali ya rasanya tak mampir di masjid kampung :) damai, syahdu, tenteram, khusyuk, recomended bagi yang lagi listing tempat cari jodoh #eh.

Tipe masjid kampung yang jauh dari keramaian, jauh dari bising, kebersihannya terjaga, jarang mukena dan Mushafnya (karena kebanyakan warga bawa sendiri-sendiri), sangat cocok sebagai sarana refresh pikiran. Recomended banget pokoknya. Buat yang lagi ribut sama sahabatnya, sama pacarnya (udah putusin aja), sama dosennya, atau lagi galau banyak tugas, galau gag punya uang, galau amanah datang bertubi-tubi,  (#eh keterusan curhat) bingung mencari solusi kehidupan (#lah kog puitis banget), atau sekedar rindu pada Tuhannya, dateng aja ke: Masjid kampung!

Masjid kampung. Menyediakan berbagai macam perlengkapan ibadah seperti sarung, peci, mukena, dan sajadah (itu toko kali ihti! malah promosi....). Ya, dateng aja, tenteram hatinya :) InsyaAllah (kali ini serius).

Selesai solat, aku benar-benar bisa mengendorkan urat saraf, melengkungkan punggung, dan menghirup udara segar keheningan. Melihat sekeliling dan (oh?) ada mas-mas/ bapak-bapak/ kakek-kakek (kalau yang ini gag mungkin), pokoknya itu laki-laki yang: masih muda banget enggak, tua banget juga enggak (bener kan, recomended buat cari jodoh #hush).

Si bapak (yang masih muda) ini duduk di shaf laki-laki pake peci dan sarung, dengan wajah menunduk setunduk-tunduknya, sikunya menahan berat badannya di kaki yang duduk bersila, tangannya terkulai pasrah.

Aku bertanya dalam hati, dimana lagi aku bisa melihat pemandangan ini, kalau bukan di masjid. Pemandangan seorang manusia yang menunduk pasrah pada sesuatu yang tak ada di depannya. Bagaimana jika laki-laki ini melakukan hal yang sama di pasar, atau di dekat pom bensin, atau di jalanan yang ramai, dilihat oleh banyak orang, sepertinya tidak akan mungkin ada yang seperti itu, yang ada ia akan dianggap gila, atau minimal dianggap frustasi berat.

Tapi ini ruangan yang istimewa, masjid, tempat bertemunya para hamba dengan Tuhannya.

Dan karena selama ini yang jadi referensiku tentang cerita raja-raja hanya di film Angling Darma, aku membayangkan bahwa laki-laki ini sedang bersimpuh di hadapan raja nya Angling Darma. Ya, sikap duduk yang ia lakukan hanya bisa dipraktikkan oleh orang yang sangat menghormati 'Raja' yang ada di depannya.

Tapi di depannya tak ada apa-apa, ini di masjid Ihti, yang ada di hadapan shaf laki-laki ya hanya tembok. Ini lah yang selama ini kau lupakan, kapan terakhir kau meminta pada Tuhanmu sekhusyuk itu? Sekhusyuk yang dilakukan lelaki itu...

Pasti 'sesuatu' yang 'ada' di hadapannya adalah sesuatu yang sangat hebat, sesuatu yang ia yakini dapat menentukan nasibnya, sesuatu yang Maha Besar, ya, itu Allah ihti. Dia sedang bercerita dan berpasrah diri pada Allah, seolah Allah ada di hadapannya.

ilustrasi gambar

Lama, lama sekali. Tapi siapa yang tak betah berlama-lama di suasana seperti itu, damai, tenang, lebih baik di sana berlama-lama kalau tidak ada urusan.

Pada akhirnya ia beranjak, beranjak dari duduk lamanya, beranjak dari simpuhnya, ia keluar masjid, dan aku hanya bisa bergumam, "Kabulkan do'anya Ya Allah, kabulkan, aku menjadi saksi bahwa ia sangat berharap padamu, dan ia melakukannya dengan sangat khusyuk." (Aku berpikir, jangan-jangan ia sedang berdo'a untuk dipertemukan dengan jodohnya #wushhh).

Setelah itu aku berfikir keras, sepertinya aku terlalu banyak bercanda, sedangkan ada orang sepertinya yang sangat serius, aku terlalu banyak tertawa, sedangkan ada orang sepertinya yang sangat tenang, aku terlalu sering tergesa-gesa, sedangkan ia begitu menikmati pertemuannya dengan Tuhannya lewat do'a.

Aku #berfikir #keras dan berkaca. Kelak di pintu surga aku harus mengantri di urutan ke berapa? Kalau ada banyak orang sepertinya. Lalu kembali #berfikir #keras.

Ihtisyamah Zuhaidah
#masih #berpikir #keras
| 2013

Sumber gambar: 

Jumat, 15 November 2013

Didik Dirimu dengan Keras

Inilah aku, aku yang dididik dengan keras. Sejak dulu. Dan sekarang aku lepas.

Hingga aku rasakan, ternyata begitu kuat didikan keras di 'istana' ketika dulu. Dimana yang lain bermanja, aku bekerja. Dimana yang lain bersenang, aku mengelus kening tuk tetap tenang.

Bagiku bukan sekadar penghargaan manusia, ada yang jauh lebih menggiiurkan dari kerja-kerja di dunia, apalagi jika bukan mati.

Bagiku, mati adalah penyelesaian masalah. Tapi di sana harus ada pendewasaan, bahwa mati butuh persiapan.

Dunia ini penuh masalah, lalu apa yang kita lakukan selama ini dengan masalah-masalah itu. Bukankah kita hanya sedang mengisi waktu luang kita dengannya untuk menunggu mati?

Aku rasa iya, nyatanya kita semua pasti akan mati. Dan semua pasti punya masalah.

Tapi orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mempersiapkan mati. Ya, karena ia memiliki otak, dan otaknya ia persilakan memahami ayat-ayat alqur'an, jadi ialah yang paling siap mati, dengan segenap persiapan.

Adakah yang siap mati sekarang ini?

Akupun mungkin akan menjawab, aku belum siap. Tapi sayang nya setelah beribu bahkan berjuta-juta kabar orang meninggal, tak ada satupun dari mereka yang mendapatkan pengalaman ditanya malaikat, "Sudahkah siap mati?" dan dijawab, "Belum" lalu waktu kematian diundur.

Tidak ada yang seperti itu.

Maka mungkin inilah jawabnya kenapa aku dididik dengan keras. Itu supaya aku mampu menyiapkan mati sejak dini.

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons