Selasa, 10 November 2015

Apa yang Kau Cari Wahai Pejuang?

APA YANG KALIAN CARI WAHAI PARA PEJUANG?
(Catatan Kecil Paska Mukernas IV***)
Oleh : PakCah - KaWildWest
Setiap kali aku bertemu ikhwah wilayah dalam pertemuan nasional, hatiku begitu terharu.
Jauh-jauh mereka datang dengan segala pengurbanan. Dari berbagai wilayah yang berjauhan. Meninggalkan keluarga, pekerjaan, bisnis dan segala rutinitas lainnya.
Apa yang kalian cari wahai para pejuang?
Mereka menjalankan amanah sepenuh kesungguhan. Walau harus ada yang ketinggalan pesawat, atau terpaksa delay berjam jam dan terlantar di bandara. Semua tetap ditempuh dengan suka cita.
Datang tanpa bekal materi dan bahkan banyak yang tidak bisa memberi tinggalan bagi kebutuhan keluarga yang di rumah.
Sepenuh tawakal kepada Allah, mereka berangkat memenuhi panggilan tugas dakwah. Subhanallah.....
Apa yang kalian cari wahai para pejuang?
Membayangkan beratnya perjuangan mereka nanti sepulang acara nasional, membawa target untuk dicapai dan amanah program untuk dilaksanakan.
Luar biasa kesetiaan mereka menapaki jalan perjuangan yang penuh onak duri ini.
Apa yang kalian cari wahai para pejuang?
Tanpa terasa air mataku meleleh di pipi....
Merasa ada beban karena tak ada yang bisa kita berikan berupa sedikit bekal untuk meringankan beban mereka. Atau sedikit bekal sekedar untuk membelikan oleh-oleh bagi anak-anak mereka yang menunggu sepenuh rindu.
Ada istri yang setia menanti. Ada suami yang meridhai kepergian sang istri.
Betapa jalan perjuangan telah membuat mereka harus rela dan akrab dengan semua kesulitan rutin seperti ini.
Apa yang kalian cari wahai para pejuang?
Aku seka bulir-bulir air bening di pipiku. Kuteguhkan hati, menatap wajah mereka sebelum pergi, pulang ke wilayah kerja untuk berbakti bagi umat dan negeri.
Aku tatap wajah-wajah teguh itu. Subhanallah...
Apa yang kalian cari wahai para pejuang?
Sungguh bukan kesedihan yang aku rasakan. Namun kebanggaan.
Bukan rasa kasihan yang aku dapatkan. Namun gumpalan harapan.
Teringat pesan Kenabian yang sangat berkesan:
ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب ولا هم ولا حزن ولا أذى ولا غم حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه
"Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kegundahan, kesusahan, godaan, dan kesedihan, sampai duri yang mengenai kakinya, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya".
(Hadits Shahih Riwayat Imam Al Bukhari, dan Muslim).
Rupanya itu yang mereka cari dalam menjalani segala kesulitan dan kelelahan ini. Ampunan Allah. Itu yang mereka cari.
Bukan jabatan atau kedudukan. Bukan harta dan popularitas. Namun keridhaan Allah yang mereka cari.
"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
(QS. An Nisa' : 104).
Semakin tenang hatiku mengingat untaian ayat itu.
Kulepas mereka pergi. Pulang kembali ke wilayah kerja masing-masing untuk menggapai visi dan misi.
Air mataku masih meleleh. Namun aku tersenyum.
Esok pagi mereka mulai melaksanakan kerja besar ini. Membangun negeri dengan segala kesungguhan hati.
Ya Allah ridhai langkah kami.
Jakarta 4 Nopember 2015

Sabtu, 17 Oktober 2015

Cerita-cerita Sertifikasi AB1 KAMMI UNY



16 Oktober 2015

                     Hari ini, saya mendapati kisah yang luar biasa dari adik-adik saya persoal sertifikasi AB1. Cerita ini adalah cerita mengharukan di pagi hari saya di hari ini. Saya bangga memiliki adik-adik seperti mereka.
                Ceritanya, pagi-pagi saya membuat pesan broadcast ke peserta sertifikasi yang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti DM2. Pesannya adalah pesan seperti biasanya, hanya mengingatkan tentang sertifikasi. Selain itu saya juga mengingatkan tentang proses pendaftaran DM2, dimana ada beberapa tugas yang harus dipenuhi agar dapat dinyatakan lolos sebagai peserta DM2. Jadi ada 2 (dua) hal yang harus dilewati oleh seorang kader AB1 (Anggota Biasa 1) KAMMI untuk bisa mengikuti DM2, yaitu (1) sertifikasi (2) tugas-tugas dari KAMMDA penyelenggara DM2.
                Namun di UNY agak unik. Proses sertifikasi adalah proses yang sangat sakral. Proses yang sangat sangat dihormati oleh seluruh kadernya, dan tidak jarang proses sertifikasi ini akhirnya menjadi momok. Pasalnya, proses sertifikasi AB1 di UNY mengharuskan kadernya melewati 2 (dua) tahap, yang pertama adalah sertifikasi tulis, yang kedua adalah sertifikasi wawancara. Setelah sertifikasi tulis selesai, baru kader dapat lanjut ke sertifikasi wawancara.
                Maka dari itu, proses sertifikasi adalah proses yang panjang, dan membutuhkan effort yang lebih untuk dapat dinyatakan lulus sertifikasi. Nanti akan saya jelaskan tentang uniknya sertifikasi, kali ini akan saya ceritakan kisah haru yang saya dapati pagi ini.
                Melihat para kader yang mendaftar sertifikasi bekerja keras menjalani sertifikasi periode ini, dan setelah sekian lama sertifikasi berlangsung (bukan waktu yang sedikit), sekarang ini saya sudah sampai pada tahap “merasa kasihan” kepada mereka. Saya tahu persis bahwa mereka yang menjalani proses sertifikasi bukanlah orang-orang yang punya banyak waktu luang. Saya menjadi salah satu saksi proses sertifikasi yang mereka jalani, saksi kerja keras mereka, saksi pemenuhan komitmen dan tanggungjawab mereka. Mereka membaca buku dan membuat resume nya. Mereka harus rela melakukan wawancara di tengah-tengah kesibukan mereka, mengatur ulang kembali jadwal, menyesuaikan dengan jadwal tester. Sering pula mereka rela melakukan sertifikasi hingga tengah malam, pukul 24.00 (ikhwan). 
                Di dalam manhaj kaderisasi, departemen kaderisasi memiliki hak untuk dapat melakukan “percepatan” kader jika dirasa perlu. Pun dalam hal sertifikasi. Tim kaderisasi diperbolehkan melakukan kebijakan khusus untuk meluluskan kader-kadernya dari proses sertifikasi, dengan beberapa catatan. Saya pikir sudah saatnya saya menggunakan kebijakan khusus tersebut. UNY sedang memiliki banyak “pekerjaan”, karena momen sekarang ini adalah momentum mahasiswa baru memasuki kampus, ada banyak agenda yang dikerjakan, dan peserta sertifikasi kali ini adalah mereka-mereka yang menjadi “pekerja” nya. Maka dari itu mereka pasti sangat sibuk dan kelelahan. Ya, ini saatnya menggunakan hak istimewa, pikir saya.
                Lalu saya tawarkan kepada adik-adik saya, peserta sertifikasi. “Khusus untuk antum, antum diperbolehkan untuk fokus menggarap penugasan DM2.” Hal itu saya lakukan karena penugasan menuju DM2 sangat banyak dan tidak mudah. Tentu langkah itu diambil dengan beberapa pertimbangan dan perhitungan. Dengan hak istimewa ini mereka bisa langsung fokus pada pengerjaan tugas DM2 Sleman. Pesannya masih saya lanjutkan, “Pada tahap ini antum bisa ‘menomorduakan’ sertifikasi, tim kaderisasi akan mengusahakan jalan tol untuk antum.” Saya kira ini menjadi kabar gembira bagi mereka, saya lanjutkan kembali, “Namun, jika masih mau lanjut sertifikasi sangat tidak apa-apa.”

                Hal ini yang membuat saya terharu, saya memberikan pesan tersebut melalui PM (Private Massage), artinya tidak ada koordinasi di antara mereka. Namun, mereka serentak memberikan jawaban yang sama, meskipun dengan redaksi yang berbeda. Begini jawaban mereka, “InsyaAllah sembari lanjut (sertifikasi) ya mbak, dibarengi dengan ikhtiar.” Jawaban adik saya yang lain, “Tinggal 3 (tester) kog mbak, sante aja.”, Lalu jawaban satu adik lagi, “Hahah… Jangan memanjakan saya… Anak e tentara kog dialem.” Mereka seluruhnya memutuskan untuk melanjutkan sertifikasi sembari mengerjakan tugas DM2. Artinya mereka memilih level kesulitan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

                Ya Allah Ya Rabb, di tengah-tengah kepenatan saya, saya pernah berdo’a agar Allah memberikan kabar gembira kepada saya. Apapun kabar tersebut. Untuk mengendorkan urat-urat syaraf yang sedang tegang. Dan ini adalah kabar gembira yang membuat saya bernafas lebih lega dari sebelumnya. Mendengar jawaban mereka, saya menjadi sadar, bahwa saya telah merendahkan mereka. Ternyata mereka telah dewasa, mereka memilih pilihan mereka dengan penuh tanggung jawab. Proses panjang sertifikasi tidak mematahkan semangat mereka. Saya sempat heran, dan bertanya-tanya, bahan bakar semangat apa yang mereka gunakan. Saya senang melihat adik-adik saya bersemangat. Mereka akan naik jenjang menjadi AB2 dengan kapasitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Salut kepada mereka.
                'Beban' itu bukan beban yang ringan. Beberapa orang kalang kabut dan collapse menjalani sertifikasi. Namun mereka, membuat saya terharu dengan kerja keras dan ketulusannya.
                Proses sertifikasi semacam ini memang bukan sekedar bertujuan untuk mengetes tasqofah (pengetahuan) dan kemampuan teoritis kader saja, tapi sekaligus menguji jiddiyah kader, untuk menciptakan kader yang qowiy dan “tahan banting”.

Uniknya sertifikasi AB1 di UNY.

Ini uniknya. Ketika saya mengkomparasikan proses sertifikasi di UNY dengan kampus lain, sertifikasi di UNY terbilang unik dan “menggemaskan” bagi para kadernya. Alasannya, karena sertifikasi wawancara mengharuskan kader menemui beberapa “tester bidang” untuk dapat lulus sertifikasi. Sedangkan di kampus lain, cukup wawancara dengan 1 (satu) tester saja untuk dapat lulus sertifikasi.
Ada 7 tester bidang. Agar dapat lulus sertifikasi maka harus menemui 7 tester tersebut satu per satu, menyesuaikan jadwal tester. Jika dihitung, maka seorang kader minimal harus melakukan 7 kali pertemuan mendebarkan untuk melakukan sertifikasi wawancara. Ternyata tidak cukup di sana, jika ada tester yang merasa bahwa wawancara belum bisa dilanjutkan di pertemuan pertama karena di rasa pengetahuan peserta sertifikasi masih kurang tentang bab sertifikasinya, maka kader tersebut harus datang di pertemuan ke-dua.  Jika seluruh tester memberlakukan cara semacam itu, maka terhitung satu orang kader harus melakukan 14 kali pertemuan. Antara terharu, ingin tertawa, dan kasihan, namun sangat bangga dengan kader-kader yang bisa melewatinya.
Telebih, saya bangga memiliki adik-adik semacam mereka. Barakallah adik-adik. :) bertumbuhlah dewasa dan berkapasitas, dan yang paling penting bermanfaat untuk lingkungan sekitar sebanyak-banyaknya. Selamat berjuang. Fii sabilillah. Panggil saya jika kalian tidak menemukan saya di surga nanti ya.... Selamat berjuang fii sabilillah.


Minggu, 06 September 2015

Santap Menu Baru (Buku)

Melihat buku dengan judul yang belum pernah didengar itu sama hal nya dengan melihat makanan dengan nama aneh.

Satu buku selesai sudah hari ini, The Cronecles of Ghazi. Berbeda dengan buku sebelumnya, Alfatih 1453, yang lebih banyak menceritakan strategi, buku Ghazi ini lebih banyak menceritakan tentang Kepemimpinan di bawah Ummat Muslim adalah kepemimpinan yang menyejahterakan dan adil. Selain itu, penekanan tazkiyatun nafsi di buku ini juga sangat kuat, menyertakan Allah dalam setiap detik dan setiap langkah kita adalah keharusan. Ya kita tahu, medan perang itu memiliki hitungan per detik, bukan lagi per menit apalagi per jam.

Kemenangan atau kekalahan adalah sama saja, karena bukan itu yg ummat islam cari, tapi bertambahnya keimanan. Menjadi percuma sebuah kemenangan ketika keimanan tak bertambah derajatnya.

Kata ustad, setiap maksiat mengurangi iman kita, dan setiap ketaatan pada Allah akan menambah iman kita.

Buku adalah lentera, kita harus mendapatkan cahaya (ilmu) dari sana. Jauhi maksiat, apapun bentuknya. Saatnya berjibaku menjadi orang taat!

Alhamdulillahirabbil'alamin. Segala keutamaan datang dari Allah. 

Rabu, 19 Agustus 2015

Memulai Tarbiyah dari Awal

Ketika banyak orang bilang bahwa tarbiyah itu soal proses....

Aku teringat dengan kisah Ka’ab, teringat juga dengan kisah Khalid bin Walid.

Ini seperti memulai tarbiyah sedari awal. Aku seolah harus membangun diri dari 0, aku harus menegakkan bangunan yang roboh agar kembali tegak. Sedikit demi sedikit. Ya, aku menyebutnya dengan memulai tarbiyah dari awal.

Sebuah momentum besar ini, menjadi lompatan bagiku menuju dunia yang selanjutnya. Dunia dengan Ihti yang baru. Dunia dengan orang-orang baru. Dunia dengan sudut pandang baru. Aku seperti baru terlahir ke dunia.

Hal yang kemudian paling penting diperhatikan adalah hati.

Yang lain boleh dimulai dari awal, tapi hati, tidak. Ia harus pandai mengambil pelajaran, ia harus memanage semua perasaan yang telah dan pernah terjadi agar kesalahan-kesalahan sebelumnya tidak terulang. Ia harus lebih rendah dari sebelum-sebelumnya, ia harus mengurangi maksiat, ia harus menjauhi hal-hal yang mudah merangsang penyakit.

Ia pernah jatuh sebelumnya, maka ia harus stabil dalam waktu-waktu ke depan. Seharusnya ia mengambil pelajaran. Ia pernah membuat kesalahan sebelumnya, lepas kontrol, tak tertahan, maka ia harus lebih stabil ke depan. Seharusnya ia mengambil pelajaran.

Ia pun pernah sakit dan menyakiti, seharusnya ia mengambil pelajaran. Ia harus lebih rendah, rendah, dan lebih rendah dari sebelumnya. Meski segala sesuatu nya harus meninggi, ia tetap harus merendah, tugasnya adalah merendah. Kapasitas, kesehatan, pola hidup, kebahagiaan, kesemuanya harus meninggi, ayo segera kejar target, tapi hati, ia harus tetap rendah.

Aku rasa, hari-hari yang dilewati oleh Khalid dan Ka’ab bukan hari-hari yang mudah setelah momentum itu datang. Aku rasa, hari mereka adalah hari yang luar biasa, mereka pasti memiliki hati yang luar biasa rendah dan iman yang begitu tinggi.

Memulai tarbiyah dari awal, dan kuucapkan selamat datang dunia baru. Selagi aku punya Allah, segalanya telah cukup.

Selasa, 18 Agustus 2015

GURU BANGSA: Menjawab Permasalahan Dasar Indonesia



Bismillahirrahmanirrahim.

Ketika ada banyak lokus diskusi digelar, mendiskusikan apa permasalahan dasar Indonesia, banyak yang bersepakat dengan pendapat bahwa permasalahan dasar di Indonesia adalah PENDIDIKAN.





Membincangkan pendidikan adalah hal yang sangat menarik. Permasalahan ekonomi masyarakat Indonesia yang tidak merata, permasalahan moral anak bangsa yang tidak seharusnya, permasalahan gaya hidup yang berlebihan, permasalah korupsi di kalangan pejabat, permasalahan kesehatan masyarakat yang rendah, dan permasalahan daerah-daerah tertinggal, semua permasalahan tersebut berakar dari permasalahan pendidikan di Indonesia. Pun, permasalahan pendidikan itu sendiri bermacam-macam bentuk nya. Mulai dari permasalahan tidak meratanya kualitas pendidikan di tiap daerah, sumber daya pendidik yang belum sesuai, pendidikan yang berbatas pada pengetahuan kognitif (saja), dan permasalahan lainnya.

Namun sebelum melangkah lebih dalam, hal yang harus jauh-jauh dibuang adalah anggapan bahwa pendidikan hanya dapat dilakukan oleh badan atau lembaha formal. Jadi pendidikan yang sedang kita bincangkan sekarang bukanlah pendidikan di lembaga formal, namun pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang menjadi tanggung jawab setiap orang, pendidikan ibu ke anaknya, pendidikan ayah ke anaknya, pendidikan kakak ke adiknya, pendidikan orang dewasa ke yang lebih muda, pendidikan guru ke murid nya, pendidikan dari pemilik ilmu ke pencari ilmu. Ya...setiap orang mengemban tugas pendidikan, sesuai dengan peran masing-masing.


Ada beberapa orang tua yang “nekat” tidak menyekolahkan putera puteri nya di sekolah formal (SD, SMP, SMA) namun mendidiknya secara pribadi, dan memberikan treatment khusus, atau juga memberikan pendidikan di sekolah-sekolah non formal. Nyatanya hal-hal tersebut tidak membatasi putera-puteri mereka menjadi lebih sukses, bermoral, dan beragama dengan baik. Lembaga formal hanyalah FORMULA khusus yang menjadi upaya pemerintah Indonesia dalam menangani permasalahan pendidikan di Indonesia. Saya rasa wajar, dalam pemerintahan memang tidak mudah menangani suatu permasalahan tanpa menggunakan hal-hal yang memiliki landasan yuridis yang kuat, seperti halnya menangani permasalahan pendidikan, pemerintah memerlukan LEMBAGA fomal, berupa sekolah. Namun kembali lagi, bahwa kita akan mengembalikan pendidikan ke dalam makna yang seluas-luasnya.

Maka dari itu, anggapan bahwa GURU BANGSA hanya ditujukan kepada orang-orang yang berpofesi sebagai guru di sekolah (saja) harus kita singkirkan juga.
Menjadi guru bangsa adalah persoal jiwa. Menjadi guru bangsa adalah persoal menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Menjadi guru bangsa, bisa dilakukan oleh siapa saja. Itu mengapa menjadi guru bangsa adalah menjadi jawaban bagi permasalahan dasar Indonesia, pendidikan. Mulai sekarang kita harus menjadi pelopor perbaikan pendidikan di Indonesia, dengan menanamkan jiwa guru bangsa dalam diri kita.


Guru bangsa, ia adalah orang yang menjadi teladan bagi siapapun yang ada di samping kanan kiri dan depan belakangnya. Tiap tuturnya enak didengar dan dapat dipercaya oleh siapapun yang mendengar. Sederhananya, di sanalah poin pendidikan yang masih menjadi masalah dasar kita bisa kita selesaikan, apabila masing-masing bisa menyadari betapa penting kita memiliki karakter seorang guru bangsa. Jika masing-masing kita telah mampu menyelesaikan permasalahan dalam diri kita, lalu kita mampu menularkan ilmunya, saling belajar, kita benahi pendidikan bangsa kita bersama-sama.  Mari kita perbaiki Indonesia bersama-sama, dengan mengemban tagline GURU BANGSA, dimulai dari diri pribadi, ditularkan ke orang di kanan kiri, dan bangkit bersama, bergerak bersama, perbaiki Indonesia.

best regards, Ihtisyamah.  






sumber gambar:
1.http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.sman2-padangpanjang.sch.id/images/Nelson-Mandela.jpg&imgrefurl=http://www.sman2-padangpanjang.sch.id/?p%3Ddetberita%26id%3D90&h=498&w=996&tbnid=y4T-p5ZljdkvnM:&docid=8MN8rA-nfdP_GM&ei=go3SVceFGIijugSuwIOYBw&tbm=isch&ved=0CE4QMygUMBRqFQoTCMfOi77AsccCFYiRjgodLuAAcw
2.http://www.google.co.id/imgres?imgurl=https://pbs.twimg.com/media/CD-Y5iIUIAAkWf8.jpg&imgrefurl=http://www.kaskus.co.id/thread/55455dbcd675d4f74d8b456a/6-fakta-menyedihkan-mengenai-pendidikan-di-indonesia&h=375&w=600&tbnid=Yw1KyLh7pCg0lM:&docid=iwDBeZ8LGCnMWM&ei=qY3SVea5BM6gugSSwYKYAw&tbm=isch&ved=0CGgQMyhGMEZqFQoTCKayxNDAsccCFU6QjgodkqAAMw

Senin, 17 Agustus 2015

Aku Melihat Keistimewaan dalam Diri Setiap Orang



Dulu, aku beranggapan bahwa setiap orang harus hidup dengan caraku. Aku sekarang sadar, bahwa anggapanku salah besar. Aku seharusnya melihat dunia yang lebih besar dari dunia tempatku tinggal.

Dan...
Allah mengabulkan permintaanku itu. Akhirnya aku melihat dunia yang lebih besar. Allah memperkenalkanku pada dunia-dunia yang luar, di luar yang biasa kulihat. Akhir-akhir ini Allah memperkenalkanku pada orang-orang baru, pada suasana-suasana baru, pada hal-hal baru, pada tempat-tempat baru. Aku berusaha mencerna apa yang sedang Allah rencanakan untukku? Tapi dunia yang Allah miliki terlalu besar untuk sekedar aku terka, sedang pengetahuanku sangat kecil. Semakin aku mengetahui dunia Nya yang begitu luas, terasalah bahwa aku terlalu kerdil.

Beberapa waktu lalu Allah memberiku kesempatan untuk bicara. Dari kesempatan itu, aku mengerahkan seluruh tenaga. Dan sampai pada puncaknya, aku membuat kesalahan yang begitu besar dari kesempatan bicara yang aku punya. Aku bicara namun menyakiti banyak orang, menyakiti banyak pihak, bahkan hingga merusak tatanan yang sudah ada sebelumnya, itu adalah kesalahan besar. Baru kali ini aku menyadari bahwa kekuatan bicara dapat menimbulkan kerusakan yang luar biasa jika tak dilakukan pada tempat dan waktu yang tepat. Aku mengalami penyesalan yang dalam. Ya,,,, Allah sedang ingin menunjukkan bahwa Ia lah satu-satu nya Yang Berkuasa, Ia lah satu-satu nya pemilik kesempatan, Ia lah satu-satu nya yang berhak memberi kesempatan, dan juga yang berhak mencabut kesempatan, tidak ada satu makhluk pun yang bisa menandingi Nya.

Hal itu terjadi persis seperti bunga Mawar Kuning di depan kamarku. Mawar itu memiliki 7 kuncup yang cantik luar biasa. Semua orang yang lewat di depan kamarku meng-elu-elu-kannya. Saat aku pulang dari menginap selama dua hari, 3 kuncup sekaligus patah dari tangkainya. Ya, Allah lah yang benar-benar memiliki kekuatan atas hidup dan mati makhluk Nya, hanya Ia lah satu-satu nya. Mawar yang kukira akan tumbuh dan berkembang cantik kesemuanya, secara tiba-tiba tanpa bisa aku mengira/menerka nya, mereka patah dan mati.

Satu hal yang sangat aku syukuri adalah ketika aku masih memiliki mulut untuk bicara, dan aku harus mempergunakannya sebaik mungkin agar tidak mengulangi kesalahan sebelumnya. Sama halnya dengan kesyukuranku atas mawar kuning yang masih tersisa. Aku harus merawatnya dengan baik, agar mawar yang tersisa itu bisa bertumbuh lebih baik.

Sampai pada tahap itu....

...aku mengalami dunia yang membalik. Aku takut untuk bicara. Pada akhirnya, aku memilih untuk lebih banyak diam. Lalu saat-saat seperti inilah, Allah menunjukkan kuasa Nya yang jauh lebih dahsyat. Saat diamku, aku mengenal lebih banyak orang, karena aku lebih banyak diam maka aku menjadi orang yang lebih banyak mendengarkan, dari sanalah aku mengenali banyak orang.
Aku mendengarkan mereka bicara, aku melihat mereka bertingkah, aku memperhatikan mereka berpolah. Aku senang mengenal mereka. Lucu rasanya. Bisa melihat mereka dengan keistimewaan dan keunikan mereka masing-masing. Allah mengaruniakanku dunia yang penuh kebahagiaan dengan mengenal mereka.

Ternyata mereka semua luar biasa.

Dari ia yang aku kenal sebagai orang yang sangat tegas, berubah menjadi orang yang sangat humoris dan jahil. Bukan, itu bukan perubahan, aku yakin itu adalah sifat asli. Inilah isteimewa nya orang satu ini, ia dapat menempatkan diri nya dengan baik sesuai setting lingkungan dan suasana, ia luar biasa.

Ada pula, ia yang aku kenal sebagai orang yang kekanak-kanakan, rupanya ia adalah orang yang benar-benar kekanak-kanakan. Aku ingin tertawa memperhatikannya. Namun ia adalah orang yang ahli di bidangnya, sangat tidak mudah menyerah, dan sedikit sekali mengeluh. Inilah istimewa nya ia, ia adalah orang yang selalu berpandangan positif bagaimanapun orang lain memandangnya, ia luar biasa. 

Ada pula, ia yang sangat sabar, belum pernah aku jumpai yang lebih sabar daripadanya. Bahkan aku tak bisa menebak jalan pikirannya yang sangat mudah memaafkan orang lain yang berbuat buruk padanya. 

Setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing, dan kini aku menjadi orang yang sangat percaya, bahwa setiap orang di samping, kanan, kiri, depan, belakang ku, adalah orang istimewa. 

Mereka adalah orang-orang yang memiliki proses nya masing-masing, yang menginspirasi proses kehidupan yang akan aku jalani ke depan. Proses kehidupan mereka istimewa. Aku memperhatikannaya dengan seksama, senang mengenal mereka, sangat senang. Mungkin ke depan, Allah akan mempertemukanku dengan orang-orang lain yang luar biasa lagi, atau Allah akan membukakan mataku akan orang-orang lama yang tidak kalah luar biasa. Aku menikmati proses ini. Aku menikmati proses ku. 

Terimakasih Ya Allah, memperkenalkanku pada mereka, yang luar biasa. Terimakasih telah menunjukkan kuasa Mu, lewat pembelajaran yang luar biasa. Seakan Allah dengan sengaja membuatku jatuh, agar aku bisa mengambil pelajaran berharga, dan memulai untuk bangkit dan berdiri dengan lebih hati-hati.


Allahummanfa’na... 

Rabu, 12 Agustus 2015

Menyikapi Tema OSPEK UNY 2015: Guru Bangsa

Guru Bangsa, saya sumringah mendengar frasa tersebut. Terdengar elegan, dan penuh heroisme. Dulu, saat saya sedang surfing di internet, mencari tahu tentang OSPEK di beberapa universitas, untuk membandingkan OSPEK yang ada di UNY dan OSPEK yang ada di luar UNY, saya mengalami kebingungan.

Kebingungan itu terjadi karena saya merasa bahwa OSPEK yang ada di UNY sama saja dengan OSPEK yang ada di universitas lain. Seperti tidak memiliki keistimewaan. Saat surfing tersebut, saya menemukan bahwa di salah satu kampus besar di Indonesia bagian barat, euforia nya sangat tinggi. Dan kebanggaan para mahasiswa barunya di universitas tersebut meletup-letup, banner terpasang menyambut mereka, "Selamat datang mahasiswa baru, di kampus terbaik"

Mengapa hal itu tidak juga dilakukan di UNY? Membuat mahasiswa barunya merasa memiliki rasa kepemilikan yang besar terhadap kampusnya, bangga terhadap kampusnya. Inilah UNY, kampus nya para guru, kampus nya para pendidik, kampus istimewa, maka dibutuhkan suplemen khusus bagi mahasiswa baru untuk bangga terhadap kampusnya, kampus biru. Tapi suplemen yang bagaimana? Sampai saat itu saya hanya bisa bertanya dan bertanya.

Akhirnya, tahun ini, kabar gembira terdengar di telinga, frasa hebat, frasa penuh makna, frasa yang sangat menggambarkan kampus kami tercinta, GURU BANGSA. Frasa itu langsung membius saya, ya ini kampus saya, kampus para GURU BANGSA! Saya menemukan keistimewaan UNY di OSPEK tahun ini. Meski sayang, saya tidak terlibat lagi di kepanitiaan OSPEK, tapi buat saya ini adalah kabar gembira bagi para maba UNY, suplemen awal bagi mereka untuk merasakan atmosfer kampus pendidikan ini sejak awal mereka menginjakkan kaki di kampus, sejak OSPEK. Kalian beruntung, Dik.

Selamat datang di kampus tercinta, UNY! Selamat datang para pemimpin masa depan! Selamat datang pewaris peradaban!

Dilihat dari susunan frasa "GURU BANGSA" seperti nya panitia penyelenggara memiliki maksud dan tujuan untuk OSPEK tahun 2015 ini, namun terlepas dari maksud yang mereka tuju, saya menyatakan bangga dengan frasa yang dipilih oleh panitia dan saya punya argumen tersendiri tentang susunan dua kata tersebut.

Meskipun kami berkuliah di universitas yang dulunya adalah IKIP yang kental dengan ilmu kependidikan atau ilmu keguruannya, bukan berarti seluruh yang ada di universitas kami adalah calon guru (secara profesi), karena terdapat beberapa jurusan yang notabene adalah jurusan ilmu murni (non keguruan). Untuk itu, frasa GURU BANGSA ini tidaklah bisa dimaknai secara denotasi (atau pemaknaan apa adanya). Guru di dalam frasa ini bukan menunjukkan guru sebagai profesi, namun GURU dalam frasa ini adalah GURU SEBAGAI JIWA. Setiap mahasiswa di UNY haruslah memiliki jiwa seorang GURU, seorang PENDIDIK, meskipun ia bukan berprofesi sebagai guru.

Inilah hal yang harus digaris bawahi dengan tebal oleh semua orang, makna guru sebagai jiwa, bukan sebagai profesi. Lalu bagaimana cara memaknai kata guru sebagai jiwa?

...bersambung ke: 
http://ihtisyamah.blogspot.com/2015/08/guru-bangsa-menjawab-permasalahan-dasar.html

Kamis, 23 Juli 2015

Aku Ingin Menatap Wajah Kehidupan, Lekat

Aku ingin menatap wajah kehidupan lekat-lekat, dengan tersenyum. Dan aku ingin bercengkerama dengan wajah ceria di hadapannya.

Hai, kehidupan.
Selama ini aku merasakan telah salah bergulat dengan hal-hal kecil bersamamu. Ternyata, ada masih banyak stok hal-hal besar yang belum aku beri perhatian.

Kemarilah, mendekat, aku ingin meminta maaf dengan tulus kepadamu. Biar kulihat wajahmu dari dekat.

Sekilas aku memperhatikan angin sejuk, mungkin aku lebih suka menirunya, di kehidupan mendatang. Biarkan mengalir, dengan usaha paling keras yang bisa kulakukan.

Cinta, adalah bahasan yang dewasa ketika ia tersimpan dengan rapi. Sedangkan ia adalah bahasan anak kecil ketika ia terumbar. Mungkin ia bukan hal sepele yang mudah saja kita singkirkan, tapi, memunculkannya di hadapan umum adalah polah kekanak kanakan... Masih terlalu banyak hal besar yang harus diprioritaskan.

Allah, terimakasih telah menghadapkan beribu wajah kehidupan di depanku. Mereka memberiku pelajaran berharga, tentang kemantapan pendirian. Berbuat baik dengan segenap usaha pada ribuan wajah kehidupan, adalah pendirian.

Aku akan bekerja keras. Sepenuh energi. Dan berbuat baik, sepenuh hati. Pada kehidupan.

Sedang kupastikan bahwa urusan di tanganku adalah urusan-urusan prioritas. Bukan urusan-urusan sepele lagi sia-sia. Segala kekuatan hanya datang dari Allah swt. Mohon kuatkan dalam keistiqomahan, Ya Kariim...

Hai, kehidupan... :) aku di hadapanmu, dan aku menantangmu. :)

Sabtu, 11 Juli 2015

Menarik, Ini tentang Teko dan Isinya

Bismillah...

Sudah sering dengar cerita tentang teko dan isinya? Bahwa sebuah teko tidak akan bisa mengeluarkan sesuatu yang tidak ada di dalam nya. Bahwa seseorang tidak dapat memberi dengan apa yang tidak ia punya.

Ya, awalnya saya agak bosan dengan cerita tersebut, namun ternyata cerita kali ini berbeda.

Saya mendapat cerita ini dari sebuah kajian sore, di masjid Al Mujahidin UNY. Saya lupa saat itu kajian bersama ustad siapa, barangkali teman-teman ada yang ingat bisa sampaikan ke saya.

Bagi saya, ini cerita yang tidak terduga.

:::

Suatu saat ada seorang ulama yang dihujat oleh orang yang suka menghujat. Ulama ini diteriaki keras di hadapan banyak orang. Ia diteriaki atas hujatan yang tidak sepantasnya, bahkan cenderung kepada fitnah. Namun ulama ini diam saja. Alhasil, para muridnya lah yang geram. Para muridnya ini menahan rasa marah mereka, sebelum akhirnya terluap.

Para muridnya balik berteriak pada si penghujat. Mereka benar-benar marah, tidak terima ketika guru mereka dihina di hadapan banyak orang atas apa yang tidak dilakukannya. Mereka menentang hujatan si penghujat dengan teriakan yang sama kerasnya.

Namun si ulama ini tetap diam, dan justru menahan para muridnya untuk berteriak, ia menyuruh mereka juga diam.

Para murid justru bertambah marah, "Bagaimana bisa kami diam sedangkan Anda dihujat habis-habisan atas apa yang tidak Anda perbuat, terlebih di hadapan banyak orang ustad...???"

"Kenapa Anda diam saja ustad???"

Dengan tenang ustad itu menjawab, "Bukankah sebuah teko hanya mampu mengeluarkan apa yang ada di dalam nya? Dan tidak mampu mengeluarkan apa yang tidak dia punya?

Orang yang mampu menghujat adalah orang yang hati nya berisi kebencian, dipenuhi kedengkian, hingga akhirnya ia keluarkan dari mulut dalam bentuk hujatan, begitu pun orang yang marah, orang yang mampu marah adalah orang yang di dalam hatinya terdapat kemarahan, bukankah teko hanya dapat mengeluarkan isi yang ia punya di dalamnya? Biarkan saja orang-orang di sekeliling kita menunjukkan apa isi teko nya, jika yang ia punya adalah kebencian ya begitulah jadinya, kita diam saja."

Sontak seluruh muridnya terdiam, dan diam-diam mereka sangat malu. Ustad mereka tidak marah karena memang di dalam hatinya tidak terdapat kemarahan, dan mereka menyadari bahwa kemarahan yang secara refleks mereka buat saat menghadapi si penghujat menunjukkan di dalam diri mereka ada kemarahan, sedangkan Nabi Muhammad dengan sangat disiplin mengatakan, "Jangan marah, jangan marah, jangan marah, Maka bagimu surga." Nabi Muhammad mengatakan "Jangan marah " sebanyak tiga kali, itu berarti betapa pentingnya meredam kemarahan.
:::

Benar bukan, bahwa sebuah teko hanya dapat mengeluarkan isi yang ada di dalam dirinya. Baik isi yang sifatnya baik maupun isi yang sifatnya buruk.

Kalau biasanya saya mendengar cerita tentang teko dan isinya adalah tentang seseorang yang harus belajar terus menerus karena sebuah teko harus memiliki isi, agar ia bisa mentransfer isi tersebut ke gelas, ternyata "isi teko" yang dibahas kali ini di luar dugaan saya.

Benar juga ya, bahwa sebenarnya apa saja yang keluar dari dalam diri kita itu menunjukkan isi yang ada di dalam diri kita. Ini menjadi bahan evaluasi saya, sangat berharga untuk dijadikan pelajaran bagi saya.

Terimakasih banyak ustad, atas cerita luar biasa ini. :)

Mari menjadi teko yang berisi kebaikan.

Sidareja, 11 Juli 2015

Sumber gambar:
http://coachraditya.com/wp-content/uploads/2014/07/teko-dan-isinya.jpg

 
Design by Wordpress Templates | Bloggerized by Free Blogger Templates | Web Hosting Comparisons