Sabtu, 19 Juli 2014

Mela dan Nirna

Mela,
Kami telah melakukan perjalanan jauh menuju tempat KKN PPL bersama-sama, ia dengan tulus memberikan tumpangan untukku setiap akan menuju tempat KKN PPL. Kami pun telah bermalam bersama di tempat KKN PPL, di rumah baru kami, dengan udara yang sangat dingin, kami saling mengetahui kebiasaan kami sebelum dan setelah tidur. Kami pun tak merasa segan mengatakan sedang tak ada udang, dan kami saling menghutang ketika satu di antara kami tak ada uang.

Mela adalah orang yang sangat tulus. Ia cerewet mungkin, tapi apa yang ia katakan, apa yang ia lakukan, ia dasari dengan ketulusan. Ia sangat gampang merasa tidak enak pada orang lain. Ia mudah merasa berhutang pada orang lain. Itu mengapa aku bilang ia orang yang sangat tulus.

Nirna,
Sama dengan mela, kami sudah sering bepergian jauh bersama. Ia sering mengajakku menemaninya ke suatu tempat. Entah, ia sangat suka mengajakku kemana-mana. Padahal aku kira teman sepertiku tak akan ada orang yang suka, karena aku pendiam. Tapi ia seperti tak bermasalah sama sekali dengan sifat pendiamku, hingga suatu saat ia memintaku untuk membuat desain layout buku nya. Tak aku kira, ia percaya padaku.

Itu artinya kami telah melakukan 3 syarat menjalin kedekatan dalam persaudaraan sesama muslim. 

Tinggal 2 hal yang akan menentukan keberlanjutan kebersamaan kami sekarang ini, hati dan do'a. :)

Jika hati kami tak saling menyatu, tak saling ridho satu sama lain, dan jika tak diiringi do'a kepada Allah, bukan tidak mungkin kebersamaan kami selama ini dan yang selanjutnya tak akan berarti apapun, dan akan hambar begitu saja. 

Kami pernah berbincang membicarakan masalah kekuatan do'a, dan kami sangat percaya bahwa kekuatan do'a tak dapat disepelekan. 

Aku senang bersama keduanya, Mela dan Nirna. Mereka dapat menerimaku apa adanya. Benar-benar apa adanya, dengan sifatku yang pendiam, mereka tak pernah menuntut macam-macam.

Aku memang tak suka bercerita, tak suka banyak bicara. Banyak orang yang menuntut ini itu dengan sifatku yang pendiam. Banyak orang bilang aku tak peka, karena aku diam. Tapi mereka tidak, mereka yang baru saja mengenalku, sangat baik padaku, yang awalnya kupikir mereka akan sama dengan yang lainnya, merasa tak nyaman dengan sifatku yang pendiam, mereka sebaliknya, begitu tulus menerimaku sebagai teman baru.

Bahkan aku sangat nyaman bersama mereka. Kupikir begitu, karena biasanya, aku hanya akan bisa bertilawah di depan orang yang aku sudah nyaman dengannya. Dan itu kulakukan di depan mereka. Mereka menerimaku apa adanya. Tak banyak tuntutan.

Ya Allah, semoga persahabatan dan persaudaraan ini bisa mendatangkan manfaat yang tak terputus, begitupun dengan ikatan ini, semoga akan terus berlanjut sampai ke surga. 

Aku akan bantu kalian semaksimal aku bisa. Berjuang untuk KKN PPL ini... :)

hope it can be remembered until we are not young anymore.

_Diana AR_

Minggu, 13 Juli 2014

Wanita


...............======...............
Ia sungguh luar biasa,
Ia memandang lelaki itu kuat,
Karena ia menyadari dirinya lemah,
Tapi fitrah tak dapat dibantah.
Ya aku merasakannya dalam pasrah

Ia menahan sakit, tak ingin dianggap lemah
Padahal tubuhnya sebagai wanita memberontak, “cukup sudah!”
Namun ia terus berusaha tegar, tak ingin dianggap lemah
Ingin setara dengan lelaki, berbuat banyak dalam melangkah
Tapi tetap saja berbeda, tak bisa sama.

Terbatas dalam tingkah,
Menjaga diri tak banyak ulah,
Itulah penciptaan sempurna yang membuatnya indah.
Remeh, mungkin ia dipandang dengan mata sebelah
Ketika ia tak bisa membuat lelaki kalah.

Tapi kualami kini, tubuh ini kusadari
Seluruhnya, jasmani dan ruhani
Wanita... itulah diri ini.

Lelah, sakit, lara, sedih, semua begitu berat kurasa.
kumelihat para bunda
tak ada raut memelas dalam usahanya
padahal kumerasakannya sendiri, semua begitu berat.
Dengan semua keterbatasan yang kurasakan, lalu
Kumenyimpulkan
wanita itu kuat
Kumenjadi saksi,
BETAPA mereka hebat,
mereka luar biasa!

untukmu para bunda (dan calon)
_Diana Azhar AlRasyid_

Jumat, 11 Juli 2014

Syarat Taubat no.satu


Salah satu syarat dalam bertaubat adalah menjauhkan diri dari dosa, kali ini pembahasannya adalah tentang syarat pertama itu.
Terang dan jelas seperti apa yang dijelaskan dalam firman Allah satu ini:
Q.S. Annisa: 32
Sekiranya Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia .
Dan berdasarkan hadits Nabi:
"Jauhilah 7 dosa besar yang merusak"
"Jauhilah tujuh dosa yang dapat menghapus amal kebajikan, yakni (1) mempersekutukan Allah, (2)sihir, (3)membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang benar, (4)memakan riba, (5)memakan harta anak yatim, (6)berpaling dari barisan perang, (7)dan menuduh berzina wanita-wanita menjaga kehormatan yang lengah lagi beriman." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
"
Para ulama membagi dosa menjadi dua bagian:
  • Dosa Besar
(Jumlahnya sekitar 70an) Dosa, dikatakan dosa besar apabila ancaman dari perilaku itu sangat berat. (Contoh: "Demi Allah dia tidak beriman 3X" "Siapa itu ya Rasulullah?": "Yaitu orang yang tetangganya merasa tidak aman karena lisannya. Contoh lain: Perbuatan orang yang curang dalam melakukan jual beli. Contoh lagi: Menghina atau merendahkan orang lain baik dengan tindakan maupun isyarat fisik. Contoh lagi: Orang yang membuat orang tertawa (melawak) namun dengan ucapan yang dusta. Contoh lagi: Orang yang menyuap dan orang yang menerima suap. Contoh lagi: Menyelisihi Rasulullah SAW atau tidak mengikuti atau meremehkan sunnah setelah orang itu mendapatkan petunjukà Allah akan palingkan mukanya, hatinya dari kebenaran, dan memasukkannya ke nerakan Jahannam).
Dosa besar juga ada tingkatannya, tertinggi adalah Syirik.
Jika memang Dosa besar itu hukumannya harus melalui Qisas, maka harus dilaksanakan semestinya. Contoh orang yang membunuh hukumannya adalah ia dibunuh, Jika mencuri dipotong jarinya, atau diasingkan. Lalu apa yang terjadi jika kita hidup dalam lingkungan negara seperti negara Indonesia dimana Indonesia memiliki keputusan hukum tersendiri dalam menghukum tersangka kejahatan: cukup dengan taubatan Nasuha. Karena Qisas dll bukan wewenang Individu, karena itu wewenang negara.
  • dosa kecil
Jika menjauhi dosa-dosa besar, maka dosa-dosa kecil akan terhapus dengan sendirinya. InsyaAllah. Mengapa demikian: karena dosa-dosa kecil begitu banyak dan sangat sulit orang untuk menjauhinya. Dosa-dosa kecil juga dapat terhapus dengan melakukan kebaikan, ibadah.
Solat 5 waktu yang dilakukan kita, puasa, haji hingga haji berikutnya, umrah hingga umrah berikutnya, maka dosa-dosa kecil akan terhapus, dengan syarat ia menjauhi dosa-dosa besar.
Namun dosa kecil dapat berubah menjadi dosa besar, apabila:
o Dosa kecil itu dilakukan secara terus menerus. “Tidak ada dosa kecil jika ia dilakukan terus menerus, namun Allah akan menghapuskannya dengan melakukan istighfar.”
“Ya Rasulullah mengapa engkau mensolati orang yang berzina?” “Orang yang bertaubat dengan sesungguh-sungguhnya maka dosanya diampuni.”
o Jika seseorang meremehkan dosa, “Hati-hati kalian dengan dosa kecil” “Karena jika dosa-dosa kecil itu bertumpuk-tumpuk akan merusaknya atau menghancurkan dirinya.”
Orang yang beriman, ia melihat dosa seperti ia melihat ...... yang akan menjatuhinya. Namun orang munafik akan menganggapnya sebagai kebiasaan.
Kenapa kita sulit sekali menemukan kenyamanan saat beribadah, saat solat, saat tilawah, mungkin adanya dosa-dosa kecil maupun besar yang bersemayam di hati.
o Orang yang melakukan dosa dengan terang-terangan.
Sesungguhnya ketika kita melakukan dosa, Allah telah menutupinya, tapi kita yang membukanya sendiri di hadapan orang lain.
o Jika pelakunya adalah orang soleh, orang baik, orang yang jadi panutan. Nah, bisa jadi ketika dosa itu dilakukan oleh orang awam dosa itu adalah dosa kecil, namun jika orang-orang yang dianut melakukan dosa itu, dosa itu dilipat gandakan oleh Allah. Karena orang melakukan salah apabila ia tidak tahu, masih ada peluang diampuni oleh Allah SWT.
Yang perlu diperhatikan adalah: jangan sampai kita merasa tidak melakukan dosa dalam sehari, atau sejam yang lalu, atau semenit yang lalu, maka beristighfar.
Di Bab Muraqabah:
Ali: Sungguh kalian melakukan perbuatan dosa yang kadangkala kalian menganggapnya itu adalah remeh, seperti remehnya rambut, padahal pada zaman kami itu kami anggap sebagai dosa yang besar.
Jadi Anda yakin bahwa sebelum Anda membaca artikel ini Anda tidak melakukan dosa? Atau saat Anda membaca artikel ini Anda yakin tidak melakukan dosa?

atau satu menit yang lalu, yakinkah bahwa Anda bersih dari dosa. Maka jalan mudah yang sudah disediakan Allah adalah dengan ber-istighfar :)
*Apabila ada kekurangan atau kesalahan dalam penulisan ringkasan kajian di atas, mohon koreksinya :) terimakasih, semoga bermanfaat
Edisi syarat taubat #1
_Diana Azhar Al Rasyid_
19 November 2012 @masmuja

Selasa, 17 Juni 2014

Diam dan Dewasalah

Aku memperhatikan banyak orang yang mampu mendidik dirinya dewasa dengan kata-katanya. Bukan. Bukan mereka-mereka yang  mampu mengeluarkan kata-kata yang bijak lalu mereka dikatakan sebagai 'dewasa'. Mereka dewasa karena mampu menahan apa yang biasa orang katakan, yang biasa orang umbar, ketika banyak orang dengan mudah mengumbar kehidupan kepribadiannya, mereka yang dewasa mampu menahannya.

Mereka sangat pandai menimpan rumit dan pelik kehidupan pribadinya. Bukan karena mereka tak punya waktu seperti yang lain, waktu mereka sama 24 jam, namun mereka memilih untuk menahan segala hal tentang dirinya untuk tidak diketahui oleh orang lain. Untuk itulah mereka memilih diam daripada mengumbar.

Mereka yang dewasa, mengganti perkataan-perkataan tak berguna itu dengan perkataan-perkataan (dan tulisan-tulisan) yang lebih banyak berkonsentrasi pada orang lain, bukan pada dirinya sendiri. Ia lebih banyak memperhatikan orang lain, hingga orang lain tak punya celah untuk tahu tentang masalah dalam dirinya.

Karena mereka yang dewasa menyelesaikan masalah pribadi secara privasi dengan Tuhannya. Selesai antara dia dan Tuhannya, tak melebar pada orang lain.

Diamlah, dan dewasalah(!)
Jika tak mampu menggantinya dengan hal yang lebih bermanfaat.

Thanks, i learn more.

Senin, 16 Juni 2014

Bertahanlah...

Saya pernah mengatakan pada adik tingkat saya yang baru mau masuk ke perguruan tinggi. Ia belajar giat, dan ada sedikit keluh ketika harus belajar terus dan terus. Rupanya ada rasa bosan terselip. "Dhek, nikmatilah masa-masa ketika kamu masih bisa giat belajar. Belajar itu nikmat, di masa-masa seperti mbak ini, belajar pun sudah tak konsen. Konsentrasi sudah terpecah dengan berbagai amanah."

Amanah-amanah tiba-tiba berdatangan saat awal sekali saya masuk kampus. Orang bilang amanah tak akan salah memilih pundak. Tapi masyaAllah, kalau boleh memilih untuk menolak amanah, saya lakukan dari awal. Kita tau bersama, amanah itu bukan hal kecil yang enteng lagi ringan di mulut, apalagi di pundak. Bahkan untuk berbicara soal amanah, mulutpun susah. Berat. Ada tanggung jawab yang besar, sangat besar di sana. Saya tak tahu harus bagaimana saya mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah nanti. Banyak yang saya lalai terhadap urusan amanah, banyak yang saya tak mampu menanggungnya. Tapi, kepercayaan patut dijaga, itu yang saya bawa. Bergerak hingga kelelahan itu lelah mengejarmu -Rahmat Abdullah-

Sempat mengiri pada teman-teman yang tak memiliki tanggungan lain selain kuliah. Mereka dapat berkonsentrasi penuh pada kuliah. Mereka dapat dengan mudah tepat waktu mengumpul tugas tanpa menunggu deadline. Astaghfirullah...

Sampai pada suatu saat yang sangat berat. Sering saya merasakan dalam satu hari rasanya saya sudah tidak mampu melakukan apa-apa lagi karena kelelahan, fisik, pikiran, hati, yang menyebabkan saya pesimis, apakah saya bisa menunaikan pekerjaan-pekerjaan saya yang belum tuntas hari ini? Tapi dalam keadaan seperti itulah saya menyadari betul, ternyata kita ini tak bisa apa-apa. Manusia itu punya lelah juga. Dalam keadaan seperti ini saya menyadari benar, bahwa kekuatan itu yang memiliki bukanlah kita, melainkan Allah saja. Saat dalam keadaan lemah seperti itu, betapa nikmat meminta tambahan kekuatan. Nikmat sekali ketika meminta kekuatan untuk berdiri, berjalan pulang ke rumah, atau meminta kekuatan untuk tetap bisa menuntaskan bacaan alqur'an yang belum tuntas.

Sangat terasa ketika pada akhirnya saya bisa kembali berjalan, ketika kembali dapat meneruskan bacaan, ketika dapat tersenyum, terasa sekali bahwa kekuatan itu datangnya dari Allah.

Ya, kekuatan-kekuatan itu datang karena saya telah pasrah, dan hanya kepada Nya kita meminta, maka saya meminta kekuatan dari Nya. Dan benar, kekuatan itu datang. Allah Maha Pemberi kekuatan.

Bertahan dengan semua yang telah berjalan.

Menyanggalah kaki, kuatkan
Sejajar lah pundah, kuatkan
Menggenggamlah tangan, kuatkan
Diamlah mulut, kau hanya berkeluh, kuatkan saja
Janganlah nanar wahai mata, tahan.

Kita butuh kerjasama, sendiri begitu menyakitkan, terkadang kita butuh bersandar. Bersandarlah, ada banyak pundak tempatmu bersandar.

Bertahanlah, lihat orang-orang yang mampu bertahan, tak iri kah?
Bertahanlah, minimal bertahan. Bertahan, jauh lebih baik daripada menyurutkan langkah.



Jadikan Allah sebagai alasan.
Tak ada alasan lain yang lebih besar.


Selasa, 13 Mei 2014

Antara Kekuasaan dan Kemuliaan

Antara kekuasaan dan kemuliaan itu terpisah...

Hanya saja, KEKUASAAN akan membuat pengaruh KEMULIAAN menjadi lebih besar!

Inilah kenapa Hasan Al Banna membuat dakwah ini masuk ke dalam wilayah-wilayah struktural. Karena lingkar pengaruhnya akan menjadi lebih luas dan besar jika kekuasaan kita pegang.

Hingga orang yang akan bermaksiat merasa tidak nyaman untuk melakukan maksiat. Seperti di Turki, sangat tidak nyaman untuk mabuk, membutuhkan strategi yang kuat ketika ingin sekedar mabuk.

Bagaimanapun berzina itu bukan hal yang halal, tapi hukum bisa membuat berzina menjadi         hal yang dianggap kontributif. Maka pilihannya mana? Berkuasa atau diam saja?

Kenapa Turki ingin masuk dalam benua Eropa, karena tidak akan ada lagi kudeta oleh militer jika Turki ikut bergabung dalam Benua Eropa, karena  jika di Eropa ada kudeta militer, karena jika militer melakukan kudeta, maka negara lain wajib memberikan belaan.

Turki ingin mengganti atau mengamandemen konstutitusi dasar yang berbasis sekulerisme, sedangkan jika pemerintahan akan menggantinya pada saat sekarang (pada saat Turki belum bergabung dengan Eropa) maka kemungkinan besar akan dikudeta oleh militer.

Hal hal yang dikatakan ilmiah adalah hal-hal yang dicetuskan oleh kaum barat, kebudayaan yang mendominasi adalah kebudayaan yang berasal dari barat, berkiblat pada barat, sedangkan ummat muslim dikerdilkan.

Amerika, jika melawan 10 negara yang ada di bawahnya ia akan menang.

Dengan adanya kekuasaan, isinya adalah kader-kader dakwah, keluarganya adalah keluarga-keluarga yang kokoh, masyarakatnya cinta kebaikan, negaranya menerapkan keadilan, maka kemenangan di depan mata.
Tahapan terakhir adalah: Islam sebagai ustad bagi seluruh alam. Tanya tentang hadits tanya kepada islam, tanya soal hukum, tanya pada islam, tanya soal politik tanya pada islam.

Namun pasti akan muncul kendala-kendala yang tidak ditemui di fase sebelumnya. Karena di tahap awal.
Kerinduan-kerinduan kita, bukan kerinduan-kerinduan terhadap masa lalu, tapi kerinduan terhadap kejayaan masa depan. Karena kita mencoba untuk masuk ke ranah-ranah publik, maka ujian dan tempaan yang akan kita terima juga akan lebih beragam.

Demokrasi, kita jangan terkungkung dengan sistem ini, ketika keburukan bergabung dengan kekuasan, maka niscaya keburukan itu akan memberikan pengaruh yang lebih besar. Demokrasi memang bukan sistem yang ideal, namun tidak aktif di dalamnya sama dengan memberikan peluang kepada keburukan memperhalus jalannya.

Senin, 12 Mei 2014

Hati Itu Seperti Rantai Besi

Bismillah...

Pernah saya mengutarakan sebuah kalimat bahwa komponen terkuat seorang wanita adalah hati, dan komponen terlemah seorang perempuan adalah hati. Hal itu banyak diprotes oleh pendengar, pembaca, tulisan-tulisan saya.

Bagaimana mungkin komponen itu (hati) menjadi sebuah komponen yang memiliki dua sifat yang saling bertolak belakang dalam satu waktu secara bersamaan. Ia kuat di satu sisi, tapi lemah di sisi yang lain dalam waktu yang sama.

?
Ya, bisa. Memang seperti itu adanya.

Hati itu seperti rantai.

Biar kuceritakan tentang cerita rantai. Ia adalah sebuah benda yang terdiri dari banyak mata rantai yang terhubung satu sama lain sehingga memiliki satu kesatuan. 




Baiklah, ini rantai besi. Ia biasa digunakan untuk menarik sesuatu yang berat. Ia mempermudah pekerjaan kita untuk meringankan beban pekerjaan kita. Seperti menarik kendaraan, menarik bahan bangunan dari bawah ke atas, atau untuk pekerjaan-pekerjaan lain. 

Boleh kita ambil kesepakatan bahwa rantai besi itu KUAT? Kita sepakati: iya. Rantai besi itu kuat.

Begitulah sekilas cerita tentang rantai besi. Mata rantai-mata rantai yang menjadi satu itu bergabung dari yang tidak memiliki kekuatan, menjadi memiliki kekuatan. Tapi pernah terbayang kah jika ada dari sekian mata rantai yang banyak itu, ada satu mata rantai yang rapuh, atau keropos. Lalu apa yang akan terjadi dengan rantai itu jika sampai satu mata rantai yang letaknya di tengah mengalami kekeroposan? Putus. Lemah. Dan kita sepakati bahwa rantai yang kuat itu berubah menjadi rantai yang lemah! Karena dengan putusnya rantai itu, maka rantai itu tak lagi bisa menarik gerbong, menarik beban, atau digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan lain.

Inilah kuncinya:
Kekuatan sebuah rantai terletak pada mata rantai yang terlemah.

Jika kita bisa menggunakan rantai itu dengan semestinya (dengan memperhatikan mata rantai terlemah) tidak memforsirnya, tidak memaksakannya, rantai itu akan tetap bertahan, akan tetap kuat. Namun jika kita menggunakan rantai kuat itu tanpa memperhatikan mata rantai terlemah, maka rantai itu akan putus dan otomatis seketika ia menjadi rantai yang lemah. Dan berakhirlah sudah si rantai kuat itu karena tidak memperhatikan mata rantai terlemah.

Sekali lagi:
Kekuatan sebuah rantai terletak pada mata rantai yang terlemah.

Seperti rantai, hati itu kuat. Bagi saya, perempuan itu memiliki kekuatan dari hatinya. Entah, tapi saya menyaksikan dari kedua orang tua saya, Ibu saya dengan hatinya yang lembut ternyata dapat memberikan kekuatan yang luar biasa pada Bapak di kondisi terjepit. Entah itu kekuatan apa, kekuatan itu seperti kekuatan ajaib. Namun, dibalik kekuatan itu, di waktu yang sama ia lemah jika tak diatur dengan baik.

Kekuatan dan kelemahan itu menjadi satu, dan harus dimenej dengan baik dan semestinya.

*Kayaknya tulisan kali ini agak gag nyambung -_-" need  komen.

Sabtu, 03 Mei 2014

Sumpah, Gue Salut!

Kalau salah satu teman saya cerita, katanya ketika dia menggunakan kata ‘gue’ dalam kalimatnya, itu artinya dia sedang memberikan penekanan lebih, artinya dia sedang bicara serius, atau bisa dibilang sangat serius.

Ya, kali ini saya serius. Salut!

Begini ceritanya...

08.46

Ini baru namanya pasar! Awesome! Kalau dulu aku pernah menulis tentang “Mengapa Allah Membenci Pasar”, kini aku menemukan hal yang bisa ku kagumi dari pasar.

Yaitu pengorbanan dan kerja keras.

Motor ku parkirkan, ditata oleh tukang parkir berseragam orange. Pagi-pagi seperti ini si bapak sepertinya sudah sangat sibuk, banyak motor yang harus ditata. Sepertinya tata pasarnya belum begitu settle, belum ada lahan parkir yang cukup, jadi bapak ini harus bekerja lebih keras. Mulut bapak itu jarang mengatup, or you can call it: mlongo.

Bukan, bukan mlongo karena keterbatasan mental, atau pikiran kosong. Wajar, bagi pekerja keras seperti si bapak ini, ia akan sangat terbantu dengan mulut yang terbuka, sebagai jalan nafas tambahan. Karena paru-parunya memompa udara lebih cepat, karena gerak yang ia lakukan juga cepat, sehingga membutuhkan udara lebih banyak pula. Seperti halnya atlet, ia sesekali bernafas dengan mulutnya, untuk memasok oksigen lebih banyak ke darahnya.

Ia tak banyak bicara, bukan karena bisu, bukan karena tak mampu berbahasa, tapi karena tangannya selalu sibuk bekerja. Kalaupun mulutnya berbicara, bicaranya pun merupakan kerja. Seperti memasukkan motor yang baru parkir, mengeluarkan motor yang telah selesai parkir, menanyai pemarkir akan menuju ke arah mana, memutar posisi motor, kemudian berlari lagi menuju motor lain, belum lagi jika ada motor lain pula yang datang sebelum motor sebelumnya selesai diparkir. Begitu seterusnya. Kau tau betapa rumitnya?

Belum selesai pemandangan itu, dan belum selesai juga pikiran-pikiran salutku pada pak tukang parkir, aku harus segera bergegas karena parkiran penuh, aku harus memberi space pada orang lain.

Baiklah, aku menuju ke dalam pasar. Dan aku melebarkan mata, meregangkan alis, dan terpesona seperti seorang ratu yang berhasil menemukan putera mahkotanya yang lama hilang #huek. Excited. Aku membayangkan seisi pasar berada pada kondisi slow motion. Lalu lalang para pembeli dan kesibukan para penjual menjadi panggung pertunjukkan yang menarik untuk dilihat di setiap sisinya.

Penjual klitikan duduk berdiam dengan mulut yang sibuk mengunyah makanan, membiarkan para calon pembeli memilah dan memilih dagangannya. Ia paham sangat, tak setiap calon pembeli akan membeli dagangannya, banyak yang hanya melihat-lihat dan berkomentar, “Ah yang ini kurang bagus, gag jadi beli aja.”

Lain sisi, di kiri gang pasar, penjual jajanan pasar sibuk mengusir lalat dari atas jajan-jajan tradisionalnya yang berwarna warni. Sembari menanyakan kepada pembeli, “Yang lain lagi mbak? Ada onde-onde, klepon, atau lumpia ini... ini mbak, atau cucur.” Dan mengakhiri usahanya merayu pembeli jika pembeli gagal dirayu dengan mengatakan, “Oh ya, semuanya sepuluh ribu mbak.” Namun tak pantang menyerah, ia masih mencoba lagi, “Yang ini juga enak lho mbak.” Dan hanya dibalas senyum oleh para pembelinya, atau kemungkinan terburuk adalah ditinggal pergi begitu saja, masih untung jika ada yang membalas, “Sampun bu, cekap (sudah bu, cukup)”

Suara penjual jajanan pasar tak membuatku cukup fokus, ada hal lain yang lebih menarik, dan memang menjadi tujuan utamaku. Penjual daging ayam potong.

Bayangkan, dalam satu lokal, yang hanya berjarak 1 meter satu sama lain, bahkan kurang, ada begitu banyak barang dagangan yang beraneka rupa, karena masih pagi, kau tak akan begitu merasakan baunya bercampur. Ah sayang sekali ya :D

Tapi ini luar biasa, kalung, gelang, aksesoris, berjajar dengan jajanan pasar, berjajar pula dengan daging ayam potong, berjajar pula dengan sepatu sandal dan tas, lalu berjajar di sebelahnya kelopak-kelopak mawar berbau semerbak untuk nyekar (menabur bunga di kuburan), tak kalah juga buah berbau harum seperti sirsak, apel, berjejal juga di dalamnya baju celana rok, aku mengakhiri pandangan slow motion ku, dan tersenyum. “Ih wow! Keren!” :D

Sampai tiba pada saat aku berhadapan langsung dengan ibu penjual daging potong. Ya Allah, apa yang harus aku katakan pertama kali. Ohya, tanya harga, “Berapa bu satu kilonya,” mungkin kau bingung kenapa aku bingung menentukan kata pertama.

Bukan, bukan karena aku tak pernah ke pasar dan gagap dengan hal seperti itu. Tapi aku berpikir, Tuhan, kalau Kau jadikan aku ada di posisi mereka, aku tak akan sanggup sepertinya.

Ibuk penjual daging potong itu menggunakan baju panjang, seperti daster, dengan kerudung kecil menutupi bagian kepalanya yang menjadi aurat, dan menggunakan celemek yang sudah kotor terkena darah dan cipratan ayam potongnya, yang sepertinya bukan hanya darah hari ini saja, tapi sepertinya celemek itu sudah lama dipakai menemaninya bertahun-tahun berjualan, karena darah hari-hari sebelumnya berbekas dan membuat celemek itu terlihat sangat lusuh, mungkin sudah dicuci berkali-kali.

“Dua puluh lima ribu mbak,” Tuhan kata apa yang selanjutnya harus aku ucapkan, “Dua Puluh Lima sudah tidak bisa kurang ya Buk?” Dalam hati aku mengutuki diriku, “Berani beraninya kau menawar Ih!”

Si Ibuk hanya menjawab, “Seharusnya dua puluh enam mbak,”. Aku tak akan memikirkan kata apa lagi yang harus kuucap. “Ohya bu, satu setengah kilo ya Buk.”

Sembari ibuk itu memotong-motong daging pesananku, aku hanya memperhatikan sekelilingnya, “Maaf ya aku tak sarapan duluan, sendirian ini,” kata seorang perempuan sebaya di sampingnya yang duduk tak begitu jauh, kulihat tempat nasi itu berisi nasi putih dan lauk beberapa potong, dan sayur gori (nangka).

“Iya, duluan aja gag papa buk.” Kata si Ibuk dan teman satu lagi di sampingnya. Ibuk yang duduk itu makan dengan lahap.

Allahuakbar. Ya Allah, gue pengen meledak! Gue balik lagi dengan pandangan slow motion. Apa yang terjadi dengan dunia gue?!  Kemana aja gue selama ini? Hidup dimana gue? Hidup di buminya siapa? Kemana syukur gue selama ini?

Selama ini gue banyak mengeluh ini itu, mengumpat diri sendiri seolah ujian paling berat di dunia ini Tuhan limpahin ke gue semuanya. Gila ya, ada orang-orang kayak si ibuk-ibuk ini yang sabar banget ngadepin idup. Gue gag ngebayangin kayak apa anak-anaknya di rumah, yang minta dihidupi disekolahin, dicukupin kebutuhannya. Gue salut! Ok stop slow motion nya.

Ibuk penjual daging potong ini sangat cekatan dengan pisau besarnya. Sebuah koyo persegi berwarna putih menempel di dagunya, sepertinya ibuk ini sedang sakit gigi, tak peduli dengan sakitnya itu ia terus melanjutkan memotong daging di meja kecilnya yang hanya sepetak. Aku tak ingin lagi menawar harga, biarlah kumakan ayamnya, dan ibuknya mengambil untung dari penjualan ayam itu. Aku kembali melihat sekeliling.

Tuhan, kalo gue dilahirin jadi anaknya, mau gimana gue? Bisa apa gue? Gue jadi mulai kepikiran, sebenernya sebagai siapa lo dilahirin, itu adalah keberuntungan doang. Beruntung lo dilahirin dengan keadaan orang tua berkecukupan. Atau sekarang pilihannya, kalo elo dilahirin jadi ibuk penjual daging potong itu, lo bisa apa?

Ternyata hidup gue selama ini payah!

Kemana syukur gueeee? Dikit aja cobaan gampang ngeluh. Payah!

Aku salut buk, aku salut dengan apa yang ibuk lakukan, bertahan dan terus bekerja keras dalam keadaan sesempit apapun, tak peduli berjejal dengan penjual lain, tak peduli harus sakit-sakitan dan tetap menjalankan usaha.

Salut!

Tak hanya pada si ibuk, tapi juga pada teman-temannya, yang mensyukuri makanan yang dimakannya, yang senang dengan apa yang dimakannya, yang tak sungkan berbagi dalam kesempitan. Pada orang-orang di pasar yang bekerja keras tangan daripada mulut.

Buk, Pak, semoga anak-anak bapak dan ibuk jadi orang-orang yang hebat kelak, dan tetap berbakti pada kalian, hingga ketika kalian tua nanti, tak usah lagi bekerja, biarkan mereka yang membalas jasa.

Begitupun dengan gue, semoga gue bisa segera membuat orang tua gue rehat, gag usah kerja, biar gue yang kerja.

09.25
Aku mulai menuliskan cerita di atas. Dan mengambil pelajaran, aku bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang, bahagia dan indah rasanya, dan berpesan pada adek-adekku di rumah, “Makan ayamnya dihabisin ya, kasian yang capek motong-motong.
Sekian. Maaf kali ini aku mengutip bahasamu bercerrita (“Gue”) dalam cerita kali ini, Dek.




Dedicated for: Adek Tri Nurhayati, dan Ibuk Penjual daging potong.

Jumat, 02 Mei 2014

Saya Belajar Banyak dari Diam

Kau harus banyak berhati-hati akan orang yang diam

Kau bisa lihat dari matanya,
orang-orang yang sibuk bekerja, hingga ia enggan mengeluarkan energi nya untuk bicara yang tak berguna, untuk bicara yang tak berguna. Seperti halnya orang yang berteriak keras melemahkan mental orang lain, berkata seenaknya mengejek orang lain, atau hanya sekedar membuang kata-katanya untuk mengeluh.

Kau bisa lihat dari perilakunya,
oranhg-orang yang sibuk memantaskan diri memasuki pintu idamannya (red: surga), yang menyimpan energi nya untuk berbicara dalam ketenangan, berbicara dalam keperluan, dan berbicara dalam kebermanfaatan.

Kau bisa lihat dari gerak-geriknya,
fokus yang ia gunakan adalah meng upgrade diri, dan menjaga kehormatan lisan, bila ia berkata menenangkan, dan dapat diterima semua orang, ia terjaga dari nada-nada kesombongan, tertata dalam sikap kesederhanaan walaupun ruang berfikirnya setinggi ulama terdahulu. Ia tak pandai berdalih, namun pandai mengambil pelajaran, hingga ia pun tak reaktif dengan kritik dan olokan, melainkan ia jadikan keduanya sebagai penebal keimanan.

Aku bisa melihat dari ketiganya,
apa yang tampak hebat dari luar tak sepenuhnya benar. Maka, apa yang orang-orang teriakkan sebagai sesuatu yang hebat tak berlaku baginya, tak menggiurkannya, dan tak mengalihkan pandangnya.

Aku banyak belajar darimu dhek, terimakasih banyak. Kau menjaga lisanmu, menjaga sikapmu, sederhana perilakumu, namun luar biasa ilmumu. Oh tidak aku salah, Luar biasa ilmumu, namun sederhana perilaku dan sikapmu.

Thanks a lot for this day. I'm your fans. :)

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons