Mau Belok? Riting Dulu Mas Brooo! :D PENTINGnya KOMUNIKASI!
TIPS BERKOMUNIKASI...Hidup ini seringkali dihadapkan dengan banyak pilihan, termasuk pilihan yang 'dipaksakan' dari orang-orang di sekaliling kita :) Tapi bukan berarti kita tidak boleh memiliki keinginan yang berbeda lhoo ;) Yang penting riting (beri tanda) dulu ya... Yuk baca selengkapnya...
Hati-hati dengan Sajadah Kita
Dalam solat, yang harus dirapikan dan dirapatkan itu bukan sajadahnya, tapi orangnya ^^
Sepotong Syair Rembulan
Dalam berbagai keadaan, berpuisi itu menyenangkan dan menenangkan. Mengasah kosa kata, mengasah diksi, dan juga rima. Tapi tak hanya itu, ada kepuasan batin tersendiri di dalamnya.
Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi. Wanita.
Jika akarnya kuat maka dengan sendirinya batang akan bertumbuh kuat nan anggun
Jati Diri dalam Keterpurukan
Ketika di lain waktu aku gagal, Ayahku menasihatiku,”Wahai anakku, kegagalan adalah bumbu kehidupan, kurasa kau tahu itu, tak perlu lagi aku mengajarimu, karena kau telah dewasa kini. Namun mungkin kau lupa, dan Ayah ingin mengingatkanmu. Sambutlah kegagalan dengan senyuman dan bangkitlah kejar kesuksesan!
Selasa, 10 November 2015
Apa yang Kau Cari Wahai Pejuang?
Sabtu, 17 Oktober 2015
Cerita-cerita Sertifikasi AB1 KAMMI UNY
Minggu, 06 September 2015
Santap Menu Baru (Buku)
Satu buku selesai sudah hari ini, The Cronecles of Ghazi. Berbeda dengan buku sebelumnya, Alfatih 1453, yang lebih banyak menceritakan strategi, buku Ghazi ini lebih banyak menceritakan tentang Kepemimpinan di bawah Ummat Muslim adalah kepemimpinan yang menyejahterakan dan adil. Selain itu, penekanan tazkiyatun nafsi di buku ini juga sangat kuat, menyertakan Allah dalam setiap detik dan setiap langkah kita adalah keharusan. Ya kita tahu, medan perang itu memiliki hitungan per detik, bukan lagi per menit apalagi per jam.
Kemenangan atau kekalahan adalah sama saja, karena bukan itu yg ummat islam cari, tapi bertambahnya keimanan. Menjadi percuma sebuah kemenangan ketika keimanan tak bertambah derajatnya.
Kata ustad, setiap maksiat mengurangi iman kita, dan setiap ketaatan pada Allah akan menambah iman kita.
Buku adalah lentera, kita harus mendapatkan cahaya (ilmu) dari sana. Jauhi maksiat, apapun bentuknya. Saatnya berjibaku menjadi orang taat!
Alhamdulillahirabbil'alamin. Segala keutamaan datang dari Allah.
Rabu, 19 Agustus 2015
Memulai Tarbiyah dari Awal
Aku teringat dengan kisah Ka’ab, teringat juga dengan kisah Khalid bin Walid.
Ini seperti memulai tarbiyah sedari awal. Aku seolah harus membangun diri dari 0, aku harus menegakkan bangunan yang roboh agar kembali tegak. Sedikit demi sedikit. Ya, aku menyebutnya dengan memulai tarbiyah dari awal.
Sebuah momentum besar ini, menjadi lompatan bagiku menuju dunia yang selanjutnya. Dunia dengan Ihti yang baru. Dunia dengan orang-orang baru. Dunia dengan sudut pandang baru. Aku seperti baru terlahir ke dunia.
Hal yang kemudian paling penting diperhatikan adalah hati.
Yang lain boleh dimulai dari awal, tapi hati, tidak. Ia harus pandai mengambil pelajaran, ia harus memanage semua perasaan yang telah dan pernah terjadi agar kesalahan-kesalahan sebelumnya tidak terulang. Ia harus lebih rendah dari sebelum-sebelumnya, ia harus mengurangi maksiat, ia harus menjauhi hal-hal yang mudah merangsang penyakit.
Ia pernah jatuh sebelumnya, maka ia harus stabil dalam waktu-waktu ke depan. Seharusnya ia mengambil pelajaran. Ia pernah membuat kesalahan sebelumnya, lepas kontrol, tak tertahan, maka ia harus lebih stabil ke depan. Seharusnya ia mengambil pelajaran.
Ia pun pernah sakit dan menyakiti, seharusnya ia mengambil pelajaran. Ia harus lebih rendah, rendah, dan lebih rendah dari sebelumnya. Meski segala sesuatu nya harus meninggi, ia tetap harus merendah, tugasnya adalah merendah. Kapasitas, kesehatan, pola hidup, kebahagiaan, kesemuanya harus meninggi, ayo segera kejar target, tapi hati, ia harus tetap rendah.
Aku rasa, hari-hari yang dilewati oleh Khalid dan Ka’ab bukan hari-hari yang mudah setelah momentum itu datang. Aku rasa, hari mereka adalah hari yang luar biasa, mereka pasti memiliki hati yang luar biasa rendah dan iman yang begitu tinggi.
Memulai tarbiyah dari awal, dan kuucapkan selamat datang dunia baru. Selagi aku punya Allah, segalanya telah cukup.
Selasa, 18 Agustus 2015
GURU BANGSA: Menjawab Permasalahan Dasar Indonesia
sumber gambar:
1.http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.sman2-padangpanjang.sch.id/images/Nelson-Mandela.jpg&imgrefurl=http://www.sman2-padangpanjang.sch.id/?p%3Ddetberita%26id%3D90&h=498&w=996&tbnid=y4T-p5ZljdkvnM:&docid=8MN8rA-nfdP_GM&ei=go3SVceFGIijugSuwIOYBw&tbm=isch&ved=0CE4QMygUMBRqFQoTCMfOi77AsccCFYiRjgodLuAAcw
2.http://www.google.co.id/imgres?imgurl=https://pbs.twimg.com/media/CD-Y5iIUIAAkWf8.jpg&imgrefurl=http://www.kaskus.co.id/thread/55455dbcd675d4f74d8b456a/6-fakta-menyedihkan-mengenai-pendidikan-di-indonesia&h=375&w=600&tbnid=Yw1KyLh7pCg0lM:&docid=iwDBeZ8LGCnMWM&ei=qY3SVea5BM6gugSSwYKYAw&tbm=isch&ved=0CGgQMyhGMEZqFQoTCKayxNDAsccCFU6QjgodkqAAMw
Senin, 17 Agustus 2015
Aku Melihat Keistimewaan dalam Diri Setiap Orang
Setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing, dan kini aku menjadi orang yang sangat percaya, bahwa setiap orang di samping, kanan, kiri, depan, belakang ku, adalah orang istimewa.
Rabu, 12 Agustus 2015
Menyikapi Tema OSPEK UNY 2015: Guru Bangsa
Kebingungan itu terjadi karena saya merasa bahwa OSPEK yang ada di UNY sama saja dengan OSPEK yang ada di universitas lain. Seperti tidak memiliki keistimewaan. Saat surfing tersebut, saya menemukan bahwa di salah satu kampus besar di Indonesia bagian barat, euforia nya sangat tinggi. Dan kebanggaan para mahasiswa barunya di universitas tersebut meletup-letup, banner terpasang menyambut mereka, "Selamat datang mahasiswa baru, di kampus terbaik"
Mengapa hal itu tidak juga dilakukan di UNY? Membuat mahasiswa barunya merasa memiliki rasa kepemilikan yang besar terhadap kampusnya, bangga terhadap kampusnya. Inilah UNY, kampus nya para guru, kampus nya para pendidik, kampus istimewa, maka dibutuhkan suplemen khusus bagi mahasiswa baru untuk bangga terhadap kampusnya, kampus biru. Tapi suplemen yang bagaimana? Sampai saat itu saya hanya bisa bertanya dan bertanya.
Akhirnya, tahun ini, kabar gembira terdengar di telinga, frasa hebat, frasa penuh makna, frasa yang sangat menggambarkan kampus kami tercinta, GURU BANGSA. Frasa itu langsung membius saya, ya ini kampus saya, kampus para GURU BANGSA! Saya menemukan keistimewaan UNY di OSPEK tahun ini. Meski sayang, saya tidak terlibat lagi di kepanitiaan OSPEK, tapi buat saya ini adalah kabar gembira bagi para maba UNY, suplemen awal bagi mereka untuk merasakan atmosfer kampus pendidikan ini sejak awal mereka menginjakkan kaki di kampus, sejak OSPEK. Kalian beruntung, Dik.
Selamat datang di kampus tercinta, UNY! Selamat datang para pemimpin masa depan! Selamat datang pewaris peradaban!
Dilihat dari susunan frasa "GURU BANGSA" seperti nya panitia penyelenggara memiliki maksud dan tujuan untuk OSPEK tahun 2015 ini, namun terlepas dari maksud yang mereka tuju, saya menyatakan bangga dengan frasa yang dipilih oleh panitia dan saya punya argumen tersendiri tentang susunan dua kata tersebut.
Meskipun kami berkuliah di universitas yang dulunya adalah IKIP yang kental dengan ilmu kependidikan atau ilmu keguruannya, bukan berarti seluruh yang ada di universitas kami adalah calon guru (secara profesi), karena terdapat beberapa jurusan yang notabene adalah jurusan ilmu murni (non keguruan). Untuk itu, frasa GURU BANGSA ini tidaklah bisa dimaknai secara denotasi (atau pemaknaan apa adanya). Guru di dalam frasa ini bukan menunjukkan guru sebagai profesi, namun GURU dalam frasa ini adalah GURU SEBAGAI JIWA. Setiap mahasiswa di UNY haruslah memiliki jiwa seorang GURU, seorang PENDIDIK, meskipun ia bukan berprofesi sebagai guru.
Inilah hal yang harus digaris bawahi dengan tebal oleh semua orang, makna guru sebagai jiwa, bukan sebagai profesi. Lalu bagaimana cara memaknai kata guru sebagai jiwa?
...bersambung ke:
http://ihtisyamah.blogspot.com/2015/08/guru-bangsa-menjawab-permasalahan-dasar.html
Kamis, 23 Juli 2015
Aku Ingin Menatap Wajah Kehidupan, Lekat
Hai, kehidupan.
Selama ini aku merasakan telah salah bergulat dengan hal-hal kecil bersamamu. Ternyata, ada masih banyak stok hal-hal besar yang belum aku beri perhatian.
Kemarilah, mendekat, aku ingin meminta maaf dengan tulus kepadamu. Biar kulihat wajahmu dari dekat.
Sekilas aku memperhatikan angin sejuk, mungkin aku lebih suka menirunya, di kehidupan mendatang. Biarkan mengalir, dengan usaha paling keras yang bisa kulakukan.
Cinta, adalah bahasan yang dewasa ketika ia tersimpan dengan rapi. Sedangkan ia adalah bahasan anak kecil ketika ia terumbar. Mungkin ia bukan hal sepele yang mudah saja kita singkirkan, tapi, memunculkannya di hadapan umum adalah polah kekanak kanakan... Masih terlalu banyak hal besar yang harus diprioritaskan.
Allah, terimakasih telah menghadapkan beribu wajah kehidupan di depanku. Mereka memberiku pelajaran berharga, tentang kemantapan pendirian. Berbuat baik dengan segenap usaha pada ribuan wajah kehidupan, adalah pendirian.
Aku akan bekerja keras. Sepenuh energi. Dan berbuat baik, sepenuh hati. Pada kehidupan.
Sedang kupastikan bahwa urusan di tanganku adalah urusan-urusan prioritas. Bukan urusan-urusan sepele lagi sia-sia. Segala kekuatan hanya datang dari Allah swt. Mohon kuatkan dalam keistiqomahan, Ya Kariim...
Hai, kehidupan... :) aku di hadapanmu, dan aku menantangmu. :)
Sabtu, 11 Juli 2015
Menarik, Ini tentang Teko dan Isinya
Sudah sering dengar cerita tentang teko dan isinya? Bahwa sebuah teko tidak akan bisa mengeluarkan sesuatu yang tidak ada di dalam nya. Bahwa seseorang tidak dapat memberi dengan apa yang tidak ia punya.
Ya, awalnya saya agak bosan dengan cerita tersebut, namun ternyata cerita kali ini berbeda.
Saya mendapat cerita ini dari sebuah kajian sore, di masjid Al Mujahidin UNY. Saya lupa saat itu kajian bersama ustad siapa, barangkali teman-teman ada yang ingat bisa sampaikan ke saya.
Bagi saya, ini cerita yang tidak terduga.
Para muridnya balik berteriak pada si penghujat. Mereka benar-benar marah, tidak terima ketika guru mereka dihina di hadapan banyak orang atas apa yang tidak dilakukannya. Mereka menentang hujatan si penghujat dengan teriakan yang sama kerasnya.
Namun si ulama ini tetap diam, dan justru menahan para muridnya untuk berteriak, ia menyuruh mereka juga diam.
Para murid justru bertambah marah, "Bagaimana bisa kami diam sedangkan Anda dihujat habis-habisan atas apa yang tidak Anda perbuat, terlebih di hadapan banyak orang ustad...???"
"Kenapa Anda diam saja ustad???"
Dengan tenang ustad itu menjawab, "Bukankah sebuah teko hanya mampu mengeluarkan apa yang ada di dalam nya? Dan tidak mampu mengeluarkan apa yang tidak dia punya?
Orang yang mampu menghujat adalah orang yang hati nya berisi kebencian, dipenuhi kedengkian, hingga akhirnya ia keluarkan dari mulut dalam bentuk hujatan, begitu pun orang yang marah, orang yang mampu marah adalah orang yang di dalam hatinya terdapat kemarahan, bukankah teko hanya dapat mengeluarkan isi yang ia punya di dalamnya? Biarkan saja orang-orang di sekeliling kita menunjukkan apa isi teko nya, jika yang ia punya adalah kebencian ya begitulah jadinya, kita diam saja."
Sontak seluruh muridnya terdiam, dan diam-diam mereka sangat malu. Ustad mereka tidak marah karena memang di dalam hatinya tidak terdapat kemarahan, dan mereka menyadari bahwa kemarahan yang secara refleks mereka buat saat menghadapi si penghujat menunjukkan di dalam diri mereka ada kemarahan, sedangkan Nabi Muhammad dengan sangat disiplin mengatakan, "Jangan marah, jangan marah, jangan marah, Maka bagimu surga." Nabi Muhammad mengatakan "Jangan marah " sebanyak tiga kali, itu berarti betapa pentingnya meredam kemarahan.
:::
Benar bukan, bahwa sebuah teko hanya dapat mengeluarkan isi yang ada di dalam dirinya. Baik isi yang sifatnya baik maupun isi yang sifatnya buruk.
Kalau biasanya saya mendengar cerita tentang teko dan isinya adalah tentang seseorang yang harus belajar terus menerus karena sebuah teko harus memiliki isi, agar ia bisa mentransfer isi tersebut ke gelas, ternyata "isi teko" yang dibahas kali ini di luar dugaan saya.
Benar juga ya, bahwa sebenarnya apa saja yang keluar dari dalam diri kita itu menunjukkan isi yang ada di dalam diri kita. Ini menjadi bahan evaluasi saya, sangat berharga untuk dijadikan pelajaran bagi saya.
Terimakasih banyak ustad, atas cerita luar biasa ini. :)
Mari menjadi teko yang berisi kebaikan.
Sumber gambar:
http://coachraditya.com/wp-content/uploads/2014/07/teko-dan-isinya.jpg



14.35
Ihtisyamah
Posted in: 


